Laboratorium Syariah FAI UMM Lakukan Pengukuran Arah Kiblat di Bakal Masjid SMK Nasional Malang

  [Malang, 3 April 2025 ] – Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memberikan layanan nyata kepada masyarakat melalui kegiatan pengukuran arah kiblat. Kali ini, tim Laboratorium Syariah hadir di SMK Nasional Malang untuk melakukan pengukuran arah kiblat di lokasi bakal Masjid sekolah tersebut. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh M. Syamsu Alam Darajad, M.A., bersama Kepala Laboratorium Syariah, R. Tanzil Fawaiq Sayyaf. Mereka memanfaatkan metode ilmiah yang akurat agar arah kiblat masjid dapat dipastikan sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Menurut M. Syamsu Alam Darajad, pengukuran arah kiblat merupakan langkah penting sebelum sebuah masjid digunakan sebagai tempat ibadah. “Arah kiblat adalah syarat sah shalat, sehingga harus dipastikan akurat. Kesalahan dalam menentukan arah kiblat akan berdampak pada kualitas ibadah jamaah. Karena itu, Laboratorium Syariah FAI UMM senantiasa siap membantu masyarakat untuk memberikan layanan terbaik,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Laboratorium Syariah R. Tanzil Fawaiq Sayyaf menegaskan bahwa pengabdian ini merupakan bagian dari komitmen UMM dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat. “Kami terbuka menerima permintaan pengukuran maupun koreksi arah kiblat, baik untuk masjid maupun mushola. Harapannya, keberadaan Lab Syariah UMM bisa menjadi rujukan bagi masyarakat dalam persoalan-persoalan keagamaan yang membutuhkan kepastian hukum dan syariat,” tuturnya. Pihak SMK Nasional Malang menyambut baik dan sangat mengapresiasi bantuan dari Laboratorium Syariah FAI UMM ini. Mereka merasa terbantu karena pengukuran arah kiblat merupakan hal yang sangat krusial dalam pembangunan masjid. “Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim dari FAI UMM. Kehadiran mereka memberikan ketenangan bagi kami, karena arah kiblat masjid yang akan kami bangun sudah dipastikan benar,” ungkap salah satu perwakilan sekolah. Dengan adanya kegiatan ini, Laboratorium Syariah FAI UMM tidak hanya memperkuat peran akademik, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Kegiatan pengukuran arah kiblat ini diharapkan menjadi jembatan sinergi antara dunia pendidikan tinggi dengan kebutuhan umat. (im)

Dalami Pendirian Akta Perusahaan dan Contract Drafting, Mahasiswa CoE Prodi HKI UMM Magang di Kantor Notaris

Malang, 2 September 2024– Tiga mahasiswa dari Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM) resmi memulai magang di Kantor Notaris Muhkam Arief Widodo, S.H., M.Kn pada hari Senin, 2 September 2024. Magang ini merupakan bagian dari praktik Kelas Profesional Corporate Law School yang diselenggarakan oleh Prodi Hukum Keluarga Islam FAI UMM. Peserta magang yang berkesempatan untuk menimba ilmu dan pengalaman langsung di lapangan adalah Syeni Razita, Anatsa Dhiya Ulhaq, dan Ahmad Luthfi Wahyu Pratama. Mereka akan dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Soni Zakaria, S.Sy., M.H. Kegiatan magang ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan teori yang telah dipelajari di bangku kuliah ke dalam praktik nyata di dunia kerja, khususnya dalam bidang hukum notaris dan korporasi. Selama tiga bulan, para mahasiswa akan terlibat langsung dalam aktivitas sehari-hari di kantor notaris, mulai dari administrasi hingga pengurusan dokumen hukum. Tempat magang ini berlokasi di Kantor Notaris Muhkam Arief Widodo, S.H., M.Kn yang dikenal sebagai salah satu kantor notaris yang memiliki reputasi baik di Malang. Kantor ini telah menjadi mitra strategis bagi UMM dalam memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa.   Magang ini akan berlangsung selama tiga bulan, dimulai pada 2 September 2024 hingga 2 Desember 2024.   Kegiatan magang ini penting sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa, khususnya dalam bidang hukum keluarga Islam dan hukum korporasi. Dengan pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan praktis yang relevan dengan dunia kerja serta memperluas wawasan mereka mengenai aspek-aspek hukum yang aplikatif.   Proses magang ini dimulai dengan acara sambutan yang dipimpin oleh Muhkam Arief Widodo, S.H., M.Kn, beserta staf kantor. Dalam sambutannya, Muhkam Arief Widodo menyampaikan pentingnya etika profesional dan disiplin dalam bekerja sebagai landasan utama dalam menjalani magang. Selain itu, para mahasiswa juga diberikan penjelasan mengenai tugas dan tanggung jawab yang akan mereka emban selama magang.   Dengan magang ini, diharapkan mahasiswa dapat menyerap pengetahuan dan pengalaman sebanyak mungkin, serta mampu mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dalam konteks dunia kerja nyata. Program ini juga menjadi langkah konkret bagi Prodi Hukum Keluarga Islam FAI UMM dalam mempersiapkan lulusannya untuk siap bersaing di dunia profesional, khususnya dalam bidang hukum.       Shared:

