Menembus Batas : Perjalanan Dosen PAI UMM Meraih Beasiswa S3 di Hungaria

Melanjutkan studi ke luar negeri adalah impian banyak akademisi, namun prosesnya tidak selalu mudah. Dari persiapan bahasa, pencarian supervisor, hingga menghadapi tantangan budaya di negara tujuan, setiap langkah membutuhkan ketekunan dan strategi yang matang. Dalam wawancara kali ini, kita akan mendengar kisah inspiratif dari Dosen Pendidikan Agama Islam FAI-UMM, Nafik Muthohirin, S.Pd.I.MA.Hum yang berhasil mendapatkan beasiswa Stipendium Hungaricum untuk studi doktoralnya di Eötvös Loránd University, Hungaria. Melalui pengalaman pribadinya, beliau berbagi bagaimana mempersiapkan diri sejak jauh hari, tantangan yang dihadapi selama studi, serta kesan mendalam tentang kehidupan akademik dan sosial di Hungaria. Wawancara ini diharapkan dapat menjadi panduan sekaligus motivasi bagi para akademisi dan mahasiswa yang bercita-cita menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Bagaimana Anda mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa S3 di Hungaria? Sejak 2 tahun sebelum keberangkatan studi di Hungaria, saya memang sudah meniatkan diri untuk mempersiapkan studi ke luar negeri. Saya cukup percaya diri mengenai portofolio publikasi, namun problem besar yang saya hadapi adalah skor Bahasa Inggris saya sehingga waktu itu yang terpikirkan adalah saya perlu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya. Jadi, saya sering mengerjakan soal-soal TOEFL selama 2 tahun tersebut, mulai dari yang awalnya otodidak hingga kursus berkali-kali. Sehari bisa 2 jam saya menghabiskan waktu untuk mengerjakan soal-soal tersebut, tapi ternyata itu tidak cukup signifikan menaikkan skor karena kunci meningkatkan keterampilan bahasa tidak bisa dibuat sampingan dengan pekerjaan yang lain, perlu fokus dan latihan yang tekun. Hungaria menjadi salah satu pilihan saya karena kecocokan dengan supervisor. Selain persiapan bahasa, yang tidak kalah penting adalah mencari dan korespondensi dengan calon supervisor. Aspek ini sering menjadi problem sendiri bagi beberapa pencari beasiswa, karena (mungkin) belum punya portofolio publikasi sebelumnya atau masih bimbang menentukan minat studinya sehingga berpengaruh pada kelayakan proposal riset yang diajukan. Jadi, bagi pencari beasiswa luar negeri, korespondensi dengan supervisor adalah satu keterampilan tersendiri. 2. Apa yang menjadi motivasi Anda memilih Hungaria sebagai tujuan studi S3? Alasan pertama, tentu karena sudah cocok dengan supervisor saya. Dia memahami perilaku keberagamaan masyarakat Muslim di Indonesia, karena pernah memiliki proyek penelitian di Indonesia Timur. Kemudian, minat studi saya relevan dengan program studi doktoral di department Studi Agama-agama di Eotvos Lorand University (ELTE), Budapest, Hungary. Selain itu, Hungary adalah pusat destinasi utama di Eropa. Negara ini merupakan perpaduan wisata sejarah, religi, dan keindahan seni arsitektur abad pertengahan. 3. Bagaimana proses pengajuan beasiswa S3 di Hungaria? Saya mengikuti Stipendium Hungaricum Scholarship (Baca: SH), sebuah skema beasiswa dari pemerintah Hungary yang bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai sending partner-nya. Sama halnya dengan skema beasiswa luar negeri yang lain, skema SH memerlukan beberapa persyaratan wajib seperti Letter of Supervisor (kalua PhD), sertifikat kemampuan Bahasa Inggris (IELTS/TOEFL), Letter of Reference, Curriculum Vitae, dan lainnya. Setiap tahun, yang daftar dari Indonesia bisa mencapai ribuan, dan yang diterima hanya tidak kurang dari 70 pelamar 4. Bagaimana Anda mengatasi tantangan bahasa dan budaya di Hungaria? Menguasai keterampilan Bahasa Inggris itu yang utama, khususnya speaking dan writing karena itu modal utama untuk mengikuti perkualiahan di kelas, bimbingan dengan supervisor, dan interaksi dengan mahasiswa internasional lainnya. Sementara untuk Bahasa Hungary, untuk mahasiswa PhD tidak diwajibkan harus menguasainya. Saya sendiri baru akan ikut di semester kedua ini. Selama ini masih belajar otodidak dan dari teman-teman internasional di sini. Apa pengalaman paling berkesan selama studi S3 di Hungaria? Tentu saya mendapat banyak pengalaman yang berbeda, baik tentang pengalaman belajar maupun menjalani kehidupan sehari-hari. Pertama, etos belajar yang tinggi. Saya menjumpai mahasiswa-mahasiswa di sini memiliki motivasi belajar yang kuat. Hampir setiap hari, mereka menghabiskan waktu belajar berjam-jam di perpustkaan. Kebanyakan masih mempertahankan cara belajar yang konvensional (baca buku cetak dan dicoret-coret), dan kemudian melengkapi dan menyalinnya di laptop atau tablet. Iklim belajar yang kondusif ini didukung oleh jumlah perpustakaan yang banyak, lengkap, dan nyaman.Jadi hampir setiap meja di perpustakaan selalu terisi dari pagi hingga malam. Jadi, kalau tidak berangkat pagi, siap-siap tidak mendapat meja. Kedua, transportasi publik terbaik di Eropa. Semua jenis transportasi publik selalu datang tepat waktu, nyaman, aman, dan bersih. Semua orang taat untuk tidak makan dan minum ketika di dalam transportasi. Selalu ada kursi prioritas untuk maasyarakat difable dan lansia. Kemudian, dari satu jenis transportasi ke transportasi yang lain semuanya terhubung. Ketiga, kebetulan saya tinggal di Budapest, ibu kota Hungary, jadi saya merasakan kenyamanan hidup di sini. Meski pada umumnya masyarakat di Eropa yang individual, tapi hampir tidak pernah menjumpai terjadi kriminalitas. Bagi perempuan Muslim yang berjilbab juga tidak ada diskriminasi atau tindakan islamophobia, seperti yang banyak terjadi di negara-negara Eropa lainnya. Perjalanan studi di luar negeri, seperti yang telah dibagikan dalam wawancara ini, menunjukkan bahwa dengan tekad, persiapan yang matang, dan kerja keras, impian untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri bukanlah hal yang mustahil. Tantangan pasti ada, baik dalam hal akademik, bahasa, maupun budaya, tetapi semua itu bisa diatasi dengan semangat belajar yang tinggi dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Bagi mahasiswa yang bercita-cita mengikuti jejak serupa, mulailah dengan memperkuat kemampuan akademik, membangun portofolio penelitian, serta aktif mencari peluang beasiswa yang sesuai dengan minat dan bidang keilmuan masing-masing. Semoga pengalaman dan ilmu yang diperoleh oleh Dosen PAI UMM Nafik Muthohirin, S.Pd.I.,MA.Hum,  selama studi di Hungaria tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi institusi dan bangsa. Keberhasilan satu individu dalam menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi adalah bagian dari kontribusi besar dalam memajukan dunia akademik dan keilmuan di Indonesia. Mari terus belajar, berkembang, dan berkontribusi untuk kemajuan pendidikan dan penelitian di tanah air! (NM/Ika)

