Tingkatkan Kolaborasi, Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang Lakukan Benchmarking ke FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, 7 Januari 2026 — Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menerima kunjungan studi banding dari Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini berlangsung di ruang rapat lantai 2 Gedung FEB UIN Jakarta, Jalan Ibnu Sina, Ciputat, dan dihadiri oleh jajaran pimpinan, dosen, serta tim administrasi kedua institusi. Delegasi dari Universitas Muhammadiyah Malang terdiri atas Mochamad Novi Rifa’i, Arif Luqman, Azhar Muttaqin, Rahmad Hakim, Fitrian Aprilianto, Rahmi Amalia, Afifah Nur, dan Vebrina Reza, yang seluruhnya merupakan perwakilan dari Program Studi Ekonomi Syariah (EKIS) UMM. Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan kegiatan benchmarking serta memperkuat kerja sama akademik antara kedua perguruan tinggi, khususnya dalam pengembangan dan internasionalisasi program studi Ekonomi Syariah. Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UIN Jakarta, Dr. Sofyan Rizal, M.A., menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan tersebut. “Kami menyambut dengan hangat rekan-rekan dari Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang. Semoga kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk mempererat kolaborasi dan berbagi pengalaman dalam pengembangan mutu akademik di bidang ekonomi Islam,” ujar Sofyan Rizal. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Dr. Erika Amelia, Ketua Prodi Ekonomi Syariah Dr. Ali Rama, Sekretaris Prodi M. Lutfi, M.E., serta Kepala Tata Usaha Imam Thobroni, bersama beberapa dosen FEB UIN Jakarta lainnya. Sementara itu, Azhar Muttaqin, perwakilan Tim Penjaminan Mutu UMM, menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat dari pihak FEB UIN Jakarta. Ia menekankan bahwa kegiatan benchmarking ini menjadi kesempatan berharga untuk mempelajari proses dan strategi internasionalisasi program studi di lingkungan UIN Jakarta. “Kami datang untuk belajar dan berdiskusi secara langsung mengenai praktik baik yang dilakukan Prodi Ekonomi Islam di FEB UIN Jakarta, terutama terkait proses internasionalisasi dan penguatan mutu akademik. Terima kasih atas penerimaan yang luar biasa,” tutur Azhar. Kegiatan benchmarking ini diisi dengan sesi diskusi mendalam mengenai pengembangan kurikulum, penjaminan mutu internal, serta strategi kolaborasi akademik dan publikasi ilmiah. Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh semangat kolaboratif. Acara diakhiri dengan pertukaran cinderamata antara kedua institusi sebagai simbol persahabatan akademik dan komitmen untuk terus menjalin kerja sama di masa depan. Benchmarking ini diharapkan menjadi awal dari sinergi yang berkelanjutan antara Prodi Ekonomi Syariah UMM dan FEB UIN Jakarta, khususnya dalam peningkatan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat berbasis nilai-nilai Islam.

UJIAN KOMPREHENSIF TOAFL PERDANA: PBA UMM MENGUKUR KEMAHIRAN AKADEMIK MAHASISWA MENUJU TUGAS AKHIR

PBA UMM News – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan ujian komprehensif berbasis Test of Arabic as a Foreign Language (TOAFL) perdana pada Jum’at, 19 Desember 2025, bertempat di Ruang Laboratorium Pendidikan Bahasa Arab (Masjid A.R. Fachruddin Lantai 2). Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa semester VII angkatan 2022 yang tengah menyelesaikan Tugas Akhir (TA), serta menjadi salah satu syarat wajib untuk mengikuti ujian TA. Ujian komprehensif versi TOAFL ini bertujuan untuk meninjau ulang dan menguatkan pemahaman mahasiswa terhadap materi-materi perkuliahan yang telah ditempuh selama masa studi. TOAFL merupakan ujian berbasis komputer yang dirancang untuk mengukur kemahiran berbahasa Arab dalam konteks akademik bagi penutur non-native. Terdapat tiga kompetensi utama yang diujikan dalam tes ini, yakni Mahārat al-Istimā‘ yang mengukur kemampuan memahami percakapan akademik, Qawā‘id yang menilai pemahaman struktur dan kaidah bahasa Arab, serta Mahārat al-Qirā’ah yang menguji kemampuan membaca dan memahami teks akademik berbahasa Arab. Salah satu peserta ujian, Muhammad Alfaridzi dari angkatan 2022, dalam wawancara bersama tim redaksi menyampaikan bahwa ujian komprehensif ini memberinya pengalaman baru dalam memahami teori-teori bahasa Arab, khususnya bagi mahasiswa yang belum pernah mengikuti ujian TOAFL sebelumnya. Ia juga mengungkapkan bahwa persiapan dilakukan dengan mengerjakan berbagai latihan soal yang tersedia secara daring guna memperdalam pemahaman materi yang akan diujikan. Melalui pelaksanaan ujian komprehensif berbasis TOAFL ini, Program Studi PBA UMM diharapkan mampu memastikan kesiapan akademik mahasiswa sebelum memasuki tahap akhir penyelesaian studi, sekaligus memperkuat kompetensi kebahasaan para mahasiswa secara berkelanjutan. [NS & ATy]

