AL-ARABIYAH FESTIVAL EXPO (ALEPO) 4 2026 PBA UMM: PANGGUNG NASIONAL PENGUATAN KOMPETENSI KEBAHASAARABAN

PBA UMM News – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (HMPS PBA) sukses menyelenggarakan Al-Arabiyah Festival Expo (ALEPO) 4 2026. Sebuah ajang perlombaan kebahasaaraban tingkat nasional yang mempertemukan siswa SMA/sederajat dan mahasiswa dari berbagai instansi dan institusi di Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, Jum’at-Sabtu, 30-31 Januari 2026, dengan pusat kegiatan bertempat di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang. ALEPO (4) 2026 menjadi wadah strategis dalam mengembangkan dan mengapresiasi keterampilan bahasa Arab, baik dari aspek akademik, linguistik, maupun performatif. Pada kategori tingkat siswa SMA/sederajat, perlombaan meliputi Qiroatul Kutub (Membaca Kitab), Ghina’ Arabi (Menyanyi Bahasa Arab), Olimpiade Bahasa Arab, serta Khitobah (Pidato Bahasa Arab). Sementara itu, pada tingkat mahasiswa, peserta berkompetisi dalam Lomba Debat Bahasa Arab yang menekankan kemampuan berpikir kritis dan argumentatif dalam bahasa Arab. Kegiatan ALEPO (4) 2026 secara resmi dibuka pada Jum’at, 30 Januari 2026, melalui seremoni pembukaan yang berlangsung khidmat. Acara ini dihadiri oleh Wakil Rektor V Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., yang sekaligus memberikan sambutan dan secara resmi membuka rangkaian kegiatan ALEPO (4) 2026. Turut hadir pula jajaran pimpinan Fakultas Agama Islam, antara lain Dekan Fakultas Agama Islam, Wakil Dekan I, dan Wakil Dekan II, serta Kaprodi PBA, Sekprodi PBA, Kepala Laboratorium PBA, dan seluruh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Ketua pelaksana ALEPO (4) 2026, Rizki Saputra, mahasiswa PBA angkatan 2023 sekaligus fungsionaris HMPS PBA UMM, dalam laporan kepanitiaannya menyampaikan bahwa jumlah peserta ALEPO tahun ini mencapai 200 peserta yang berasal dari berbagai SMA/sederajat dan perguruan tinggi di Indonesia. Ia menegaskan bahwa tingginya antusiasme peserta mencerminkan meningkatnya minat generasi muda terhadap pengembangan kompetensi bahasa Arab. Rangkaian pembukaan semakin semarak dengan penampilan Tapak Suci dari MA Muhammadiyah 2 Malang, yang menampilkan atraksi penuh semangat dan kedisiplinan. Memasuki hari kedua, Sabtu, 31 Januari 2026, seluruh cabang perlombaan kembali dilaksanakan dengan penuh antusias. Para peserta menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam suasana kompetisi yang sportif dan edukatif. Kegiatan kemudian ditutup pada sore hari dengan pengumuman para pemenang lomba sekaligus penyerahan hadiah. Penutupan ALEPO (4) 2026 secara resmi dilakukan oleh Dekan Fakultas Agama Islam, Dr. Imamul Hakim, S.E., M.Sh. Suasana pengumuman pemenang berlangsung hangat dan meriah, dengan sorak antusias peserta dan pendamping yang memenuhi area acara. Pada ajang ALEPO (4) 2026 ini, Pondok Pesantren Mumtaza, Banjarnegara, Jawa Tengah, berhasil meraih predikat Juara Umum. Melalui ALEPO (4) 2026, HMPS PBA Universitas Muhammadiyah Malang berharap kegiatan ini dapat terus menjadi ruang inspiratif dalam menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Arab, memperkuat jejaring antar pelajar dan mahasiswa, serta berkontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan bahasa Arab di Indonesia. Semoga adanya perlombaan ini dapat meningkatkan semnagat untuk terus berkompetisi. Selain itu, pada ALEPO (4) 2026 juga terdapat pameran pembelajaran hasil karya dosen dan mahasiswa. [NS & ATy]
FAI UMM Rumuskan Rencana Tindak Lanjut Program Kerja 2026 sebagai Penguatan Tata Kelola dan Mutu Akademik