Pelajari Managerial Sumber Daya Manusia dan Internasionalisasi, Fakultas Tarbiyah Unida Gontor Selenggarakan Benchmarking ke FAI-UMM

Kamis, 30 Januari 2025, Fakultas Tarbiyah Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor) melaksanakan kegiatan Benchmarking ke Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara yang berlangsung di Ruang Micro Teaching Fakultas Agama Islam UMM ini difokuskan pada pembahasan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan Akreditasi Internasional. Jajaran Dekanat dari UNIDA Gontor disambut hangat oleh jajaran pimpinan Fakultas Agama Islam UMM. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Darussalam Gontor , Dr. Agus Budiman, M.Pd menyampaikan apresiasi atas sambutan dari FAI-UMM. Harapannya dalam kegiatan ini kedua fakultas dapat meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia serta terus berkembang dan bermanfaat bagi masyarakat. “Kami perlu belajar lebih dalam mengenai manajerial dan khususnya persiapan akreditasi Internasiona kepada FAI UMM”, jelasnya. Dekan FAI UMM yang diwakili oleh Wakil Dekan I, Dr. Saiful Amien, M.Pd. turut menyambut bahagia kedatangan rombongan dekanat dari Fakultas tarbiyah Unida Gontor. Dr. Amien menyampaikan, FAI UMM siap menerima dan berbagi berbagai hal yang diperlukan oleh F.Tarbiayh Unida Gontor. Seagai pengantar diskusi, Dr. Saiful Amien menyampaikan Gambaran Umum, sejarah berdirinya FAI UMM, Gedung-gedung Fasilitas dan Unit bisnis milik UMM. selain itu, Dr.Saiful Amien juga menyampaikan bahwa semua prodi di FAI UMM sudah terakreditasi Unggul. “terkait dengan Akreditasi Internasional, kebetulan prodi HKI sedang mempersiapkan Akreditasi Internasional FIBAA yang akan dilakukan visitasi pada 25 Februari 2025,” paparnya. Selama sesi diskusi, kedua belah pihak berbagi pengalaman terkait strategi pengembangan SDM, seperti program pelatihan dosen, peningkatan kualifikasi akademik, dan pengembangan Center of Excellence (CoE). Selain itu, dibahas pula langkah-langkah yang telah diambil oleh Fakultas Agama Islam UMM dalam mencapai akreditasi internasional, termasuk kerjasama dengan institusi luar negeri, publikasi internasional, dan peningkatan kualitas kurikulum sesuai standar global. Idaul Hasanah, S.Ag, M.H.I. (Wakil Dekan II FAI-UMM) menyampaikan bahwa upaya yang dilakukan oleh UMM untuk meningkatkan standar internasional saat ini adalah fokus pada peningkatan sarana difabel/disabilitas, Eco Green, kemampuan bahasa asing bagi seluruh civitas akademika, serta kesetaraan gender. Kedua belah pihak berharap bahwa kolaborasi ini dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia dan mampu bersaing di kancah internasional. (ika/dnr)