KULIAH PRAKTISI 2025: PBA UMM DATANGKAN MANAGING DIRECTOR PERUSAHAAN PENERJEMAH TERNAMA DI JAKARTA

PBA UMM News – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan kuliah praktisi di Aula GKB IV Lantai 4 pada Selasa, 15 Juli 2025, pukul 08.00-16.00 WIB. Kegiatan ini bertemakan “Menyiapkan Mental Ke Dunia Industri dan Latihan Pitching Pengembangan Agensi Bahasa”. Kegiatan dibagi dalam 4 termin. Pertama, pembukaan oleh kaprodi PBA UMM (Mochammad Firdaus, M.Ed). Kedua, sesi pemberian materi oleh pemateri pertama Rika Agusmelda (Interpreter dan Managing Director CMM Translation Jakarta) yang dimoderatori oleh Anisatu Thoyyibah, S.Hum., M.Hum. Ketiga, saring pengalaman dan materi tentang keteknisian oleh Ramadhan Baharrizqi dan Nur Eka Asti Pratiwi (alumnus PBA UMM dan mahasiswa CoE batch 1 yang diterima kerja di CMM Translation). Keempat, pitching agensi bahasa oleh Rika Agusmelda yang dimoderatori oleh Dr. Muhammad Fadli Ramadhan, M.Pd. Materi yang diberikan ialah pemateri ialah “Mentalitas Memasuki Dunia Industri”. “Persaingan dunia kerja itu keras. Oleh karenanya harus mengupgrade skill diri, seperti Ms. Office, kemampuan berbahasa, dan sebagainya”, ujar Rika. Selain itu ia juga menambahkan bahwa jangan menghiasi diri kalian dengan hal-hal yang mendistrack diri. Adapun mentalitas yang dibutuhkan seperti kemauan, personal branding, public speaking/komunikasi terbuka, pandai bersilat lidah (memikat hati), jangan baper (ketangguhan mental), mau terus belajar, upgrade skill, Growth mindset (mau belajar), managerial waktu, kedisiplinan, tanggungjawab, ketekunan & konsistensi, serta profesional. Selain itu ada tantangan dalam dunia industri seperti tekanan target & deadline, adaptasi budaya kerja, kritik & evaluasi berkala, serta tuntutan multitasking & disiplin tinggi. Sehingga diharapkan para peserta atau mahasiswa bisa beradapatasi dalam dunia kerja, terutama bagi siapa-siapa saja yang hendak membangun agensi atau usaha. [ATy]

Fortasi MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang: Mahasiswa PKL PAI UMM Mendukung Kegiatan GEMPITA

Pada hari Kamis, 24 Juli 2025, MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang menggelar acara Fortasi. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sekolah tersebut mengadakan kegiatan GEMPITA (Gebyar Mumtaza Puruhita) dengan tema “Suara dari Tanah Papua.” Tema tersebut dipilih untuk mengangkat isu mengenai tambang yang ada di Raja Ampat, sekaligus untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian alam Papua dan keberagaman budaya masyarakatnya. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Papua kepada para siswa di MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang. Mahasiswa PKL Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ikut serta mendukung dan memeriahkan dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan acara tersebut. Selama acara berlangsung, berbagai kegiatan menarik diselenggarakan, mulai dari drama, tarian tradisional Papua, hingga penampilan musik yang memeriahkan suasana. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa-siswi MA Muhammadiyah 1 Plus, namun juga turut melibatkan Kepala Sekolah, Guru, dan mahasiswa PKL PAI UMM yang memberikan kontribusi dalam mendukung acara tersebut. Keseruan acara semakin terasa dengan adanya sharing session yang diadakan untuk membahas pentingnya menjaga kelestarian alam dan budaya, serta untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan keanekaragaman budaya. Para siswa mendapat kesempatan untuk belajar langsung tentang keberagaman budaya Papua, yang tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi juga lewat pertunjukan yang penuh warna.             Kepala Sekolah MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang, Bapak Akh Ari Wibowo, M.Pd, menyatakan pujian dan sanjungan untuk IPM dan seluruh pihak yang terlibat dalam acara ini. ” Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Semoga acara seperti ini bisa terus diselenggarakan lagi untuk menginspirasi siswa-siswi untuk lebih kreatif dan peduli terhadap lingkungan serta budaya kita,”  ujar beliau. ” Kami senang bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini. Harapan kami, acara ini bisa membuka wawasan siswa tentang pentingnya menjaga alam dan budaya,” ujar kelompok PKL yang terlibat dalam acara ini. ” Acara ini memberikan banyak pembelajaran baru, terutama tentang keberagaman budaya Papua. Kami merasa lebih bangga menjadi bagian dari Indonesia," ujar salah satu siswa MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang. Dengan adanya acara ini, MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang menunjukkan komitmennya dalam memberikan wadah bagi generasi muda untuk mengapresiasi dan melestarikan kekayaan alam serta budaya Indonesia. Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki wawasan luas tentang pentingnya menjaga lingkungan dan budaya, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri mereka sebagai bagian dari bangsa yang kaya akan keragaman. Dengan suksesnya acara ini, MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang menunjukkan upayanya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter dan pengetahuan para siswanya, serta memberikan mereka pengalaman yang berharga untuk diterapkan di masa depan. (dian)