LAB SYARIAH HKI UMM ADAKAN PLKH II DIGITAL MARKETING FOR LAW FIRM BAGI MAHASISWA REGULER HKI ANGKATAN 2022

Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi praktis mahasiswa melalui penyelenggaraan Pendidikan dan Latihan Kemahiran Hukum II (PLKH III) bertema “Digital Marketing for Law Firm”. Kegiatan ini diperuntukkan khusus bagi mahasiswa reguler HKI angkatan 2022 sebagai bekal menghadapi tantangan dunia hukum yang semakin digital dan kompetitif. PLKH II ini dirancang untuk menjawab kebutuhan lulusan hukum yang tidak hanya unggul dalam penguasaan teori dan regulasi, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi dan strategi pemasaran jasa hukum. Di era digital saat ini, firma hukum dituntut mampu membangun citra profesional, menjangkau klien secara luas, serta menyampaikan layanan hukum secara efektif melalui berbagai platform digital. Oleh karena itu, digital marketing menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki calon praktisi hukum. Materi pelatihan dalam PLKH II ini disusun secara komprehensif dan aplikatif, mencakup tiga pilar utama, yaitu desain grafis, fotografi dan videografi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam produksi konten hukum. Setiap materi tidak hanya diberikan secara teoritis, tetapi juga dilengkapi dengan sesi praktik intensif agar peserta mampu langsung mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh. Pada sesi desain grafis, mahasiswa dibekali pemahaman mengenai prinsip dasar desain visual, seperti kontras, keseimbangan, grid, spacing, serta harmonisasi warna. Selain itu, peserta juga mempelajari hierarki tipografi agar pesan hukum dapat disampaikan secara jelas, menarik, dan mudah dipahami oleh publik. Pelatihan ini mengenalkan penggunaan aplikasi desain populer seperti Canva dan CorelDRAW, termasuk teknik menyiapkan desain yang sesuai standar unggahan media sosial dan kebutuhan promosi firma hukum. Sesi berikutnya difokuskan pada fotografi dan videografi sebagai bagian dari visual storytelling. Mahasiswa dilatih memahami teknik pengambilan gambar menggunakan perangkat sederhana seperti kamera ponsel, namun tetap menghasilkan visual yang profesional. Materi meliputi komposisi, jenis shot, pencahayaan, hingga teknik pengambilan video yang mendukung narasi hukum. Peserta juga mempraktikkan proses editing cepat menggunakan aplikasi pendukung agar mampu menghasilkan konten foto dan video yang siap dipublikasikan di platform digital. Tidak kalah penting, PLKH II ini juga membekali mahasiswa dengan keterampilan pemanfaatan AI dalam pembuatan konten digital. Peserta dikenalkan pada peran AI sebagai asisten kreatif dalam membantu penyusunan ide, penulisan caption, scripting video, hingga optimalisasi desain dan editing. Selain aspek teknis, pelatihan ini menekankan pentingnya etika penggunaan AI, khususnya terkait transparansi, hak cipta, dan keaslian karya, agar mahasiswa tetap menjunjung tinggi nilai profesionalisme dan integritas hukum. Melalui rangkaian PLKH II ini, Laboratorium Syariah HKI UMM berharap mahasiswa angkatan 2022 mampu memiliki nilai tambah sebagai calon sarjana hukum keluarga Islam yang tidak hanya memahami substansi hukum, tetapi juga cakap dalam membangun personal branding dan branding lembaga hukum secara digital. Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah strategis Prodi HKI UMM dalam menyiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman, berdaya saing, dan siap berkiprah di dunia praktik hukum modern. Dengan terselenggaranya PLKH III Digital Marketing for Law Firm ini, Prodi HKI UMM menegaskan perannya sebagai program studi yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada penguatan kompetensi mahasiswa secara holistik, baik dari sisi akademik maupun keterampilan praktis.(NM)

Perkuat Kolaborasi Akademik, Prodi Ekonomi Syariah UMM Lakukan Benchmarking ke FEB UMJ