Cerita Teguh Ifandy, Alumni Prodi HKI FAI-UMM Sulap Skripsi Jadi Jurnal Terindeks Scopus

teguh ifandy

Teguh Ifandy, salah satu alumni prodi Hukum Keluarga Islam Fakultas Agama Islam UMM, merupakan alumni yang berhasil mem-publish jurnal terindeks Scopus. Teguh berhasil menerbitkan tulisan tugas akhirnya pada Jurna Al-‘Adalah, Vol. 21 No.1, Tahun 2024 denga Judul Maslahat (Benefits) in Fiqh Awlawiyat: A Comparison between Yusuf al-Qarādhawi’s View and Abdus Salam Ali al-Karbuli’s Maslahat dalam Fikih Aulawiyat: Perbandingan Pemikiran Yusuf al-Qaradhawi dan Abdus Salam Ali al-Karbuli. Secara eksklusif, Teguh berbagi pengalamannya kepada Humas FAI, Teguh mengawali cerita awal mula menulis Penelitian yang merupakan pengembangan dari tugas Penulis pada mata kuliah Metodologi Penelitian Hukum Islam Semester Ganjil 2022/2023 Program Studi Hukum Keluarga Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, yang diampu oleh Idaul Hasanah, S.Ag., M.H. (Wakil Dekan II FAI UMM). Teguh mengajukan tugas tersebut sebagai tugas akhir dengan skema artikel jurnal pengganti skripsi. Pada awal proses bimbingan, Teguh mencari beberapa alternatif jurnal terakreditasi Sinta 2 melalui laman https://sinta.kemdikbud.go.id. Dosen Pembimbing Penulis, Idaul Hasanah, S.Ag., M.H. menyarankan untuk memilih jurnal yang berafiliasi dengan Asosiasi Dosen Hukum Keluarga Islam (ADHKI). Teguh akhirnya menemukan Jurnal Al-‘Adalah yang dikelola oleh Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, salah satu anggota ADHKI. Saat itu, Jurnal Al-‘Adalah terakreditasi Sinta 2 berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor : 10/E/KPT/2019 tanggal 4 April 2019 tentang Hasil Akreditasi Jurnal Ilmiah Periode 2 Tahun 2019. Teguh mengawali penulisan artikel jurnal tersebut pada 6 Oktober 2023. Setelah melewati dinamika bimbingan dan beberapa kali revisi, akhirnya naskah artikel jurnal (full text) disetujui oleh Dosen Pembimbing pada 22 Februari 2024. Teguh kemudian segera memperoses penyelarasan akhir (finishing) berdasarkan template Jurnal Al-‘Adalah, dan mengirimkan keesokan harinya pada 23 Februari 2024 secara online melalui Open Journal System (OJS) Jurnal Al-‘Adalah. Sebagai tindak lanjut dari proses submit artikel jurnal, Dosen Pembimbing menyarankan Teguh untuk melakukan Seminar Hasil, yang telah terlaksana pada 14 Maret 2024. Berselang satu bulan sejak pengiriman artikel jurnal, belum ada konfirmasi dan tindak lanjut dari Pengelola Jurnal Al-‘Adalah, baik melalui OJS maupun email, walaupun telah beberapa kali dihubungi oleh Teguh maupun Dosen Pembimbing. Sementara itu, publikasi Jurnal Al-‘Adalah sebanyak 2 kali dalam 1 tahun, yakni pada bulan Juni dan Desember. Artinya, waktu penerbitan di bulan Juni 2024 semakin dekat, sedangkan belum ada kepastian diterimatidaknya. Demi mengejar Kelulusan Tepat Waktu (KTW), Dosen Pembimbing menyarankan Teguh untuk beralih menyusun skripsi. Teguh akhirnya mengembangkan naskah artikel jurnal tersebut menjadi skripsi, dan melakukan serangkaian bimbingan skripsi sejak 22 Maret 2024 dengan Dosen Pembimbing (tunggal) yang masih sama Selama rentang waktu mulai dari pengiriman artikel jurnal (23 Februari 2024) hingga awal bimbingan skripsi (22 Maret 2024), Teguh mendapat informasi yang tertera di OJS Jurnal Al-‘Adalah, bahwa Jurnal Al-‘Adalah sedang mengajukan proses indeksasi di Scopus sejak bulan Desember 2023. Sementara itu, melalui pelacakan pada laman https://arjuna.kemdikbud.go.id, situs Akreditasi Jurnal Nasional, Teguh mendapat informasi bahwa Jurnal Al-‘Adalah sedang mengajukan usulan peringkat Sinta 1 sejak bulan Juni 2023. Berdasarkan informasi tersebut, Teguh secara pribadi berasumsi bahwa adanya keterlambatan siklus penerbitan di Jurnal Al-‘Adalah mungkin