Jejak Akademisi UMM di Oxford: Prof. Syamsul Arifin Wakili Indonesia di Forum Bergengsi ICLRS

  Christ Church, University of Oxford, Inggris, pertengahan Juli 2025. Di antara deretan bangunan bersejarah yang menjadi saksi lahirnya para cendekiawan dunia, hadir seorang akademisi dari Malang. Dialah Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang menorehkan prestasi dengan menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dalam ajang bergengsi Young Scholars Fellowship on Religion and the Rule of Law yang diselenggarakan oleh The International Center for Law and Religion Studies (ICLRS). Bagi Syamsul, kehadirannya di Oxford bukan sekadar perjalanan akademik. Dia membawa serta nama UMM, Muhammadiyah, dan juga Indonesia dalam diskursus global tentang hukum, agama, dan hak asasi manusia. “Program ini memberi ruang untuk belajar langsung dari profesor yang ahli di bidangnya. Pengalaman tersebut juga menjadi sarana untuk merefleksikan dan menyegarkan gagasan sebagai akademisi,” ungkapnya dalam rilis UMM, Rabu (20/8/2028). Perjalanan menuju Oxford tidaklah mudah. Ratusan akademisi dari berbagai negara mendaftar untuk fellowship ini. Dari jumlah itu, hanya 50 pelamar yang berkesempatan menjalani wawancara. Dan akhirnya, 17 orang dari 16 negara dipilih untuk berangkat ke Inggris. Nama Syamsul Arifin tercatat di antara mereka, menjadikannya satu-satunya representasi dari Indonesia. Selama tiga minggu penuh, para peserta mengikuti kuliah intensif, seminar, dan diskusi mengenai isu-isu hukum, agama, dan hak asasi manusia. Mereka juga melakukan kunjungan ke lembaga penting di London, mulai dari parlemen hingga Mahkamah Konstitusi. “Tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga membuka jejaring internasional lintas negara,” tutur Syamsul. Dalam forum tersebut, Syamsul memilih tema yang sangat relevan dengan konteks Indonesia: pendidikan agama bagi mahasiswa non-Muslim di perguruan tinggi Muhammadiyah.               Dia meneliti implementasi UU No. 20 Tahun 2003 dan PP No. 55 Tahun 2007 di kampus-kampus dengan mayoritas mahasiswa non-Muslim, seperti di Kupang, Sorong, dan Maumere. Hasil kajiannya kemudian ia tuangkan dalam karya berjudul: “When Constitutional Rights Meet Institutional Identity: A Case Study of Religious Education for Christian-Majority Students at Muhammadiyah Universities in Eastern Indonesia.” Tema ini bukan tanpa alasan. Syamsul menemukan fenomena menarik: di sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah di kawasan timur Indonesia, mahasiswa non-Muslim bahkan mencapai 60–85 persen. Pertanyaan mendasarnya, apakah hak mereka memperoleh pendidikan agama sesuai keyakinan telah benar-benar terpenuhi? Pengalaman intelektual di Oxford meneguhkan langkah Syamsul untuk terus memberi kontribusi nyata, tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam perumusan kebijakan pendidikan agama di Indonesia. “Saya berharap semakin banyak dosen UMM yang berani mendaftar dalam fellowship ini. Kita punya potensi besar untuk ikut dalam percakapan global,” ujarnya penuh optimisme. Keikutsertaan Syamsul Arifin di forum internasional ini menjadi bukti bahwa dosen-dosen Muhammadiyah mampu menembus panggung akademik dunia. Bukan hanya membanggakan UMM, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam wacana global tentang hukum, agama, dan hak asasi manusia. (disadur dari website pwmu)

Beyond The Comfort Zone: Pita Anjarsari Ketua KPU Madiun, Alumni PAI UMM Dorong Wisudawan FAI Raih Kesuksesan Tanpa Batas Profesi