Jakarta, 7 Januari 2026 — Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menerima kunjungan benchmarking dari Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi akademik antar perguruan tinggi Muhammadiyah serta memperluas kerja sama dalam pengembangan kurikulum, penelitian, dan internasionalisasi program studi. Rombongan dari Universitas Muhammadiyah Malang dipimpin oleh Mochamad Novi Rifa’i, didampingi oleh tim dosen dan tenaga kependidikan, yakni Arif Luqman, Azhar Muttaqin, Rahmad Hakim, Fitrian Aprilianto, Rahmi Amalia, Afifah Nur, dan Vebrina Reza. Kegiatan berlangsung di ruang rapat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMJ dan disambut hangat oleh jajaran pimpinan FEB UMJ. Dalam sambutannya, Dekan FEB UMJ, Dr. Abdul Mujib, M.M., menyampaikan apresiasi atas kunjungan tim dari UMM yang dinilai sebagai langkah strategis untuk mempererat jejaring akademik antar kampus Muhammadiyah. “Kami menyambut baik inisiatif Prodi Ekonomi Syariah UMM yang datang untuk melakukan benchmarking. Kegiatan ini sangat penting sebagai wadah berbagi praktik baik antar perguruan tinggi Muhammadiyah dalam upaya memperkuat mutu dan daya saing pendidikan ekonomi syariah di Indonesia,” ujar Dr. Abdul Mujib. Sementara itu, perwakilan dari UMM, Azhar Muttaqin, menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari pihak UMJ. Ia menuturkan bahwa kunjungan ini difokuskan pada pembelajaran terkait sistem penjaminan mutu, pengelolaan kurikulum, dan strategi internasionalisasi program studi yang telah diterapkan di UMJ. “Kami datang untuk belajar dari pengalaman Prodi Ekis UMJ yang telah memiliki banyak inovasi dalam tata kelola akademik dan kerja sama internasional. Kami berharap hasil benchmarking ini dapat memperkaya strategi pengembangan di kampus kami,” ungkapnya. Kegiatan benchmarking ini diisi dengan sesi diskusi interaktif terkait pengelolaan program studi, implementasi Outcome-Based Education (OBE), serta strategi penguatan peran perguruan tinggi Muhammadiyah dalam pengembangan ekonomi syariah nasional. Suasana acara berlangsung penuh antusiasme dan semangat kolaborasi. Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan pertukaran cinderamata sebagai simbol persaudaraan dan komitmen untuk menjalin kerja sama berkelanjutan antar kedua perguruan tinggi. Melalui kegiatan ini, Prodi Ekonomi Syariah UMM dan UMJ berharap dapat terus memperkuat kolaborasi akademik, memperluas jejaring riset, serta bersama-sama mendorong kemajuan pendidikan ekonomi syariah yang unggul dan berdaya saing global.

HMPS PBA UMM & EL-KAFFAH CENTER, GELAR SEMINAR STRATEGI PRESTASI KEBAHASAARABAN

PBA UMM News – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Seminar El-Kaffah Center pada Jum’at, 2 Januari 2026, bertempat di Aula GKB 5 UMM, pukul 07.30–11.30 WIB. Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi strategis dengan El-Kaffah Center, sebuah lembaga pelatihan bahasa Arab yang berfokus pada studi kebahasaan, kitabiyyah, serta pembinaan perlombaan kebahasaaraban. Seminar ini diikuti secara wajib oleh seluruh mahasiswa aktif PBA angkatan 2023, 2024, dan 2025, sebagai bagian dari penguatan kompetensi akademik dan nonakademik mahasiswa. Adapun fokus utama kegiatan ini meliputi pembinaan dan strategi perlombaan di bidang kebahasaaraban, seperti Debat Bahasa Arab, Khitobah (Pidato Bahasa Arab), Taqdimul Qishoh, Syi’ir (Puisi Bahasa Arab), serta MQK (Musabaqoh Qiroatul Kutub)/Lomba Baca Kitab. Kegiatan dibuka dengan khidmat oleh Kaprodi PBA UMM, Mochammad Firdaus, B.Ed., M.Ed., yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya kesiapan mahasiswa PBA UMM untuk tampil unggul dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional, tidak hanya melalui penguasaan teori, tetapi juga melalui pembinaan yang terarah dan berkelanjutan. Seminar ini menghadirkan empat narasumber inspiratif dari El-Kaffah Syiar, yakni Gus Achmad Fahmi Alwan, S.Pd., Direktur El-Kaffah Center sekaligus peraih 37 kejuaraan nasional–ASEAN dalam bidang Khitobah dan Debat Bahasa Arab. Turut hadir Toriq Syagil Birri, peraih 50 kejuaraan nasional–internasional pada perlombaan Khitobah; Marshall Ilmie El Azyzie, seorang penulis buku nasional; serta Nadine Alfi Aulia, peraih 4 kejuaraan nasional dalam bidang Baca Kitab. Pada sesi seminar, para pemateri menyampaikan berbagai strategi persiapan lomba, mulai dari tahap pra-kompetisi hingga pelaksanaan di arena lomba. Penyampaian materi yang komunikatif, penuh semangat, dan sarat pengalaman praktis membuat suasana seminar berlangsung hidup. Antusiasme peserta terlihat jelas dari kesungguhan mahasiswa PBA dalam menyimak, mencatat, serta berdiskusi aktif sepanjang kegiatan. Melalui Seminar El-Kaffah Center ini, diharapkan mahasiswa PBA UMM tidak hanya termotivasi untuk berprestasi, tetapi juga memiliki bekal strategis, mental juara, dan kepercayaan diri untuk mengharumkan nama Program Studi Pendidikan Bahasa Arab dan Universitas Muhammadiyah Malang di berbagai ajang kebahasaaraban. [NS & ATy]