Sebagai tindak lanjut Rapat Tinjauan Manajemen (RTM), Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merumuskan Rencana Tindak Lanjut Program Kerja Tahun 2026 pada Rabu, 4 Februari 2026 di Kota Batu. RTL ini disusun sebagai upaya konkret untuk memastikan hasil evaluasi RTM dapat diimplementasikan secara berkelanjutan. Pada bidang akademik, FAI UMM menaruh perhatian pada peningkatan kualitas pembelajaran dan pengajaran melalui penguatan kompetensi dosen. Pelatihan metode pengajaran terbaru, optimalisasi pemanfaatan riset, serta penguatan kolaborasi riset lintas bidang diharapkan mampu mendorong pembelajaran yang lebih adaptif dan berdampak. Selain itu, penguatan sistem administrasi terpadu serta optimalisasi sarana dan prasarana menjadi perhatian penting dalam mendukung efektivitas layanan. Langkah ini diarahkan untuk menciptakan tata kelola yang lebih tertata, akuntabel, dan mendukung kinerja sivitas akademika. Melalui Rencana Tindak Lanjut ini, FAI UMM menegaskan komitmennya dalam membangun tata kelola fakultas yang berkelanjutan, adaptif, dan berorientasi mutu. Implementasi RTL diharapkan mampu memperkuat layanan akademik, mendukung pengembangan program, serta meningkatkan daya saing fakultas ke depan.
HMPS PBA UMM & EL-KAFFAH CENTER, GELAR SEMINAR STRATEGI PRESTASI KEBAHASAARABAN

PBA UMM News – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Seminar El-Kaffah Center pada Jum’at, 2 Januari 2026, bertempat di Aula GKB 5 UMM, pukul 07.30–11.30 WIB. Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi strategis dengan El-Kaffah Center, sebuah lembaga pelatihan bahasa Arab yang berfokus pada studi kebahasaan, kitabiyyah, serta pembinaan perlombaan kebahasaaraban. Seminar ini diikuti secara wajib oleh seluruh mahasiswa aktif PBA angkatan 2023, 2024, dan 2025, sebagai bagian dari penguatan kompetensi akademik dan nonakademik mahasiswa. Adapun fokus utama kegiatan ini meliputi pembinaan dan strategi perlombaan di bidang kebahasaaraban, seperti Debat Bahasa Arab, Khitobah (Pidato Bahasa Arab), Taqdimul Qishoh, Syi’ir (Puisi Bahasa Arab), serta MQK (Musabaqoh Qiroatul Kutub)/Lomba Baca Kitab. Kegiatan dibuka dengan khidmat oleh Kaprodi PBA UMM, Mochammad Firdaus, B.Ed., M.Ed., yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya kesiapan mahasiswa PBA UMM untuk tampil unggul dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional, tidak hanya melalui penguasaan teori, tetapi juga melalui pembinaan yang terarah dan berkelanjutan. Seminar ini menghadirkan empat narasumber inspiratif dari El-Kaffah Syiar, yakni Gus Achmad Fahmi Alwan, S.Pd., Direktur El-Kaffah Center sekaligus peraih 37 kejuaraan nasional–ASEAN dalam bidang Khitobah dan Debat Bahasa Arab. Turut hadir Toriq Syagil Birri, peraih 50 kejuaraan nasional–internasional pada perlombaan Khitobah; Marshall Ilmie El Azyzie, seorang penulis buku nasional; serta Nadine Alfi Aulia, peraih 4 kejuaraan nasional dalam bidang Baca Kitab. Pada sesi seminar, para pemateri menyampaikan berbagai strategi persiapan lomba, mulai dari tahap pra-kompetisi hingga pelaksanaan di arena lomba. Penyampaian materi yang komunikatif, penuh semangat, dan sarat pengalaman praktis membuat suasana seminar berlangsung hidup. Antusiasme peserta terlihat jelas dari kesungguhan mahasiswa PBA dalam menyimak, mencatat, serta berdiskusi aktif sepanjang kegiatan. Melalui Seminar El-Kaffah Center ini, diharapkan mahasiswa PBA UMM tidak hanya termotivasi untuk berprestasi, tetapi juga memiliki bekal strategis, mental juara, dan kepercayaan diri untuk mengharumkan nama Program Studi Pendidikan Bahasa Arab dan Universitas Muhammadiyah Malang di berbagai ajang kebahasaaraban. [NS & ATy]
ALEPO (4) PBA UMM 2026 x TPJ JATIM 2026: MENATA ARAH KARIER PENERJEMAH DI TENGAH TANTANGAN ZAMAN