Malang, 11 Agustus 2025 – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan inspirasi baru bagi mahasiswa dan alumni melalui kegiatan bertajuk “Beyond The Comfort Zone: Peluang Karir Alumni FAI UMM – Membuka Pintu Kesuksesan Tanpa Batas Profesi”. Kegiatan yang digelar di Aula GKB 3 UMM ini menghadirkan narasumber Pita Anjarsari, S.Pd., M.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UMM yang kini sukses meniti karir sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Madiun. Dalam paparannya, Pita berbagi kisah perjalanan karirnya, mulai dari latar belakang sebagai lulusan FAI UMM hingga peran strategisnya di dunia politik dan kepemiluan. Pengalaman tersebut menjadi bukti nyata bahwa alumni FAI tidak hanya berkiprah di dunia pendidikan, tetapi juga mampu menembus ranah profesional lain yang menuntut kompetensi luas, kepemimpinan, dan integritas. Berani Melangkah Keluar dari Zona Nyaman Pita menegaskan bahwa kesuksesan dimulai ketika seseorang berani keluar dari zona nyaman. Menurutnya, banyak lulusan yang masih terpaku pada jalur karir konvensional sesuai latar belakang akademik, padahal dunia kerja menawarkan peluang lebih luas. “Zona nyaman itu ibarat pagar yang membatasi potensi diri. Ketika kita terlalu lama berada di dalamnya, kita tidak berkembang. Padahal, keberanian untuk melangkah keluar bisa membuka pintu kesempatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya,” jelasnya. Ia memberi contoh perjalanan dirinya yang awalnya berprofesi sebagai pendidik, namun kemudian memutuskan untuk berani mencoba tantangan baru di dunia politik. Keputusan tersebut membawanya pada posisi strategis sebagai Ketua KPU Kota Madiun, sebuah profesi yang jauh dari jalur awal pendidikannya, namun justru membuka ruang pengabdian lebih luas. Lebih lanjut, Pita menyampaikan bahwa lulusan FAI UMM memiliki keunggulan unik yang menjadi modal penting dalam menembus berbagai bidang profesi. Nilai moral yang kuat, kemampuan komunikasi interpersonal, serta pemahaman keagamaan yang mendalam menjadi diferensiasi alumni FAI dibandingkan lulusan lain. “Banyak yang beranggapan alumni FAI hanya bisa menjadi guru. Padahal, nilai moral yang kita bawa, kemampuan komunikasi, serta keilmuan agama bisa diaplikasikan di banyak profesi. Justru itu yang membuat alumni FAI relevan di berbagai bidang, termasuk politik, hukum, media, maupun sektor sosial,” ujarnya. Menurut Pita, keberanian alumni untuk mencoba hal baru adalah kunci untuk meraih peluang. Dunia kerja saat ini bergerak cepat dan penuh dinamika. Mereka yang berani bereksperimen dengan jalur karir berbeda, akan lebih siap menghadapi tantangan global. “Kalau kita hanya terpaku menjadi guru, padahal punya potensi lebih, kita justru membatasi diri sendiri. Alumni FAI harus berani melangkah keluar, karena dunia di luar sana membutuhkan perspektif baru, ide segar, dan keberanian untuk membawa perubahan,” terangnya. Keterampilan yang Wajib Dimiliki Pita juga menekankan sejumlah keterampilan esensial yang wajib dikuasai mahasiswa dan alumni agar mampu bersaing di dunia kerja modern. Beberapa di antaranya adalah: Komunikasi efektif, baik lisan maupun tulisan. Literasi digital, menguasai teknologi informasi untuk mendukung pekerjaan. Manajemen waktu dan proyek, agar mampu bekerja efisien. Negosiasi, untuk membangun kesepakatan dan memengaruhi keputusan. Networking, memperluas jaringan relasi yang bermanfaat. Kreativitas problem solving, berpikir inovatif dalam menyelesaikan tantangan. “Kalau alumni ingin bersaing, jangan hanya mengandalkan ijazah. Keterampilan-keterampilan ini yang akan membedakan kalian dengan yang lain,” tegas Pita. Sesi pelatihan ini semakin hidup dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa. Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana cara membuka peluang baru selain menjadi guru. Menjawab hal tersebut, Pita menekankan pentingnya eksplorasi dan keberanian mencoba jalur karir lain. “Cobalah mulai dari hal kecil. Misalnya aktif di organisasi, menulis opini, ikut kegiatan sosial, atau mencoba magang di instansi berbeda. Dari situ kita akan melihat potensi lain yang mungkin lebih sesuai dengan diri kita,” jawabnya. Pertanyaan lain yang muncul adalah tentang bagaimana cara beradaptasi ketika bekerja di lingkungan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Menanggapi hal ini, Pita menyebutkan bahwa fleksibilitas dan kemauan belajar adalah kunci utama. “Jangan takut berbeda bidang. Justru ketika kalian masuk ke lingkungan yang asing, kalian ditantang untuk belajar lebih cepat. Itulah yang membuat kita tumbuh,” jelasnya. Di akhir sesi, Pita memberikan pesan motivasi agar mahasiswa FAI UMM tidak ragu untuk melangkah lebih jauh. Menurutnya, lulusan FAI memiliki bekal moral, ilmu, dan jaringan yang kuat, tinggal bagaimana mereka berani mengambil langkah konkret untuk memanfaatkannya. “Kesuksesan bukan hanya soal profesi, tapi soal keberanian mengambil keputusan. Jangan takut gagal, karena setiap kegagalan adalah proses belajar. Yang terpenting adalah jangan berhenti mencoba dan terus berusaha memberikan manfaat di mana pun kita berada,” pungkasnya. Kegiatan Beyond The Comfort Zone ini menegaskan komitmen FAI UMM dalam mendukung mahasiswa dan alumni agar siap menghadapi tantangan global. Melalui pengalaman inspiratif alumni yang sukses meniti karir di luar bidang konvensional, diharapkan mahasiswa FAI UMM semakin percaya diri bahwa kesuksesan dapat diraih tanpa batas profesi, asalkan berani keluar dari zona nyaman dan terus mengembangkan diri. (ika)  