Lagi, Peserta COE Corporate Law School Batch II Prodi HKI diterima Kerja sebelum Lulus

Perjalanan karier seorang mahasiswa sering kali menjadi cerminan bagaimana proses akademik mampu membentuk kesiapan menghadapi dunia profesional. Hal inilah yang tergambar dari kiprah Agid Yukafi atau kerap akrab dipanggil yuke, mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang, yang kini telah berkiprah sebagai staf di Maven IP Consultant, sebuah firma konsultan yang bergerak di bidang kekayaan intelektual. Bagi Yuke, pencapaiannya saat ini bukanlah hasil yang diraih secara instan. Ketertarikannya pada dunia hukum bisnis dan kekayaan intelektual telah tumbuh sejak masa perkuliahan. Meski berlatar belakang Hukum Keluarga Islam, ia melihat bahwa ilmu hukum memiliki irisan yang luas dengan kebutuhan dunia korporasi. Ketertarikan tersebut kemudian ia asah melalui proses pembelajaran di kelas, diskusi akademik, hingga keikutsertaannya dalam berbagai seminar dan pelatihan yang relevan dengan isu hukum kontemporer. Lebih dari sekadar penguasaan materi, Agid menekankan pentingnya membangun mindset profesional sejak masih menjadi mahasiswa. Disiplin, kemampuan komunikasi, serta kemauan untuk terus belajar menjadi bekal utama yang ia siapkan. Ketika kesempatan bergabung dengan Maven IP Consultant datang, ia memaknainya bukan hanya sebagai peluang kerja, tetapi juga sebagai ruang belajar untuk mengimplementasikan ilmu HKI dalam praktik hukum nyata. Dalam menjalani pekerjaannya di dunia korporasi, Agid merasakan secara langsung manfaat kompetensi yang diperoleh dari Prodi HKI UMM. Pemahaman dasar Hukum Keluarga Islam yang dipadukan dengan pendekatan hukum positif, kemampuan analisis kasus, serta keterampilan membaca dan menyusun dokumen hukum menjadi fondasi yang sangat membantu. Selain itu, proses akademik di HKI UMM juga melatih mahasiswa untuk berpikir sistematis, kritis, dan menjunjung tinggi etika—nilai-nilai yang krusial dalam lingkungan kerja profesional. Tak kalah penting, soft skill seperti kerja tim, komunikasi efektif, dan rasa tanggung jawab turut berperan besar dalam menunjang kinerja di lingkungan korporasi yang menuntut ketelitian dan profesionalisme tinggi. Menurut Agid, kemampuan ini sering kali menjadi pembeda antara lulusan yang siap kerja dan yang masih perlu banyak beradaptasi. Di Maven IP Consultant, Agid kerap berhadapan dengan klien serta dokumen yang memiliki dimensi internasional, khususnya terkait regulasi dan perlindungan kekayaan intelektual. Tantangan ini menuntut ketelitian ekstra serta pemahaman terhadap regulasi global yang terus berkembang. Untuk menghadapinya, ia aktif mempelajari referensi internasional, memahami standar hukum lintas negara, dan berdiskusi dengan rekan kerja yang lebih berpengalaman. Baginya, kemauan untuk terus belajar menjadi kunci agar mampu beradaptasi dengan kompleksitas hukum internasional. Menurut Yuke, di era globalisasi saat ini, seorang lawyer tidak cukup hanya menguasai hukum nasional. Kemampuan bahasa asing, terutama Bahasa Inggris, menjadi kebutuhan mendasar. Selain itu, literasi hukum internasional, pemahaman standar compliance, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan regulasi global merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki oleh praktisi hukum masa kini. Ia juga menilai bahwa lulusan Center of Excellence (CoE) HKI UMM memiliki peluang besar untuk bersaing di lingkungan kerja berstandar internasional. Pengayaan kompetensi, pendekatan praktik, serta wawasan korporasi yang diperoleh selama masa studi menjadi modal awal yang kuat. Dengan terus mengasah kemampuan teknis hukum, memperkuat penguasaan bahasa asing, dan membangun jejaring profesional, lulusan CoE HKI dinilai mampu berkontribusi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Menutup refleksinya, Yuke berpesan kepada mahasiswa HKI UMM agar tidak ragu bermimpi besar. Persiapan karier, menurutnya, harus dimulai sejak dini dengan memaksimalkan proses belajar di bangku kuliah. Keberanian mencoba hal baru, pengembangan hard skill dan soft skill, serta kesiapan mental dan etika profesional menjadi kunci untuk menembus dunia korporasi dan internasional. Dunia kerja, pada akhirnya, membutuhkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap berkembang dan memberi kontribusi nyata. (nm)