dikarenakan kesibukan Pengelola Jurnal dalam mempersiapkan kebutuhan akreditasi Sinta dan indeksasi Scopus. Berselang dua bulan kemudian, Teguh akhirnya berhasil menempuh Sidang Tugas Akhir Skripsi pada 22 Mei 2024. Dengan demikian, kelulusan Teguh menggunakan skema skripsi. Meski demikian, Teguh memiliki harapan bahwa artikel jurnal yang telah dikirimkan suatu saat akan diterbitkan. Sejak awal proses bimbingan artikel jurnal, Dosen Pembimbing telah memberikan gambaran proses penerbitan artikel jurnal, serta langkah antisipasi untuk tetap menyusun skripsi sebagai cadangan di samping artikel jurnal. Walaupun harus menyusun tugas akhir dalam 2 skema, yakni artikel jurnal dan skripsi, Dosen Pembimbing memberikan motivasi kepada Teguh bahwa hal tersebut sebagai bentuk pembelajaran dalam melakukan riset akademik dan publikasi ilmiah. Pada akhirnya, Teguh berhasil mengikuti Wisuda Periode III Tahun 2024 pada 16 Juli 2024 dan berhasil menjadi Wisudawan Terbaik FAI, sebelum berakhirnya Semester VIII (Semester Genap 2023/2024). Sebelumnya, pada 1 Juli 2024, Teguh mendapat kabar dari Dosen Pembimbing bahwa Jurnal Al-‘Adalah telah berhasil terindeks Scopus, serta kabar bahwa artikel jurnal Teguh akan segera dilakukan proses review. Teguh kemudian berkoordinasi dengan Dosen Pembimbing terkait beberapa langkah yang diperlukan, serta mempersiapkan proses revisi hingga finishing. Proses tersebut berlangsung hingga 30 September 2024. Pada 25 Oktober 2024, Tegun akhirnya mendapat kabar dari Dosen Pembimbing bahwa artikel jurnal Teguh sudah diterbitkan di Jurnal Al-‘Adalah. Teguh kemudian mencoba mengecek status akreditasi Jurnal Al-‘Adalah, apakah ada perubahan peringkat sebelumnya. Ternyata, Jurnal Al-‘Adalah telah terakreditasi Sinta 1 berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor : 72/E/KPT/2024 tanggal 1 April 2024 tentang Peringkat Akreditasi Jurnal Ilmiah Periode I Tahun 2024. Teguh sangat bersyukur dan tidak menyangka artikel jurnal ini bisa terbit di jurnal terindeks Scopus dan terakreditasi Sinta 1. Peran Pembimbing dalam penulisan jurnal Idaul Hasanah, S.Ag., M.H. selaku Dosen Pembimbing banyak membagikan ilmu dan pengalamannya kepada Teguh, serta memotivasi Penulis dalam menyelesaikan tugas akhir, baik skripsi maupun artikel jurnal, sebagai bentuk pembelajaran bagi Teguh dalam melakukan riset akademik dan publikasi ilmiah. Dalam artikel jurnal ini, Dosen Pembimbing berperan sebagai Teguh kedua sekaligus koresponden. Untuk itu, Dosen Pembimbing akan mengkoreksi tulisan Teguh, melengkapi kekurangan, serta memberikan data tambahan yang diperlukan. Selama proses penulisan artikel jurnal, Dosen Pembimbing mengarahkan Teguh dalam menyusun kerangka tulisan (outline), mulai subbab hingga paragraf. Dosen Pembimbing sangat cermat dan teliti dalam mengkoreksi hasil tulisan Teguh, bukan paragraf per paragraf lagi, namun kalimat per kalimat. Sehingga Teguh mendapatkan banyak pengetahuan dalam aspek kepenulisan.Di samping itu, Dosen Pembimbing melatih Teguh dalam mengemas teori, menyampaikan argumentasi secara logis, serta memaparkan data pendukung di dalam menyusun suatu paragraf. Dosen Pembimbing selalu memotivasi Teguh untuk banyak membaca artikel jurnal terdahulu yang memiliki relevansi dengan topik permasalahan pada artikel jurnal Teguh. Bahkan, juga merekomendasikan beberapa artikel jurnal internasional bereputasi untuk dijadikan sebagai bahan kajian pustaka. Aktivitas Teguh saat ini bergabung di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Cabang Malang, dalam rangka menerapkan keilmuan hukum di lapangan, mengembangkan keterampilan hukum, menyerap ilmu dan pengalaman dari para praktisi, serta memperoleh pengalaman hukum yang lebih luas. Teguh berencana menempuh studi