Bekali Mahasiswa dengan Potensi Diri Menuju Karir ASN, FAI UMM Undang Alumni berprofesi Hakim Yustisial

    Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kegiatan Pelatihan Memasuki Dunia Kerja pada Senin, 11 Agustus 2025 bertempat di Aula GKB 3 UMM. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa tingkat akhir dengan tujuan membekali mereka keterampilan, pengetahuan, dan kesiapan mental dalam menghadapi dunia kerja, khususnya bagi yang berencana meniti karir sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Pelatihan ini menghadirkan narasumber utama, yaitu Rendra Widyakso, S.H., S.H., M.H., seorang Hakim Yustisial Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI sekaligus alumni Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) FAI UMM. Kehadiran beliau memberikan motivasi tersendiri, karena sebagai alumni FAI UMM beliau telah berhasil meniti karir di Mahkamah Agung RI. Kenali Potensi Diri Sejak Awal Dalam pemaparannya, Rendra menekankan pentingnya mahasiswa untuk mengenali potensi diri sejak dini. Menurutnya, setiap orang memiliki kelebihan yang dapat dijadikan modal dalam menapaki karir, termasuk sebagai ASN. “Kenali potensi diri, lakukan riset terhadap kemampuan diri sendiri. Apa yang kalian kuasai, apa yang menjadi passion, dan bagaimana potensi itu bisa berkembang. Dengan mengenal diri, maka kita bisa menyiapkan langkah lebih terarah dalam berkarir,” jelas Rendra. Ia menambahkan bahwa proses mengenali diri tidak bisa instan, melainkan harus ditempuh melalui pengalaman, evaluasi diri, serta kemauan untuk belajar secara terus-menerus. Lebih jauh, Rendra juga menyinggung konsep hukum alam yang berlaku dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari aturan sosial, ekonomi, hingga pendidikan. Menurutnya, setiap individu yang ingin sukses harus memahami dan menyesuaikan diri dengan hukum alam tersebut. “Dalam hidup ada aturan, ada hukum ekonomi, ada etika dalam pendidikan. Semuanya itu hukum alam yang harus kita pahami. Kalau kita melawan, pasti akan kesulitan. Maka, untuk bisa sukses, kita harus mengikuti aturan itu dengan cara yang benar,” terangnya. Rendra juga memberikan tips praktis bagaimana cara menjaga dan mengasah pengetahuan agar tidak mudah hilang. Ia menekankan pentingnya belajar dengan menulis serta belajar dengan mengucapkan seperti layaknya berpidato. “Belajar itu jangan hanya dibaca. Kalau ditulis, pengetahuan akan lebih melekat. Kalau diucapkan, apalagi seperti berpidato, maka memori kita akan lebih kuat. Ini cara sederhana untuk menjaga daya ingat,” ungkapnya. Ia juga menyarankan mahasiswa untuk aktif mengikuti tes kepribadian agar lebih memahami kelemahan dan kelebihan diri. Tes ini penting sebagai bekal ketika memasuki dunia kerja yang menuntut kemampuan komunikasi, adaptasi, dan pengendalian diri. Selain kemampuan akademik, Rendra menekankan pentingnya jaringan atau networking dalam dunia kerja. Menurutnya, luasnya jaringan yang dimiliki seseorang akan memengaruhi seberapa besar dampaknya di masyarakat maupun lembaga. “Perluas jaringan kalian. Pertanyaannya bukan hanya seberapa banyak orang yang kalian kenal, tapi seberapa berdampak kalian bagi mereka. Jaringan bukan sekadar soal kenalan, tapi tentang kontribusi dan nilai yang bisa kita bawa,” ujarnya. Dalam konteks tertentu, ia juga menyinggung fenomena ordal (orang dalam). Namun, Rendra menegaskan bahwa yang lebih utama adalah kualitas diri. Orang dalam bisa membantu, tetapi tanpa kemampuan, kesempatan itu tidak akan bertahan lama. Kebutuhan SDM di Lembaga Peradilan Agama Sebagai Hakim Yustisial di Badilag MA RI, Rendra turut menjelaskan bahwa kebutuhan sumber daya manusia di lingkungan peradilan agama masih terbuka luas. Mahasiswa lulusan FAI, khususnya Prodi HKI, memiliki peluang besar untuk berkarir di lembaga tersebut. “Peradilan Agama membutuhkan banyak SDM berkualitas. Lulusan FAI UMM, khususnya HKI, punya potensi besar untuk masuk ke dalamnya. Bekal keilmuan syariah yang dipadukan dengan wawasan hukum kontemporer sangat relevan dengan kebutuhan lembaga,” terangnya. Kehadiran Rendra sebagai alumni sukses memberi motivasi kuat bagi mahasiswa. Ia menegaskan bahwa perjalanan menuju karir ASN tidak mudah, tetapi dengan kerja keras, disiplin, dan kejujuran, semua peluang dapat diraih.“Menjadi ASN bukan sekadar mencari pekerjaan, tetapi juga pengabdian. Kalian harus siap bekerja melayani masyarakat, menjunjung integritas, dan memberi manfaat. Itulah esensi menjadi aparatur sipil negara,” pesannya. Kegiatan Pelatihan Memasuki Dunia Kerja ini menjadi salah satu langkah strategis FAI UMM untuk mendampingi mahasiswa menjelang kelulusan. Dengan menghadirkan alumni yang kini menjabat di lembaga tinggi negara, mahasiswa tidak hanya mendapat pengetahuan praktis, tetapi juga inspirasi nyata bahwa peluang karir terbuka lebar asalkan diiringi dengan persiapan yang matang. Melalui pelatihan ini, diharapkan lulusan FAI UMM tidak hanya siap memasuki dunia kerja secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan manajerial diri, jaringan yang luas, serta semangat pengabdian yang tinggi. Dengan bekal itu, mahasiswa FAI UMM diyakini mampu menjadi generasi muda berintegritas yang siap mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara.