Rapat Tinjauan Manajemen FAI Bahas Capaian Program, Penguatan BTQ, dan Etika Pengelolaan Dana Donasi

Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) pada Selasa, 7 Januari 2025. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja fakultas sepanjang tahun berjalan sekaligus merumuskan langkah penguatan mutu layanan akademik dan non-akademik ke depan. Rapat dihadiri oleh pimpinan fakultas, unsur manajemen, serta pihak terkait yang terlibat dalam pengelolaan dan pelaksanaan program FAI. Dalam rapat tersebut, Dekan FAI menegaskan bahwa RTM merupakan bagian penting dari siklus penjaminan mutu fakultas. Melalui forum ini, seluruh capaian program dapat dievaluasi secara komprehensif, baik dari aspek keberhasilan, kendala, maupun tindak lanjut yang perlu dilakukan. “Rapat ini bukan sekadar laporan administratif, tetapi menjadi sarana refleksi bersama agar FAI terus bergerak menuju tata kelola yang lebih baik dan berkelanjutan,” ujarnya. Salah satu agenda utama dalam RTM adalah pemaparan laporan kegiatan oleh bidang MDKM. Dalam laporannya disampaikan bahwa secara umum seluruh program yang telah direncanakan dapat terlaksana, meskipun dalam implementasinya terdapat dinamika dan fluktuasi di lapangan. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, namun tidak mengurangi komitmen fakultas untuk tetap menjalankan program sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Bidang MDKM juga melaporkan sejumlah kegiatan sosial dan pengabdian yang telah dilaksanakan, antara lain pembangunan baru dan renovasi mushola, pembuatan dan perbaikan sumur, serta penyaluran bantuan sembako kepada masyarakat. Program-program tersebut merupakan wujud nyata kepedulian FAI terhadap lingkungan sekitar sekaligus implementasi nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, disampaikan pula adanya kontribusi langsung kepada mahasiswa, khususnya dalam bentuk perhatian dan perawatan terhadap beberapa mahasiswa yang membutuhkan pendampingan khusus. Langkah ini diapresiasi sebagai bagian dari upaya fakultas dalam menghadirkan lingkungan akademik yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada aspek kemanusiaan dan kesejahteraan mahasiswa. Dalam bidang akademik dan penguatan kompetensi keislaman, program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) menjadi salah satu fokus pembahasan penting. Disampaikan bahwa BTQ bagi mahasiswa FAI telah dilaksanakan melalui berbagai skema, mulai dari workshop hingga pendampingan berkelanjutan. Program ini telah berjalan untuk mahasiswa angkatan 2022, 2023, dan 2024, dengan hasil yang cukup signifikan. Namun demikian, hasil evaluasi menunjukkan bahwa masih terdapat sekitar 16 mahasiswa yang perlu mendapatkan pendampingan ulang agar mampu memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. Di FAI, program BTQ memiliki pengkhususan pada aspek hafalan Al-Qur’an, dengan nilai minimal kelulusan yang ditetapkan sebesar 75. Standar ini diberlakukan sebagai bentuk komitmen fakultas dalam menjaga kualitas lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi keislaman yang baik. Ke depan, program BTQ akan diperkuat dan mulai diterapkan secara lebih sistematis pada semester genap tahun akademik 2025–2026. Penguatan ini diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih merata bagi seluruh mahasiswa FAI, sekaligus meminimalisasi jumlah mahasiswa yang harus mengikuti pendampingan ulang. Dalam RTM tersebut juga dibahas terkait pengelolaan dana donasi yang bersumber dari luar negeri, khususnya dari negara-negara Arab. Pimpinan fakultas menegaskan bahwa dana donasi tersebut harus dikelola dengan penuh kehati-hatian dan mematuhi etika serta ketentuan yang berlaku. Disampaikan secara tegas bahwa donasi dari Arab tidak diperkenankan untuk dipublikasikan atau diunggah ke media, karena hal tersebut dapat menimbulkan konsekuensi serius, termasuk risiko pemblokiran atau blacklist oleh pihak perbankan di negara donor. Penegasan ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pengelola program agar lebih bijak dalam menyikapi transparansi publik, tanpa mengabaikan etika dan aturan yang telah ditetapkan oleh pihak donor. Fakultas tetap berkomitmen menjaga akuntabilitas internal, namun dengan tetap menghormati ketentuan yang berlaku secara internasional. Melalui Rapat Tinjauan Manajemen ini, Fakultas Agama Islam UMM berharap dapat terus meningkatkan kualitas tata kelola, penguatan program keislaman, serta kepedulian sosial yang menjadi ciri khas fakultas. Hasil RTM akan menjadi dasar perbaikan dan pengembangan program ke depan, demi terwujudnya FAI yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing.