Songsong Program Kerja 2025, FAI-UMM Selenggarakan Rapat Bersama Penyusunan RENOP, RAB, dan KAK.

Trawas, Mojokerto — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kegiatan strategis Penyusunan RENOP, RAB, dan KAK untuk tahun 2025 pada (20/1/2025). Acara ini diselenggarakan di Arayanna Hotel, Trawas, Mojokerto, dan dihadiri oleh seluruh dosen FAI-UMM. Serangkaian Acara ditutup secara resmi oleh Wakil Dekan I FAI-UMM, Dr. Saiful Amien, M.Pd., yang mewakili Dekan FAI-UMM. Dalam sambutannya, Dr. Saiful Amien menyampaikan pentingnya kegiatan ini untuk memastikan kesinambungan program fakultas. “Penyusunan RENOP, RAB, dan KAK merupakan langkah penting untuk merancang program kerja yang berkelanjutan berdasarkan evaluasi capaian tahun 2024. Program yang belum terselesaikan di tahun 2024 dapat dilanjutkan pada 2025 dengan perencanaan yang lebih matang,” ujar Dr. Saiful. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi capaian program tahun 2024, menyusun rencana operasional (RENOP) tahun 2025, serta merancang Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang akan menjadi dasar usulan Rencana Anggaran Biaya (RAB) fakultas. Evaluasi tahun 2024 menjadi pijakan penting untuk mendeteksi kesenjangan program yang perlu diatasi melalui penyusunan kegiatan strategis di tahun mendatang. Dalam sesi penyusunan RENOP, peserta menekankan pentingnya keberlanjutan program dengan mempertimbangkan hasil evaluasi tahun sebelumnya. Selain itu, FAI-UMM juga menunggu template resmi dari BPMI Universitas Muhammadiyah Malang untuk melengkapi dokumen RENOP yang sudah dirancang. “Minimal kita sudah memiliki draft RENOP sehingga ketika template dari universitas keluar, kita tinggal menyesuaikan,” tambah Dr. Saiful Amien. Setelah penyusunan RENOP, kegiatan dilanjutkan dengan merancang KAK yang kemudian diusulkan dalam RAB. Seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang agar saling terintegrasi dan menghasilkan dokumen perencanaan yang komprehensif. Para peserta aktif berdiskusi untuk memberikan masukan terkait penyusunan dokumen perencanaan serta program yang relevan untuk satu tahun kedepan. Suasana diskusi berlangsung produktif, mencerminkan semangat kolektif dalam memajukan Fakultas Agama Islam UMM.  Wakil Dekan I FAI-UMM juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan. Meskipun demikian, ia berharap hasil dari penyusunan ini dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas pendidikan di FAI-UMM. Kegiatan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus melakukan perbaikan dan inovasi demi mencapai visi fakultas yang lebih baik di masa depan. (ik)

Evaluasi Kinerja dan Perumusan Program Kerja, FAI-UMM gelar Rapat Tinjauan Manajemen Kedua.

Trawas, Mojokerto — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar Rapat Tinjauan Manajemen Kedua (RTM II) pada Minggu, 19 Januari 2025, bertempat di Arayanna Hotel, Trawas, Mojokerto. Kegiatan strategis ini dihadiri oleh seluruh dosen FAI-UMM dan dibuka secara resmi oleh Dekan FAI-UMM, Prof. Dr. Khozin, M.Si. Dalam sambutannya, Prof. Khozin menyampaikan pentingnya evaluasi dan perencanaan yang matang untuk memastikan peningkatan kualitas FAI-UMM ke depan. “Rapat ini menjadi momentum bagi kita semua untuk merefleksikan capaian program dan kinerja selama tahun 2024, sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis untuk menghadapi tantangan di tahun 2025,” ujar Prof. Khozin. RTM II ini bertujuan untuk mengevaluasi program dan kinerja Fakultas Agama Islam sepanjang tahun 2024. Selain itu, rapat ini juga bertujuan untuk merumuskan program kerja tahun 2025 yang akan menjadi pedoman bagi seluruh elemen FAI-UMM dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Fokus pembahasan dalam RTM kali ini mencakup empat bidang utama, yaitu Kurikulum dan Akademik, Sarana Prasarana, Sumber Daya Manusia, serta Kemahasiswaan. Selama rapat, para peserta secara aktif berdiskusi dan memberikan masukan terkait pengembangan kurikulum yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman, perbaikan sarana dan prasarana pendukung, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta upaya memajukan kemahasiswaan untuk menciptakan lulusan yang kompeten dan berdaya saing tinggi. Suasana rapat berlangsung produktif dan penuh semangat, mencerminkan komitmen seluruh dosen dalam mendukung visi dan misi Fakultas Agama Islam UMM. banyak evalausi dan masukan dari peserta untuk kemajuan UPPS. Agenda ini juga menjadi ajang bagi para dosen untuk memperkuat kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama. Rapat Tinjauan Manajemen Kedua ini diakhiri dengan kesimpulan dan rekomendasi yang diharapkan mampu mengakselerasi pencapaian target FAI-UMM pada tahun mendatang. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen tinggi, FAI-UMM optimistis dapat menghadirkan inovasi dan peningkatan mutu dalam berbagai aspek pendidikan. Kegiatan ini menjadi bukti nyata dari dedikasi FAI-UMM untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan demi memberikan kontribusi terbaik bagi pengembangan ilmu agama Islam dan pengabdian kepada masyarakat. (ika)  