Studium Generale dari Ali Muthohorin Wakil Walikota Malang alumni HKI UMM : Membekali Lulusan dengan Modal Ilmu, Integritas, dan Spirit Pengabdian

Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar prosesi Yudisium Periode III Tahun 2025 pada Selasa, 12 Agustus 2025 bertempat di Aula GKB 3 UMM. Acara ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi untuk memasuki tahap baru pengabdian di tengah masyarakat. Selain prosesi yudisium, kegiatan ini juga diisi dengan Studium Generale yang menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ali Muthohirin, S.Sy., Wakil Wali Kota Malang sekaligus alumni Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) FAI UMM. Kehadiran beliau menjadi kebanggaan tersendiri karena sosok alumni sukses dapat berbagi pengalaman, motivasi, sekaligus pesan moral bagi para lulusan agar senantiasa menebar manfaat, menjunjung kejujuran, dan menjaga marwah sebagai anak FAI. Dalam sambutan pembukaannya, pimpinan FAI UMM menegaskan bahwa yudisium bukan hanya seremonial kelulusan, melainkan pengukuhan status mahasiswa yang telah ditempa dalam tradisi akademik dan moralitas Islami. FAI UMM selama ini berkomitmen melahirkan sarjana yang tidak sekadar menguasai pengetahuan, tetapi juga berintegritas, siap menghadapi tantangan zaman, dan mampu menjawab kebutuhan umat. “Yudisium adalah awal perjalanan pengabdian. Setelah ini, para lulusan akan menghadapi dunia nyata dengan tantangan yang kompleks. Kami berharap, seluruh lulusan FAI UMM senantiasa menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebermanfaatan, serta semangat dakwah yang menyejukkan,” tegas Dekan FAI UMM dalam sambutannya. Dalam sesi Studium Generale, Ali Muthohirin, S.Sy. menyampaikan materi sarat makna dengan tema besar seputar pentingnya integritas dan kontribusi anak FAI di masyarakat. Menurutnya, ada dua prinsip dasar yang harus menjadi pegangan setiap lulusan FAI, yakni bermanfaat bagi orang lain dan menjaga kejujuran.“Anak FAI harus dikenal sebagai pribadi yang jujur, berintegritas, dan bermanfaat. Itu adalah identitas utama kita di masyarakat. Tidak peduli di bidang apapun kita berkarya—akademik, sosial, politik, maupun dakwah—kejujuran adalah fondasi yang tidak bisa ditawar,” ungkap Wakil Wali Kota Malang itu. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dalam konteks sosial dan politik, terdapat dua modal utama yang menjadi kunci kesuksesan, yakni legitimate of power dan social of power. Modal legitimasi kekuasaan dan modal sosial, menurutnya, hanya bisa diperoleh jika seseorang dipandang baik, dipercaya, dan diterima di tengah masyarakat. Ali juga menyinggung bahwa perjalanan seorang sarjana FAI tidak berhenti pada ijazah yang diterima. Modal ilmu yang diperoleh harus senantiasa diiringi dengan prinsip teologis dan spirit ajaran para salafus saleh—generasi pendahulu yang tulus mengabdi demi kemaslahatan umat. “Ilmu yang kalian peroleh harus menjadi bekal untuk mengabdi. Ingat, prinsip-prinsip teologis harus menjadi modal utama, sebab dari situlah lahir moralitas, etika, dan orientasi pengabdian. Salafus saleh mengajarkan kita untuk menjadikan ilmu sebagai alat pengabdian, bukan sekadar alat mencari keuntungan,” tegasnya. Menurut Ali, mahasiswa FAI UMM telah mendapatkan bekal pendidikan yang tidak hanya akademik, tetapi juga spiritual dan moral. Hal ini yang membedakan lulusan FAI dengan lulusan perguruan tinggi lainnya. Dengan ciri khas ini, ia meyakini lulusan FAI memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat. Tantangan Teknologi dan Perubahan Sosial Di sisi lain, Wakil Wali Kota Malang ini juga mengingatkan para lulusan akan tantangan besar yang dihadapi generasi sekarang, yakni derasnya arus teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat. Digitalisasi, globalisasi, dan disrupsi informasi menuntut lulusan untuk adaptif, kreatif, sekaligus kritis dalam menyikapi perkembangan zaman. Namun demikian, ia menegaskan bahwa ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, yaitu nilai agama dan moralitas. Nilai-nilai inilah yang menjadi peluang besar sekaligus pembeda bagi anak FAI. “Teknologi bisa menggantikan banyak hal, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan nilai agama dan moralitas. Inilah peluang sekaligus tantangan kalian. Anak FAI harus hadir sebagai penjaga moral, penyebar kebaikan, sekaligus penggerak perubahan yang tetap berpijak pada nilai-nilai agama,” ujarnya. Ali juga menegaskan bahwa setiap lulusan membawa nama baik FAI UMM ketika terjun ke masyarakat. Karena itu, menjaga perilaku, integritas, dan kontribusi positif adalah kewajiban.“Di mata masyarakat, kalian adalah wajah FAI UMM. Jadilah sosok yang dianggap orang baik. Ketika kalian dipercaya masyarakat, maka modal sosial dan legitimasi itu akan hadir dengan sendirinya. Itulah modal utama untuk menjadi pemimpin, penggerak, atau apapun peran yang kalian emban di tengah masyarakat,” pesannya. Acara Yudisium Periode III FAI UMM Tahun 2025 diakhiri dengan doa bersama dan sesi foto. Suasana penuh haru menyelimuti aula ketika para peserta yudisium menerima ucapan selamat dari dosen dan jajaran pimpinan fakultas. Melalui yudisium ini, FAI UMM berharap setiap lulusan mampu melangkah ke dunia kerja dan pengabdian dengan bekal ilmu, moralitas, serta semangat Islami yang kokoh. Prinsip teologis, nilai moral, dan integritas harus terus dijaga agar para alumni tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga membawa manfaat luas bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.  