PBA UMM News – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang kembali menghadirkan ruang dialog strategis melalui kegiatan ALEPO X TPJ (Al-Arabiyah Festival Expo X Temu Penerjemah Jatim) 2026. Mengusung tema “Menata Arah Karier Penerjemah: Bertahan, Beradaptasi, dan Bertumbuh”, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempertemukan dunia akademik, profesi penerjemahan, dan industri jasa bahasa. Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini dilaksanakan pada Sabtu, 31 Januari 2026, pukul 08.00–15.00 WIB, bertempat di Aula GKB 4 Lantai 9 UMM. ALEPO X TPJ 2026 dirancang sebagai forum reflektif sekaligus strategis dalam merespons dinamika profesi penerjemah di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini, Andri Manik, Bendahara HIPPI Jakarta Barat dan Pengurus KADIN DKI Jakarta, yang mengangkat pentingnya personal branding dalam membangun karier profesional. Tafsan Sadikin, Interpreter Senior sekaligus Mentor Mindfulness, membagikan perspektif mengenai pengelolaan stres dan kesadaran diri bagi penerjemah yang bekerja di bawah tekanan tinggi. Sementara itu, Sony Novian, Ketua Umum IKASA sekaligus Ketua HIPPI Jakarta Barat, menyoroti peluang dan tantangan bisnis di bidang jasa bahasa. Salah satu agenda utama dalam ALEPO x TPJ 2026 adalah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) dan Universitas Muhammadiyah Malang. Kerja sama ini diharapkan mampu membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, khususnya dalam pengembangan kompetensi, sertifikasi, riset, dan penyiapan lulusan yang siap memasuki dunia kerja serta memahami standar profesi penerjemahan. Ketua Umum HPI Pusat, Dr. Indra Listyo, menyampaikan apresiasi kepada HPI Komda Jawa Timur atas terselenggaranya kegiatan dengan baik. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi menuntut penerjemah untuk terus meningkatkan kompetensi, memperkuat etika profesi, serta memahami dinamika industri. Oleh karena itu, kolaborasi antara organisasi profesi dan perguruan tinggi dinilai sangat strategis dalam membangun ekosistem penerjemahan yang berkelanjutan. Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menyampaikan bahwa kegiatan TPJ memiliki nilai strategis karena profesi penerjemah tidak hanya membutuhkan kompetensi linguistik, tetapi juga kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan zaman. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Agama Islam, Dr. Imamul Hakim, Kepala Center of Excellence (CoE) UMM, Achmad Fauzan Hery Soegiharto, serta Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UMM, Mochammad Firdaus. Selain sesi seremonial dan gelar wicara, ALEPO x TPJ 2026 juga menghadirkan kelas-kelas tematik pada sesi siang, meliputi Stress Relieving, Game Translation, Interpreting, dan Business Building. Ketua HPI Komda Jawa Timur, Muhammad Afif Musthofa, menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan mitra yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa TPJ tidak sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem penerjemahan yang saling terhubung dan berkelanjutan. Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan berbagai perusahaan jasa bahasa ternama di Indonesia, seperti MainKata Translation Studio, Licolize Communications, Katagonia Language Solution, Translation Transfer, talabahasa, CMM Translation, dan Solusi Penerjemah. [HPI Komda Jatim, NS & ATy]
Refleksi Satu Abad NU: Menjaga Khittah, Merawat Peradaban

oleh: Bagus Adi Mahasiswa HKI – FAI UMM, Alumni Ponpes Al-Munawwariyyah Malang. Usia 1 (satu) abad bukanlah sekadar hitungan angka bagi organisasi Islam sebesar Nahdlatul Ulama (NU). Pada 31 Januari 2026, NU genap berusia 100 tahun dalam hitungan kalender Masehi. Sebuah perjalanan panjang organisasi Islam terbesar di Indonesia yang sejak kelahirannya pada 1926 telah menautkan diri pada misi keummatan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Tema harlah satu abad NU, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”, bukanlah sekadar narasi dan untaian kata, melainkan refleksi kritis yang patut direnungkan. Sejak awal berdiri, NU konsisten memosisikan diri sebagai organisasi Islam yang membumi dan moderat.DakwahIslam yang kerap dibawakan NU benar-benar mudah diterima masyarakat. Hal ini lantaran NU sangat tradisional, luwes, sejuk dan menghargai kearifan lokal. Kendati pun tetap terbuka terhadap dialog dan dapat menyesuaikan dengan perubahan zaman. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, seringkali mendefinisikan NU sebagai “benteng yang menjaga agar Islam di Indonesia tidak tercerabut dari akar budayanya.” Di titik inilah NU memainkan peran strategis dalam merawat nilai-nilai humanisme universal, moderasi beragama, toleransi, dan keadilan sosial. Tak heran jika sampai saat ini NU masih tetap eksis, di tengah pergolakan dan perubahan zaman. Komitmen tersebut tidak berhenti pada tataran wacana. Selama satu abad, NU berada di garis depan dalam menjawab problem keummatan dan kemanusiaan. Prinsip tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) diterjemahkan secara konkret melalui berbagai gerakan sosial dan filantropi. Kehadiran NU Care-LAZISNU dari tingkat ranting hingga pusat menjadi bukti nyata bahwa NU tidak hanya berbicara tentang moralitas, tetapi juga kerja-kerja kemanusiaan yang langsung menyentuh masyarakat. Bahkan dalam berbagai bencana di tanah air, termasuk banjir Sumatera belakangan ini, relawan-relawan Nahdlatul Ulama (NU) sangat sigap untuk memberikan pertolongan. Tak hanya itu NU juga kerap menggalang donasi dalam berbagai macam situasi bencana. Termasuk juga menyalurkan bantuan logistik, sembako, dan mendirikan posko pengungsian. Bantuan bernilai miliaran rupiah digalang secara nasional dan internasional, termasuk pendampingan psikososial. Dalam perspektif kebangsaan, kontribusi NU sudah tidak terbantahkan. Bahkan sejarah mencatat, NU selalu berada di garis depan dan memainkan peran penting dalam menjaga keutuhan Indonesia. Di bidang pendidikan, NU menjadi salah satu penopang utama pembangunan sumber daya manusia melalui ribuan pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan formal yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Pendidikan ala NU tidak hanya mencetak individu cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial. Namun, perjalanan satu abad NU tentu bukan tanpa problem dan persoalan. Tantangan ke depan justru semakin kompleks, terutama di tengah arus politik praktis yang kerap menyeret organisasi ini ke dalam pusaran kepentingan elite. Ketegangan internal di tubuh PBNU pada penghujung 2025, yang sempat menyita perhatian publik, menjadi pelajaran penting. Perbedaan kepentingan politik dan proyek kekuasaan berpotensi mengaburkan fokus utama NU sebagai organisasi keagamaan dan sosial. Ironisnya, dinamika elite tersebut sering kali tidak sejalan dengan realitas di tingkat akar rumput. Ulama, pengurus, dan warga NU di basis justru terus bergelut dengan persoalan umat: pendidikan, kemiskinan, kesehatan, dan kemanusiaan. Karena itu, menjadi sangat disayangkan apabila NU terjebak dalam kepentingan politik sesaat yang justru menjauhkan organisasi dari khittahnya. Bahaya terbesar yang mengintai NU di usia satu abad ini bukanlah perbedaan pandangan internal, melainkan kecenderungan sebagian elite untuk menjadikan NU sebagai instrumen kepentingan politik jangka pendek. Ketika organisasi keagamaan sebesar NU direduksi menjadi kendaraan legitimasi kekuasaan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya marwah organisasi, tetapi juga kepercayaan umat. NU berisiko kehilangan posisi moralnya sebagai penyangga nilai, dan bergeser menjadi sekadar alat tawar-menawar politik elite. Instrumentalisasi politik semacam ini pada akhirnya menciptakan jarak antara struktur elite dan basis jamaah. Di tingkat akar rumput, warga NU berjuang mengurus pendidikan, ekonomi umat, dan kerja-kerja kemanusiaan. Namun di tingkat atas, NU justru diseret ke pusaran konflik kepentingan yang tidak selalu relevan dengan kebutuhan umat. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat melemahkan kohesi internal dan mereduksi NU dari gerakan sosial-keagamaan menjadi simbol kekuasaan yang kehilangan substansi perjuangannya. Lebih jauh, keterlibatan politik yang tidak terkelola secara etis berpotensi merusak khittah NU sebagai organisasi yang menjaga jarak kritis dengan kekuasaan. NU memang tidak anti-politik, tetapi sejak awal politik NU diletakkan dalam kerangka kemaslahatan, bukan dominasi. Ketika kepentingan elite mengalahkan kepentingan umat, maka NU tidak lagi berfungsi sebagai jangkar moral bangsa, melainkan terseret arus pragmatisme yang justru menggerus peradaban yang ingin dibangunnya. Refleksi satu abad NU seharusnya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali orientasi awal organisasi ini didirikan. Nilai-nilai yang telah diwariskan para ulama’ perlu untuk dibaca dan dimanifestasikan dalam gerakan nyata di masyarakat. Dewasa ini, banyak yang menaruh harapan besar agar NU tetap berada dalam khittah-nya. Yang tetap konsisten menjadi kompas moral bangsa, bukan sekadar aktor politik. Dengan kembali menempatkan khittah sebagai kompas utama, NU tidak hanya merawat warisan sejarahnya, tetapi juga memastikan relevansinya bagi masa depan Indonesia. Di usia satu abad, tantangan NU bukan lagi soal eksistensi, melainkan konsistensi: apakah NU mampu konsistenmerawat peradaban, atau justru terjebak dalam pusaran pragmatisme yang menjauhkan organisasi dari cita-cita luhur.
Mahasiswa Peroleh Pengalaman Praktis Hukum Perbankan Syariah melalui Program Magang di Bagian Legal BPRS

Program magang menjadi salah satu sarana strategis bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan teori yang diperoleh di bangku perkuliahan ke dalam praktik kerja nyata. Hal inilah yang dirasakan oleh para peserta magang di Bagian Legal Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) yang telah mengikuti kegiatan magang selama tiga bulan penuh. Selama periode tersebut, mahasiswa mendapatkan pengalaman komprehensif dan berharga dalam memahami praktik hukum perbankan syariah secara langsung dan aplikatif. Selama masa magang, para peserta terlibat secara aktif dalam berbagai tugas strategis yang menjadi bagian penting dari operasional Bagian Legal BPRS. Salah satu kegiatan utama yang dijalani mahasiswa adalah pengelolaan dan penataan arsip dokumen legal debitur secara teliti dan sistematis. Mahasiswa dilibatkan dalam proses verifikasi keabsahan dokumen identitas pribadi maupun badan usaha, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), serta akta notaris pendirian usaha. Tidak hanya melakukan pemeriksaan administratif, mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk mempelajari analisis laporan keuangan debitur. Analisis ini bertujuan untuk memastikan kesesuaian antara kondisi keuangan debitur dengan persyaratan pembiayaan syariah sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait pengawasan perbankan syariah. Melalui proses ini, mahasiswa memperoleh pemahaman mendalam mengenai prinsip kehati-hatian (prudential principle) serta penerapan kepatuhan hukum dalam sistem perbankan syariah. Selain pengelolaan dokumen, mahasiswa juga turut berkontribusi dalam penyusunan dan pengembangan instrumen hukum internal BPRS. Kegiatan ini meliputi penyusunan dan revisi Prosedur Operasional Standar (SOP) yang berkaitan dengan kepatuhan terhadap prinsip syariah. Mahasiswa dilatih untuk memahami bagaimana SOP disusun secara sistematis agar mampu menjadi pedoman kerja yang efektif sekaligus sesuai dengan regulasi yang berlaku. Pengalaman magang semakin kaya ketika mahasiswa dilibatkan dalam formulasi akad-akad syariah. Beberapa di antaranya adalah penyusunan akad wakaf produktif yang ditujukan untuk mendukung program sosial dan ekonomi umat, penyusunan perjanjian mudharabah bagi mitra usaha kecil dan menengah, serta kontrak