Mahasiswa HKI UMM Magang di PBH PERADI Malang, Persiapan Masuk Dunia Profesional

  Malang, 28 November 2024 – Sebanyak 2 Mahasiswa Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melakukan kegiatan magang di kantor Pusat Bantuan Hukum (PBH) PERADI Malang yang berlokasi di Jl. Sarangan No.1 D, Lowokwaru, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Program magang dilaksanakan serempak oleh mahasiswa semester 7 dan semester atas yang belum menyelesaikan program magang. Program magang ini disebut dengan Praktik Kerja Profesional (PKP) bertujuan memberikan pengalaman lapangan bagi mahasiswa dalam menerapkan Ilmu Hukum di dunia profesional serta meningkatkan pemahaman mengenai praktik hukum di Indonesia. Menurut dosen pembimbing magang R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, S.Sy, M.H. Program magang ini merupakan upaya Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang melalui Laboratorium Syariah untuk menjalin hubungan baik dengan lembaga-lembaga hukum di berbagai wilayah di Indonesia. Melalui pengalaman yang didapat oleh praktikan selama magang harapannya menjadi cukup bekal jika hendak terjun ke dunia profesional. Selama kegiatan magang berlangsung, para mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan hukum meliputi pendampingan kasus di luar dan di dalam pengadilan, mengenal organisasi PBH Peradi Malang dalam hal struktur organisasi dan pelayanan hukum bagi masyarakat tidak mampu, mendapatkan penjelasan materi dalam hal membuat somasi, membuat surat kuasa, replik, dan duplik. Juga mendapatkan pandangan tentang dunia advokat dalam menangani perkara. Layanan Hukum Gratis oleh PBH Peradi Malang Bagi Masyarakat Tidak Mampu   Pusat Bantuan Hukum adalah lembaga bantuan hukum non-profit yang ditujukan untuk memberikan layanan hukum bagi masyarakat yang tidak mampu sebagaimana yang terdapat pada Pasal 3 huruf (a) dan (b) Undang-undang Bantuan Hukum Nomor 16 Tahun 2011 yang berbunyi : Penyelengara Bantuan Hukum bertujuan untuk : a. menjamin dan memenuhi hak bagi penerima bantuan hukum untuk mendapatkan akses keadilan; b. mewujudkan hak konstitusional segala warga negara sesuai dengan prinsip persamaan kedudukan di dalam hukum Hadirnya PBH PERADI Malang menjadi fasilitas bagi masyarakat yang tidak mampu agar tetap mendapatkan askes terhadap keadilan. Masyarakat yang membutuhkan konsultasi dan bantuan hukum bisa mendatangi kantor. Adapun syarat apabila hendak mengajukan bantuan hukum, terbilang sangat mudah, yaitu : pertama, mengajukan permohonan tertulis secara singkat mengenai perkara yang ingin diajukan untuk pendampingan hukum; kedua, menyertyakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari desa atau kelurahan diwilayah tempat tinggal pemohon; ketiga, menyerahkan dokumen yang berkaitan dengan perkara. Kegiatan Lapangan Bersama Advokat PBH PERADI Malang Selama kegiatan magang, kami selaku praktikan mengikuti secara langsung proses pendampingan advokat PBH PERADI Malang terhadap para tersangka. Salah satu kegiatan lapangan yang kami ikuti adalah meminta tanda tangan tersangka kasus narkotika sebagai penerima bantuan hukum pro-bono di Satuan Reserse Narkoba Polresta Kota Malang dan mengajukan beberapa pertanyaan. Adapun pertanyaan yang diajukan adalah melakukan validasi terhadap keterangan dari penyidik, menanyakan apakah mendapat kekerasan fisik, ancaman atau membuat pengakuan di bawah tekanan, dan menasihati tersangka untuk bersikap kooperatif selama proses hukum berjalan. Kegiatan lapangan lainnya yang kami ikuti selama proses magang, yaitu pendampingan hukum terhadap tersangka pada kasus yang masih berjalan yaitu pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. Di mana pada kegiatan tersebut kami juga menemui pihak keluarga dari tersangka dan meminta beberapa keterangan atau informasi yang dimiliki yang selama rentang peristiwa terjadi. Selama kegiatan magang di PBH PERADI Malang banyak ilmu lapangan yang kami dapatkan selaku praktikan yang sebelumnya hanya bersifat wawasan materi berupa pembelajaran yang disampaikan di kelas saat kuliah. Namun, saat proses magang memberikan wawasan tentang penerapan hukum secara langsung. Mulai dari menyusun dokumen hukum, memberikan konsultasi pada klien, hingga turut serta dalam proses penyuluhan hukum, pengalaman ini tentunya sangat berharga sekali bagi kami selaku praktikan sebelum pada akhirnya nanti turut serta berperan aktif dibidang hukum secara profesional sebagai seorang advokat. (ody)

Dosen Ekonomi Syariah FAI-UMM, Bapak Fadilla Muhammad Mahdi, S.E., M.Si, Jadi Pembicara pada Kursus Kepemimpinan Nasional FOSSEI

Malang, 11 November 2024 – Sungguh sangat membanggakan, salah satu dosen Prodi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI-UMM), Bapak Fadilla Muhammad Mahdi, S.E., M.Si, menjadi pembicara pada Kursus Kepemimpinan Nasional FOSSEI (SUSPIMNAS 2024) yang berlangsung pada tanggal 11-13 November 2024 di Villa Andrew. Acara yang mengusung tema “Long Life Learner: Leadership as a Journey of Growth” ini dihadiri oleh para aktivis FOSSEI dari berbagai kampus di wilayah Regional Malang Raya. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa tentang prinsip-prinsip dasar kepemimpinan, serta menjadi bekal untuk tumbuh dan berkembang dalam kehidupan mereka sebagai pemimpin masa depan. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Fadilla Mahdi menyampaikan materi yang menggarisbawahi pentingnya sikap “Long Life Learner” atau pembelajar seumur hidup dalam perjalanan kepemimpinan. Menurut Bapak Fadilla, kepemimpinan yang efektif bukan hanya tentang kemampuan untuk mengarahkan orang lain, tetapi juga tentang kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Kepemimpinan yang baik, tambahnya, merupakan proses yang berkelanjutan, di mana seorang pemimpin harus terus mengembangkan diri, meningkatkan wawasan, dan membangun kualitas diri untuk dapat menghadapi tantangan yang ada. “Saya berharap, para peserta dapat memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai asas-asas kepemimpinan yang tidak hanya relevan dalam konteks organisasi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kepemimpinan adalah sebuah perjalanan yang harus terus digali dan dikembangkan,” ujar Bapak Fadilla dalam sesi pemaparan. Acara ini dihadiri oleh Pakar Ekonomi Syariah Bapak Akhmad Akbar Susamto, S.E., M.Phil., Ph.D (Dosen Universitas Gadjah Mada) dan Praktisi Ekonomi Syariah Nasional, sekaligus acara ini menjadi ajang silaturahmi bagi aktivis FOSSEI di Malang Raya, yang terdiri dari berbagai kampus, dan memberikan mereka kesempatan untuk berbagi pengalaman serta belajar dari satu sama lain. Selain itu, para peserta diharapkan dapat membawa pulang wawasan dan keterampilan baru untuk diterapkan dalam aktivitas mereka sebagai mahasiswa dan calon pemimpin di masa depan. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para mahasiswa FOSSEI dapat lebih siap menghadapi tantangan dalam kehidupan dan memimpin dengan hati yang penuh dengan semangat belajar yang tidak pernah padam.