FAI UAD dan FAI UMM Perkuat Kolaborasi Melalui Benchmarking dan Penandatanganan MoU

  Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta melakukan kunjungan benchmarking dan penjajakan kerjasama ke Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM) pada Jumat, 8 Agustus 2025, bertempat di ruang Micro Teaching FAI UMM. Rombongan FAI UAD terdiri atas tiga unsur dekanat, tiga laboran, dan sembilan tenaga kependidikan (tendik). Acara diawali dengan sambutan hangat dari Dekan FAI UMM, Prof. Dr. Khozin, M.Si., yang menyatakan kegembiraannya atas kunjungan antarkerabat PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah). Menurut beliau, kunjungan ini adalah wujud ukhuwah yang terus diperkuat, sekaligus momentum strategis untuk saling berbagi praktik terbaik—mulai dari pengelolaan akademik, fasilitas laboratorium, hingga strategi penerimaan mahasiswa baru (PMB). “Kami menyambut dengan sangat baik kunjungan dari FAI UAD. Ini menjadi kesempatan berharga untuk saling bertukar pengalaman dan memperkuat layanan akademik maupun nonakademik. Semoga melalui kunjungan ini, kerja sama akan segera diwujudkan secara nyata bertumpu pada bidang akademik, riset, dan pengembangan lembaga,” jelas Prof. Khozin. Dilanjutkan oleh sambutan Dekan FAI UAD, Dr. Arif Rahman, M.Pd.I., yang menyampaikan rasa syukur atas sambutan hangat dari FAI UMM. Beliau menegaskan bahwa tujuan utama benchmarking adalah mempererat ukhuwah sekaligus membuka peluang kolaborasi praktis. “FAI UMM telah menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai segi, termasuk inovasi akademik dan pelayanan. Kami berharap banyak belajar dari pengalaman FAI UMM untuk diterapkan di lingkungan FAI UAD,” ujar Dr. Arif Rahman. Ia menambahkan, “Kini saatnya PTMA berjalan bersama, bukan sendiri—sinergi adalah kunci menuju kemajuan bersama.” Setelah dialog, rombongan diajak melakukan tur kampus menggunakan mobil buggy. Agenda ini mencakup kunjungan ke kantor fakultas, ruang dosen, ruang kelas, serta berbagai laboratorium—termasuk Micro Teaching Room dan Laboratorium Syariah yang menjadi pusat pembelajaran inovatif. Para laboran dan tendik FAI UAD terlihat antusias berdiskusi dengan kolega mereka di FAI UMM, khususnya soal manajemen laboratorium, sistem administrasi, dan layanan akademik yang tertata rapi. Pengalaman langsung ini memberi pemahaman konkret atas operasional kampus berbasis layanan prima. Sebagai puncak kegiatan, dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara FAI UAD dan FAI UMM. MoU ini menjadi tonggak awal kerjasama resmi yang mencakup: Pertukaran mahasiswa dan dosen antar-fakultas. Penguatan riset bersama (joint research). Program pelatihan dan pengabdian masyarakat. Koordinasi strategi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). MoU ini bukan sekadar bentuk administratif, melainkan wujud komitmen kedua institusi untuk berjalan bersama dalam pengembangan kualitas pendidikan Islam di lingkungan PTMA. Kegiatan benchmarking ini tidak hanya sebagai ajang kunjungan, tetapi sebagai fondasi sinergi antar-perguruan tinggi. Bagi tendik dan laboran FAI UAD, pengalaman ini menjadi refleksi nyata layanan modern yang dapat diadaptasi di kampus masing-masing. Bagi mahasiswa, momentum ini membuka peluang besar: dari pertukaran akademik, riset kolaboratif, hingga pelatihan lintas fakultas yang memperkaya kurikulum dan pengalaman belajar. Secara keseluruhan, kunjungan benchmarking FAI UAD ke FAI UMM pada 8 Agustus 2025 berjalan lancar, penuh kehangatan, dan sarat dengan nilai ukhuwah. Dengan adanya penandatanganan MoU, kini terbuka jalan kolaborasi nyata dan berkelanjutan—tidak hanya bagi sivitas akademika kedua fakultas, tetapi juga bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan secara lebih luas. Semoga sinergi ini segera berbunga—menciptakan program-program inovatif, riset kolaboratif, dan peluang baru yang memperkuat peran Fakultas Agama Islam sebagai lembaga unggul berdaya saing global.