FAI UMM Perkuat Profesionalitas Tendik dan Komitmen Kemuhammadiyahan melalui Rapat Koordinasi Dekanat

  Malang – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Dekanat bersama Tenaga Kependidikan (Tendik) yang terdiri dari staf Tata Usaha (TU), Instruktur, dan Laboran. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya strategis FAI UMM dalam mendukung program universitas, khususnya peningkatan profesionalitas tenaga kependidikan serta penguatan komitmen kemuhammadiyahan. Rapat koordinasi tersebut dihadiri oleh jajaran dekanat FAI UMM, yakni Dekan FAI UMM Dr. Imamul Hakim, M.Sh., Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kerja Sama Muhammad Arif Zuhri, Lc., M.HI., serta Wakil Dekan II Bidang Keuangan, SDM, dan Umum Dr. Muhammad Fadli, M.Pd. Seluruh tenaga kependidikan FAI UMM mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias sebagai bentuk komitmen bersama untuk meningkatkan mutu layanan fakultas. Dalam sambutannya, Dr. Imamul Hakim, M.Sh. menegaskan bahwa tenaga kependidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung keberhasilan penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi. Menurutnya, profesionalitas tendik harus terus ditingkatkan seiring dengan tuntutan mutu pendidikan tinggi yang semakin dinamis dan kompetitif. “Tenaga kependidikan bukan hanya pelaksana teknis, tetapi juga mitra strategis dalam mewujudkan visi dan misi FAI UMM,” ujarnya. Lebih lanjut, Dekan FAI UMM menyampaikan bahwa peningkatan kualitas pelayanan harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai kemuhammadiyahan. Nilai tersebut tercermin dalam etos kerja yang amanah, disiplin, jujur, serta berorientasi pada kemaslahatan. Ia juga mendorong tenaga kependidikan untuk terus meningkatkan kapasitas diri, terutama dalam penguasaan bahasa asing sebagai bagian dari kesiapan menghadapi internasionalisasi perguruan tinggi. Selain itu, penguatan manajemen arsip digital dinilai menjadi kebutuhan penting untuk menciptakan pelayanan yang lebih efektif, efisien, dan akuntabel. “Pelayanan yang baik akan berdampak langsung pada mutu akademik dan implementasi kurikulum. Ketika layanan administrasi berjalan rapi, cepat, dan profesional, maka proses pembelajaran dan pengembangan akademik juga akan semakin optimal,” tambahnya. Sementara itu, Wakil Dekan II FAI UMM, Dr. Muhammad Fadli, M.Pd., dalam arahannya menekankan pentingnya kedisiplinan jam operasional kerja, penerapan prinsip service excellence, serta penguatan komunikasi kepanitiaan terpadu. Menurutnya, pelayanan prima harus menjadi budaya bersama yang diterapkan secara konsisten oleh seluruh tenaga kependidikan. “Service excellence bukan hanya soal melayani dengan ramah, tetapi juga tentang ketepatan waktu, kejelasan informasi, dan kemampuan berkomunikasi secara profesional,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi yang baik dalam setiap kegiatan kepanitiaan fakultas agar seluruh program dapat berjalan efektif dan terintegrasi. Dengan komunikasi yang terpadu, potensi miskomunikasi dan kesalahan teknis dapat diminimalkan. Di sisi lain, Wakil Dekan I FAI UMM, Muhammad Arif Zuhri, Lc., M.HI., menyampaikan pentingnya penguatan sistem administrasi akademik yang tertib dan akuntabel. Ia menekankan perlunya penerapan prinsip cross check serta check and balances dalam setiap proses administrasi, baik yang berkaitan dengan akademik, kemahasiswaan, maupun kegiatan pendukung lainnya. “Ketelitian administrasi adalah fondasi utama dalam menjaga mutu akademik. Dengan adanya cross check dan check and balances, kita dapat meminimalisasi kesalahan serta memastikan setiap proses berjalan sesuai prosedur,” tegasnya. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara tenaga kependidikan dan dosen agar seluruh layanan akademik dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Rapat koordinasi ini menjadi momentum penting bagi FAI UMM untuk melakukan konsolidasi internal dan menyamakan persepsi terkait peningkatan mutu layanan. Melalui penguatan profesionalitas tenaga kependidikan, penguasaan kompetensi pendukung, serta internalisasi nilai-nilai kemuhammadiyahan, FAI UMM optimistis dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan dan mutu kurikulum. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen pelayanan prima, FAI UMM bertekad untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi Universitas Muhammadiyah Malang serta menghadirkan layanan pendidikan Islam yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter.