Lagi..!! Tim ILDC Prodi HKI Raih Juara dalam gelaran Lomba Debat Merak Hafara 2024 di Universitas Trunojoyo

Madura, 26 November 2024 – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim debat UMM berhasil meraih juara Ketiga dalam Lomba Debat Nasional Merak Hafara (Milad Rakyat HBS Min Fadli Rabbi) 2024 yang digelar di Universitas Trunojoyo Madura pada .Lomba Debat Nasional  diikuti oleh puluhan tim dari berbagai universitas di Indonesia. Tim K.H Mas Mansyur yang terdiri dari Shofwatun Nida (Angkatan 2022), Amru Fillah (Angkatan 2022), dan Galang Tito Pamungkas (Angkatan  2021) berhasil menonjolkan kemampuan analisis, argumentasi, dan kerja sama tim yang solid. Tema debat yang diadakan Oleh Universitas Trunojoyo Madura adalah  “Peran gen Post Zoomer dalam mewujudkan Indonesia Emas 2025” dianggap cukup menantang oleh para peserta. “Untuk lomba kali ini, mungkin kalau digambarkan perasaannya kurang lebih sama dengan sebelumnya yaitu deg-degan, takut karna lawannya lebih banyak dan universitas2 negeri dengan rate yang lebih tinggi,  terlebih kami harus mempersiapkan mosi sebanyak itu H-1 sebelum lomba menjadi tantangan tersendiri pada lomba kali ini, sekaligus bahagia karna berhasil lolos pada babak penyisihan. Namun tentunya ini menjadi pengalaman yang mengasikkan dan tak terlupakan. Ujar Shofwatun Nida’. Sebelum lomba, ada beberapa persiapan yang telah dilakukan oleh tim. “Persiapan terbesar sekaligus kendala kami adalah terkait pembedahan mosi perdebatan, dimana jangka waktu yang diberikan dari pembagian mosi hingga pelaksanaan debat hanya 1 hari, waktu yang cukup singkat untuk mempersiapkan argumentasi. Namun dari perlombaan ini kami menyadari bahwa di luar sana sangat banyak orang yang memiliki kemampuan dan kemauan luar biasa, sehingga ini merupakan pengalaman yang sangat berharga walaupun kami sedikit merasa kecewa dengan hasil yang didapatkan. Semoga dari perlombaan ini dapat menjadi pemantik kami untuk terus mengembangkan diri ke depan” jelas Amru Fillah. Adapun trik untuk membagi waktu antara kuliah, organisasi dan perlombaan disampaikan oleh Galang Tito Pamungkas, “membagi waktu antara kuliah dengan aktivitas lain seperti organisasi dan juga lomba, saya lebih menerapkan konsep skala prioritas, mana prioritas yang lebih utama, jika prioritas kedepan kuliah maka setelah itu disisihkan waktu untuk kegiatan lain demi menunjang kapasitas diri ketika kuliah. dan juga peran dari kampus cukup untuk menunjang mahasiswa meraih prestasi, saya ingat dulu sebelum lomba debat ada pemetaan dan seleksi untuk memberikan wadah dan kesempatan untuk mahasiswa yang lain”. tuturnya. “Saya berharap untuk kedepan, semoga tim lomba debat HKI UMM atau ILDC ini senantiasa aktif mengikuti lomba-lomba debat regional, nasional, bahkan internasional serta terus beregenerasi dari angkatan ke angkatan selanjutnya. Bangga menjadi Tim ILDC HKI UMM” tutup mereka. Selamat Tim Debat Prodi HKI, terus berprestasi. (ika)

MAHASISWI PBA UMM RAIH JUARA 1 LKTIQ TINGKAT NASIONAL DENGAN KARYA “CYBER COUNSELING”