murabahah berbasis jual beli syariah. Keterlibatan langsung dalam penyusunan akad ini memberikan pemahaman praktis mengenai penerapan konsep fiqh muamalah dalam dunia perbankan modern. Tidak berhenti sampai di situ, mahasiswa juga berpartisipasi dalam review kontrak kerja sama antara BPRS dan mitra eksternal. Proses ini dilakukan secara komprehensif untuk meminimalisir potensi risiko hukum dan litigasi di kemudian hari, sekaligus memastikan bahwa setiap perjanjian tetap selaras dengan prinsip maqasid syariah. Kegiatan ini menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa dalam memahami fungsi strategis bagian legal dalam menjaga stabilitas dan kepatuhan institusi keuangan syariah. Selama tiga bulan pelaksanaan magang, mahasiswa mendapatkan bimbingan intensif dan berkelanjutan dari pembimbing di Bagian Legal BPRS. Pendampingan ini memungkinkan mahasiswa untuk memahami praktik hukum perbankan syariah secara lebih mendalam tanpa hambatan berarti. Interaksi langsung dengan praktisi hukum perbankan memberikan wawasan nyata mengenai dinamika kerja profesional, etika kerja, serta tanggung jawab hukum di sektor keuangan syariah. Secara keseluruhan, program magang ini memberikan manfaat yang signifikan bagi mahasiswa dalam meningkatkan kompetensi akademik dan profesional. Pengalaman yang diperoleh tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, khususnya di bidang hukum perbankan syariah. (nm)
FAI UMM Tinjau VMTS sebagai Penguatan Arah Pengembangan Fakultas

Malang, 4 Februari 2026, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan peninjauan Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi (VMTS) sebagai bagian dari upaya memperkuat arah pengembangan fakultas. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi bersama untuk memastikan FAI UMM terus bergerak sejalan dengan dinamika keilmuan, kebutuhan sivitas akademika, serta visi besar universitas menuju tahun 2030. Forum yang dimoderatori oleh Bapak Arif Zuhri ini membahas perlunya penyederhanaan dan penajaman rumusan visi agar lebih ringkas, jelas, dan mudah dipahami. Visi fakultas diharapkan mampu menggambarkan peran FAI sebagai ruang pengembangan ilmu-ilmu keislaman yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan tantangan sosial dan global. Peninjauan VMTS ini juga menjadi kelanjutan dari proses evaluasi dan lokakarya sebelumnya. Berbagai masukan disampaikan untuk memastikan rumusan visi, misi, dan tujuan FAI tetap selaras dengan Visi UMM 2030, sekaligus memberikan arah yang jelas bagi pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian di lingkungan fakultas. Melalui diskusi tersebut, forum menyepakati visi FAI: “Menjadi Fakultas Agama Islam terkemuka dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman yang responsif, progresif, dan inklusif di tingkat internasional pada tahun 2030.” Visi ini menjadi pijakan bersama dalam merumuskan langkah-langkah strategis FAI ke depan. Ke depan, FAI UMM diharapkan mampu tumbuh sebagai fakultas yang unggul dalam pengembangan keilmuan keislaman, adaptif terhadap perubahan zaman, serta mampu melahirkan lulusan yang berdaya saing, berintegritas, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan dunia internasional. (dw)
Laboratorium Syariah HKI Gelar Praktik Sidang Peradilan Agama

Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi praktis mahasiswa melalui penyelenggaraan kegiatan Praktik Sidang Peradilan Agama. Kegiatan ini diselenggarakan oleh mahasiswa HKI angkatan 2023 sebagai bagian dari penguatan pembelajaran berbasis praktik, yang berlangsung dengan antusias dan penuh keseriusan. Praktik sidang ini dipandu langsung oleh Alfiyah selaku instruktur, yang dikenal memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang hukum peradilan agama. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori hukum acara peradilan agama, tetapi juga mempraktikkan secara langsung proses persidangan sebagaimana yang berlangsung di Pengadilan Agama. Kegiatan praktik sidang peradilan agama ini dirancang menyerupai kondisi persidangan yang sesungguhnya. Mahasiswa dibagi ke dalam beberapa peran, seperti hakim ketua, hakim anggota, panitera, penggugat, tergugat, kuasa hukum, hingga saksi. Setiap peran dijalankan sesuai dengan ketentuan hukum acara peradilan agama yang berlaku, sehingga mahasiswa dapat memahami alur persidangan secara komprehensif dan aplikatif. Instruktur Alfiyah dalam penyampaiannya menekankan bahwa praktik sidang ini merupakan bekal penting bagi mahasiswa HKI sebagai calon praktisi hukum keluarga Islam. Menurutnya, pemahaman teori saja tidak cukup tanpa diiringi dengan pengalaman praktik yang memadai. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini menjadi sarana strategis untuk melatih kemampuan analisis hukum, keterampilan berbicara di depan forum resmi, serta etika dan sikap profesional di ruang sidang. “Melalui praktik sidang ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami tahapan persidangan peradilan agama secara utuh, mulai dari pembukaan sidang, pemeriksaan perkara, pembuktian, hingga pembacaan putusan. Ini adalah pengalaman awal yang sangat berharga sebelum mereka terjun langsung ke dunia kerja atau magang di lembaga peradilan,” ujar Alfiyah. Mahasiswa HKI angkatan 2023 selaku penyelenggara kegiatan menunjukkan peran aktif dan tanggung jawab tinggi dalam menyukseskan praktik sidang ini. Persiapan dilakukan secara matang, mulai dari penyusunan skenario perkara, pembagian peran, hingga penguasaan materi hukum yang relevan. Hal ini mencerminkan semangat belajar dan kesungguhan mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi akademik dan profesional. Kegiatan praktik sidang peradilan agama ini juga menjadi wadah pembelajaran kolaboratif. Mahasiswa tidak hanya belajar secara individual, tetapi juga bekerja sama dalam tim, berdiskusi, serta saling memberikan masukan untuk memperbaiki jalannya persidangan. Dengan demikian, kegiatan ini turut melatih soft skills mahasiswa, seperti kerja sama, komunikasi, dan kepemimpinan. Laboratorium Syariah HKI sebagai penyelenggara kegiatan memiliki peran penting dalam mendukung pembelajaran praktikum yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Melalui fasilitas dan program yang tersedia, Laboratorium Syariah terus berupaya menghadirkan kegiatan akademik yang aplikatif dan kontekstual, khususnya di bidang hukum keluarga Islam dan peradilan agama. Dengan terselenggaranya praktik sidang peradilan agama ini, diharapkan mahasiswa HKI angkatan 2023 semakin siap menghadapi tantangan akademik maupun profesional di masa depan. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran di Prodi Hukum Keluarga Islam tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga pada pembentukan kompetensi praktis dan profesionalisme mahasiswa sebagai calon praktisi hukum yang berintegritas.(nm)
Ujian Terbuka Promosi Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Mochamad Novi Rifa’i Raih Gelar Doktor dengan Penelitian Pariwisata Halal

Jakarta, 7 Januari 2026 — Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali melahirkan seorang doktor baru. Mochamad Novi Rifa’i resmi meraih gelar Doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Model Destination Branding untuk Peningkatan Minat Kunjungan Pariwisata Halal di Kabupaten Lombok Barat” dalam sidang promosi doktor yang berlangsung pada Rabu, 7 Januari 2026, pukul 09.00 WIB di Gedung Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. Dalam ujian terbuka tersebut, Mochamad Novi Rifa’i diuji oleh para akademisi terkemuka, antara lain Dr. H. M. Nurul Huda, M.Ag dan Prof. Dr. Asep Saeful Muhtadi, M.H. selaku penguji, serta dibimbing oleh dua promotor, Prof. Dr. Andi M. Egas Bakti dan Prof. Dr. H. Hasbullah