Optimalkan Serapan Anggaran dan Kinerja, BPI UMM Lakukan Monitoring dan Evaluasi di Fakultas Agama Islam

MALANG – Sebagai upaya menjaga kualitas tata kelola organisasi dan akuntabilitas keuangan, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar agenda Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Kerja pada Jumat, 19 Desember 2025. Kegiatan ini dilakukan secara intensif oleh tim dari Badan Pengendalian Internal (BPI) UMM terhadap Unit Unit Pengelola Program Studi (UPPS) serta empat Program Studi yang ada di bawah naungan FAI. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang FAI ini dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, mulai dari Dekan, para Wakil Dekan, Ketua Program Studi (Kaprodi), Sekretaris Program Studi (Sekprodi), hingga Bendahara Fakultas dan unit-unit program terkait lainnya. Menjaga Akuntabilitas dan Kualitas Acara diawali dengan sambutan hangat dari Dekan FAI UMM, Dr. Imamul Hakim, M.Sh. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa agenda Monev bukanlah sekadar rutinitas administratif, melainkan instrumen vital untuk memastikan bahwa visi dan misi fakultas diterjemahkan dengan baik melalui program kerja yang nyata. “Monev ini adalah cermin bagi kita semua di FAI. Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang dianggarkan benar-benar memberikan dampak pada peningkatan kualitas akademik dan layanan kepada mahasiswa. Sinergi antara UPPS dan empat prodi kita—Hukum Keluarga Islam (HKI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), dan Ekonomi Syariah (Eksya)—harus tetap solid agar target fakultas tercapai,” ujar Dr. Imamul. Beliau juga menambahkan bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah kunci utama dalam mempertahankan kepercayaan pemangku kepentingan (stakeholders) terhadap FAI UMM sebagai lembaga pendidikan Islam yang unggul. Fokus BPI: Serapan Dana dan Target Capaian Tim dari Badan Pengendalian Internal (BPI) UMM yang hadir pada kesempatan tersebut memberikan penjelasan detail mengenai parameter evaluasi. Fokus utama dalam Monev kali ini mencakup dua aspek besar: pertama, efektivitas pelaksanaan program kerja yang telah direncanakan di awal tahun anggaran. Kedua, ketepatan serta maksimalisasi penyerapan dana pada setiap kegiatan yang telah dilaksanakan. Perwakilan tim BPI menjelaskan bahwa serapan dana yang maksimal harus diiringi dengan bukti fisik dan laporan pertanggungjawaban yang sesuai dengan prosedur universitas. BPI bertindak sebagai mitra strategis bagi FAI untuk mengidentifikasi kendala apa saja yang dihadapi prodi di lapangan, sehingga target-target yang belum tercapai dapat segera dicarikan solusinya pada periode berikutnya. Evaluasi dilakukan secara mendetail pada masing-masing prodi. Kaprodi dan Sekprodi memaparkan laporan capaian kinerja mereka, mulai dari penyelenggaraan seminar internasional, pengabdian masyarakat, hingga pengembangan kurikulum berbasis industri. Sementara itu, para bendahara prodi mendampingi dengan data administratif untuk memastikan tidak ada ketimpangan antara rencana anggaran dan realisasi di lapangan. Kolaborasi Struktural demi Kemajuan FAI Diskusi dalam Monev berlangsung sangat dinamis. Seluruh struktural FAI menunjukkan komitmennya untuk terbuka terhadap masukan dari tim BPI. Kehadiran lengkap dari unsur pimpinan hingga pengelola keuangan menunjukkan keseriusan FAI dalam mematuhi standar prosedur operasional yang ditetapkan oleh universitas. Pihak fakultas menyadari bahwa dinamika kegiatan kampus seringkali menghadapi tantangan tak terduga. Namun, melalui monitoring berkala ini, setiap hambatan dapat didokumentasikan dan dijadikan bahan evaluasi untuk penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB) tahun mendatang agar lebih presisi. Langkah Menuju Tata Kelola Kelas Dunia Kegiatan Monev ini diakhiri dengan penyerahan draf catatan evaluasi dari BPI kepada pihak fakultas. Hasil dari pertemuan ini akan menjadi basis data penting bagi FAI UMM untuk terus berinovasi. Dengan serapan dana yang optimal dan program kerja yang terlaksana 100 persen, FAI optimis dapat terus meningkatkan akreditasi prodi menuju unggul dan internasional. Melalui pengawasan internal yang ketat dan profesional dari BPI, Fakultas Agama Islam UMM membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dalam hal amanah dan profesionalisme benar-benar diterapkan dalam sistem manajemen pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang.

Menyingkap Rahasia Langit: Keseruan Mahasiswa HKI FAI UMM dalam Praktikum Ilmu Falak dan Penentuan Hilal