PBA UMM News – Dua Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang sukses menarik perhatian dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (LKTIQ) dalam UNNES Islamic Fair (UIF) yang berlangsung di Universitas Negeri Semarang pada 1-9 November 2024. Perwakilan mahasiswa UMM ini membawa karya ilmiah berjudul “Cyber Counseling: Inovasi Aplikasi untuk Mengatasi Gangguan Mental Health”, mereka menawarkan solusi konkret untuk mendukung kesehatan mental generasi Z di era digital. Innasatun Nabilatin Nadif, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa karya ini bertujuan memberikan dampak nyata bagi generasi muda. “Melalui karya ini, kami berharap dapat membantu Gen Z dalam mengatasi tantangan kesehatan mental yang dihadapi di era digital,” ujarnya. Tema ini dipilih bukan tanpa alasan. Menurut tim yang terdiri dari Khoirul Umar (Ilmu Komunikasi), Innasatun Nabilatin Nadif (Pendidikan Bahasa Arab), dan Ameliya Dalallul Hanan (Pendidikan Bahasa Arab), aplikasi “Curahkan’s Cyber Counseling” dirancang sebagai solusi inovatif yang menggabungkan empati sosial dengan teknologi digital. Proses pembuatannya didukung oleh mentor, Ibu I’anatut Thoifah, S.Pd.I., M.Pd.I. Meski waktu persiapan hanya sekitar satu minggu, tim mampu memaksimalkan usaha mereka melalui pembagian tugas yang jelas dan pelatihan intensif. “Kami membagi jobdesk masing-masing untuk penguatan materi, baik dalam penulisan maupun saat presentasi di hadapan dewan juri,” tambah Innas. Ajang LKTIQ ini diikuti oleh 26 universitas dari berbagai daerah, membuat persaingan cukup ketat. Namun, semangat tim tetap tinggi. “Generasi Z tumbuh di era di mana kesempurnaan adalah standar, dan itu menciptakan tekanan yang luar biasa. Maka dari itu, kesehatan mental adalah mahkota yang tak terlihat, namun sangat berharga. Rawatlah dengan baik,” ungkap mereka, memberikan pesan inspiratif kepada para pembaca. Inovasi mereka diharapkan menjadi langkah awal dalam memberikan kontribusi nyata untuk mendukung kesehatan mental generasi muda di tengah tantangan dunia modern. [NASP, PRN, HF, ATy]

DISEMINASI HASIL RISET MODERASI BERAGAMA “Dimensi Ideologi dan Kepemimpinan dalam Penguatan dan Pelembagaan Moderasi Beragama di Muhammadiyah”

Pada hari Senin, 25 November 2024, telah diselenggarakan kegiatan Diseminasi Hasil Riset bertajuk “Dimensi Ideologi dan Kepemimpinan dalam Penguatan dan Pelembagaan Moderasi Beragama di Muhammadiyah”. Acara ini diadakan oleh Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Mini Hall GKB IV Lantai 4 UMM. Kegiatan ini dihadiri oleh dosen, guru agama, mahasiswa, serta praktisi di bidang keagamaan. Acara dibuka dengan sambutan Bapak Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si dan dilanjutkan oleh Bapak Dr. Mohammad Kamaluddin, M.Si. Kepala Program Studi Pendidikan Agama Islam (Kaprodi PAI) UMM. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih kepada Dekan Fakultas Agama Islam UMM, para pendidik, serta mahasiswa PAI angkatan 2021-2022 atas partisipasi mereka. Beliau juga menekankan pentingnya moderasi beragama sebagai bagian integral dari kehidupan keagamaan, khususnya dalam konteks Muhammadiyah. Sambutan kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Khozin, M.Si., Dekan Fakultas Agama Islam UMM. Dalam kesempatan ini, beliau menggarisbawahi bahwa Muhammadiyah berupaya menjaga identitasnya di tengah berbagai tantangan, termasuk arus kristenisasi, sekaligus menegaskan bahwa gerakan ini bukanlah bagian dari Wahabisme. Pembicara utama dalam kegiatan ini adalah Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Guru Besar Sosiologi Agama di UMM, yang memaparkan tema “Dimensi Kepemimpinan dan Ideologi dalam Penguatan dan Pelembagaan Moderasi Beragama di Muhammadiyah.” Dalam paparannya, Prof. Syamsul menjelaskan ketertarikan peneliti terhadap kebijakan Kementerian Agama mengenai moderasi beragama sebagai landasan untuk memahami teks (Al-Qur’an) dan konteks (keragaman masyarakat).Ia juga menguraikan dua dimensi utama yang menjadi fokus penelitian ini, yaitu ideologi dan kepemimpinan. Muhammadiyah, menurut beliau, adalah gerakan Islam moderat yang memiliki ciri kepemimpinan visioner, terutama di bawah Haedar Nashir. Kepemimpinan ini berhasil merekonstruksi ideologi Muhammadiyah secara sistematis dan berkelanjutan. Pembicara kedua, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam dari Kementerian Agama Republik Indonesia, memberikan perspektif tambahan mengenai moderasi beragama. Beliau menekankan bahwa istilah moderasi beragama memiliki akar dalam tradisi intelektual Muhammadiyah, namun perlu digunakan dengan bijaksana agar tidak menjadi alat untuk memarginalisasi kelompok lain. Dalam sesi diskusi, Prof. Ahmad menyampaikan perlunya pergeseran fokus dari perdebatan metafisika menuju ranah etika, sehingga tercipta dialog yang konstruktif dan inklusif antar kelompok masyarakat. Kegiatan ini diharapkan memberikan wawasan baru bagi para peserta mengenai pentingnya nilai-nilai moderasi beragama, sekaligus memperkuat pemahaman tentang peran kepemimpinan moderat dalam menjaga harmoni keagamaan di Indonesia. Melalui diseminasi ini, nilai-nilai moderasi diharapkan dapat lebih mengakar di dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam konteks Muhammadiyah.