Hadiwijaya, M.A. Turut hadir pula Prof. Dr. Zulkifli, M.Ag sebagai ketua sidang, beserta jajaran dosen dan civitas akademika Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. Disertasi yang disusun oleh Mochamad Novi Rifa’i menyoroti pentingnya destination branding sebagai strategi penguatan citra pariwisata halal di daerah Lombok Barat. Melalui pendekatan penelitian yang komprehensif, ia menunjukkan bagaimana pengelolaan merek destinasi yang berbasis nilai-nilai Islam dapat meningkatkan minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung. Setelah melewati proses ujian yang berlangsung khidmat dan penuh apresiasi, Mochamad Novi Rifa’i dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Ujian terbuka ini juga menjadi momentum penting yang menunjukkan komitmen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam mendorong lahirnya riset-riset strategis di bidang ekonomi, manajemen, dan pariwisata berbasis nilai Islam. Dengan keberhasilannya, Mochamad Novi Rifa’i menambah daftar panjang lulusan doktor dari UIN Jakarta, yakni sebagai doktor ke-1649 yang diwisuda oleh Sekolah Pascasarjana. Hasil penelitiannya diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi pengembangan destinasi halal, khususnya di Lombok Barat dan daerah lain di Indonesia yang berpotensi menjadi pusat pariwisata syariah dunia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kebijakan dan praktik pariwisata halal di Indonesia, khususnya dalam penguatan daya saing destinasi wisata yang berkelanjutan dan sesuai prinsip syariah. Dengan keberhasilannya mempertahankan disertasi di hadapan dewan penguji, Mochamad Novi Rifa’i dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan resmi menyandang gelar Doktor dari Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Humas Ekos/NS)
RAPAT TINJAUAN MANAJEMEN (RTM) PBA UMM 2025: MENYELARASKAN EVALUASI, MENEGUHKAN BUDAYA MUTU, MENGUATKAN LANGKAH DALAM PERBAIKAN BERKELANJUTAN

PBA UMM News – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) pada Rabu, 24 Desember 2025 yang bertempat di Rooftop Rayz UMM, mulai pukul 08.30 hingga 16.00 WIB. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh keseriusan, dihadiri oleh jajaran dekanat Fakultas Agama Islam UMM serta diikuti secara lengkap oleh seluruh dosen, karyawan, staf, dan instruktur Prodi dan laboratorium PBA. Sebagai bagian penting dalam implementasi Sistem Manajemen Mutu, RTM menjadi forum strategis untuk meninjau efektivitas pengelolaan program studi. Pembahasan difokuskan pada evaluasi kinerja PBA UMM, termasuk hasil Audit Mutu Internal (AMI), capaian akademik dan nonakademik, serta umpan balik dari para pemangku kepentingan. Melalui forum ini, dirumuskan pula berbagai rencana tindak lanjut sebagai upaya perbaikan dan peningkatan mutu secara berkelanjutan. Kegiatan diawali dengan sambutan hangat dari Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Bapak Mochammad Firdaus, B.Ed., M.Ed., yang menegaskan bahwa RTM merupakan momentum reflektif sekaligus strategis untuk menyelaraskan visi, memperkuat kolaborasi, dan meneguhkan komitmen bersama dalam membangun tata kelola program studi yang unggul dan berdaya saing. Melalui pelaksanaan RTM ini, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UMM diharapkan semakin adaptif terhadap tuntutan mutu pendidikan tinggi, serta konsisten menghadirkan layanan akademik yang berkualitas dan berorientasi pada peningkatan berkelanjutan. Pada sesi akhir dalam kegiatan tersebut, juga dilaksanakan serah terima jabatan kepala Laboratorium Pendidikan Bahasa Arab periode 2023-2025 Dr. M Dr. Muhammad Fadli Ramadhan, S.Pd.I., M.Pd ke kepala Laboratorium Pendidikan Bahasa Arab periode 2025-2029 Anisatu Thoyyibah, S.Hum., M.Hum. Semoga senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam mengemban amanah yang ditanggungjawabkan, amin. [NS & ATy]