MALANG – Di bawah langit cerah yang memayungi Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekelompok mahasiswa tampak antusias mengerumuni perangkat teleskop dan teodolit. Bukan sekadar rekreasi, para mahasiswa dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam (FAI) ini tengah menjalani praktikum Ilmu Falak—sebuah disiplin ilmu yang memadukan dalil agama dengan ketelitian astronomi. Praktikum ini menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan. Dipandu langsung oleh dosen pakar, Drs. Muhammad Sarif, serta didampingi oleh Asisten Dosen, Muhammad Syamsu Alam Darajad, M.A., para mahasiswa diajak untuk mempraktikkan teori yang selama ini hanya mereka temui di dalam buku teks ke dalam fenomena alam yang nyata. Memburu Hilal: Bekal Menentukan Hari Besar Islam Fokus utama dari praktikum ini adalah pembekalan kemampuan observasi benda langit, khususnya dalam pengamatan hilal (bulan sabit muda). Kemampuan ini dianggap krusial bagi mahasiswa HKI, mengingat penentuan awal bulan Ramadan, 1 Syawal (Idul Fitri), dan 1 Dzulhijjah sangat bergantung pada akurasi pengamatan bulan baru dalam kalender Hijriyah. “Mahasiswa Hukum Keluarga Islam tidak hanya dituntut memahami hukum fikihnya saja, tetapi juga harus menguasai instrumen sainsnya. Bagaimana mereka bisa memberikan fatwa atau keputusan hukum yang tepat mengenai awal bulan jika mereka tidak paham bagaimana data astronomi itu diambil di lapangan?” ujar Drs. Muhammad Sarif di sela-sela bimbingannya. Dalam praktikum ini, mahasiswa diajarkan cara menghitung posisi bulan (hisab) dan kemudian membuktikannya melalui observasi langsung (rukyat). Mereka belajar menggunakan perangkat optik modern untuk melacak keberadaan bulan yang sering kali sangat tipis dan sulit dilihat dengan mata telanjang. Pengalaman “berburu” hilal ini memberikan sensasi tersendiri bagi mahasiswa, menciptakan kedekatan spiritual sekaligus intelektual terhadap kebesaran penciptaan alam semesta. Presisi Arah Kiblat: Akurasi dalam Beribadah Selain pengamatan benda langit, praktikum Ilmu Falak ini juga membekali mahasiswa dengan tata cara pengukuran arah kiblat yang presisi. Hal ini merupakan kompetensi wajib bagi calon praktisi hukum Islam, karena di masyarakat nanti, mereka sering kali diminta bantuan untuk memverifikasi arah kiblat masjid atau pemakaman. Muhammad Syamsu Alam Darajad, M.A., menjelaskan bahwa penggunaan kompas saja sering kali tidak cukup karena adanya deklinasi magnetik. Oleh karena itu, mahasiswa diajarkan menggunakan metode Rashdul Qiblat (memanfaatkan posisi matahari) serta penggunaan alat bantu teodolit untuk mendapatkan derajat keakuratan yang maksimal. “Kami ingin mahasiswa kami mandiri. Saat mereka terjun ke masyarakat nanti, mereka memiliki kepercayaan diri untuk menentukan arah kiblat yang sesuai secara syar’i dan saintifik. Ini adalah bentuk pengabdian nyata ilmu agama yang berbasis data,” tambah Syamsu. Antusiasme Mahasiswa HKI Suasana praktikum terasa hidup dan interaktif. Mahasiswa Prodi HKI tampak tidak canggung meskipun harus berhadapan dengan rumus-rumus trigonometri bola yang rumit. Bagi mereka, kerumitan itu terbayar lunas ketika mereka berhasil membidik objek langit atau menemukan titik koordinat yang tepat melalui lensa teleskop. Salah satu mahasiswa peserta praktikum mengungkapkan kegembiraannya. “Belajar Ilmu Falak di FAI UMM itu seru banget! Biasanya kita cuma baca teori soal posisi matahari dan bulan, tapi di sini kita pegang alatnya langsung. Jadi lebih paham kenapa penentuan awal Ramadan itu bisa berbeda-beda, dan betapa pentingnya akurasi dalam menentukan arah kiblat,” ujarnya penuh semangat. Praktikum ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memahami keragaman metode dalam Islam terkait penentuan waktu ibadah. Dengan bimbingan dari Drs. Muhammad Sarif dan tim asisten, mahasiswa diajak untuk bersikap bijak dan inklusif terhadap perbedaan ijtihad dalam Ilmu Falak. Fasilitas dan Masa Depan Lulusan FAI UMM terus berkomitmen menyediakan fasilitas pendukung terbaik untuk praktikum ini. Ketersediaan alat-alat astronomi yang memadai di fakultas memastikan bahwa setiap mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktik secara bergantian. Melalui kegiatan seperti ini, FAI UMM membuktikan bahwa kurikulum Program Studi Hukum Keluarga Islam didesain secara adaptif dan komprehensif. Lulusan HKI UMM diharapkan tidak hanya menjadi sarjana hukum yang ahli di pengadilan agama, tetapi juga menjadi intelektual muslim yang mampu menjembatani teks-teks keagamaan dengan realitas sains modern. Keseruan praktikum Ilmu Falak ini diakhiri dengan diskusi santai di bawah langit malam, mengevaluasi hasil pengamatan, dan mempererat silaturahmi antara dosen dan mahasiswa. Sebuah perjalanan akademik yang tidak hanya mengisi pikiran, tetapi juga menenangkan jiwa melalui pengamatan ayat-ayat kauniyah di cakrawala.