Mahasiswa PAI UMM Dukung Pembentukan Karakter Siswa lewat Program Magang di Sekolah

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan program magang di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang mulai Selasa (15/7/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi kurikulum Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) yang tidak hanya menekankan aspek pedagogik, tetapi juga mendorong peran aktif mahasiswa dalam membentuk karakter siswa melalui pendekatan langsung di sekolah. Kegiatan magang diawali dengan serah terima mahasiswa oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Drs HN Taufik MAg kepada Kepala Sekolah Dra Umi Makrufah MPd. Dalam sambutannya, DPL berharap para mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama kuliah dengan memberikan kontribusi nyata di dunia pendidikan. Sementara itu, kepala sekolah menyambut kehadiran mahasiswa dengan antusias dan menyebut kolaborasi kampus–sekolah sebagai bentuk sinergi pendidikan nasional. Aktif Terlibat dalam Fortasi dan Pembinaan Karakter Sejak hari pertama, mahasiswa magang langsung dilibatkan dalam Forum Ta’aruf Siswa (Fortasi), kegiatan orientasi bagi siswa baru yang sarat dengan nilai-nilai pembentukan karakter. Mereka turut membantu pelaksanaan teknis, mendampingi siswa, serta mengarahkan pengisian angket minat ekstrakurikuler. Selain itu, mahasiswa juga mengikuti kegiatan sosialisasi bahaya judi online yang disampaikan oleh Kepolisian, serta penyuluhan tentang penyalahgunaan narkoba oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Dua agenda tersebut menjadi bagian penting dari Fortasi sebagai bentuk edukasi dini kepada siswa mengenai ancaman sosial yang dapat merusak masa depan mereka. “Kami melihat langsung bagaimana pihak sekolah membekali siswa bukan hanya dengan pengetahuan akademik, tetapi juga kesadaran sosial dan moral yang kuat. Ini pengalaman berharga,” ujar Zulkifli, ketua kelompok magang. Pembiasaan Ngaji, Doa Bersama, dan Shalat Jamaah Karakter religius siswa juga dibentuk melalui program pembiasaan harian, seperti ngaji pagi bersama, dzikir dan doa, serta shalat Dzuhur berjamaah. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari dan melibatkan guru, siswa, serta mahasiswa magang. Setelah shalat berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan kultum (kuliah tujuh menit) yang disampaikan siswa secara bergilir. Mahasiswa PAI UMM ikut mendampingi sekaligus mencermati bagaimana pembiasaan religius diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan sekolah. “Pembiasaan ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya mengajarkan agama sebagai mata pelajaran, tetapi benar-benar menanamkannya dalam kehidupan sehari-hari siswa,” tambah Zulkifli. Apel Pagi dan Penanaman Disiplin serta Nasionalisme Kegiatan lain yang juga menjadi perhatian mahasiswa adalah apel pagi yang dilaksanakan rutin setiap hari. Apel diawali dengan pengucapan Janji Pelajar Muhammadiyah, dilanjutkan dengan amanat pembina apel, serta pengumuman dan penguatan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat kebangsaan. Melalui keterlibatan aktif dalam apel, mahasiswa menyaksikan secara langsung bagaimana karakter nasionalisme dan kedisiplinan siswa dibentuk secara konsisten. Mereka mencatat bahwa kegiatan ini menjadi momen reflektif yang membangun hubungan erat antara siswa, guru, dan seluruh elemen sekolah. Malam Bina Iman dan Taqwa Sebagai penutup pekan pertama, mahasiswa magang turut mendampingi kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) yang dilaksanakan selama dua hari, Kamis hingga Jumat (17–18/7). Kegiatan ini mencakup shalat tahajud, tadarus Al-Qur’an, kajian fiqih, nonton film edukatif, dan olahraga pagi. MABIT menjadi sarana efektif untuk memperkuat spiritualitas dan kebersamaan siswa. Mahasiswa merasakan langsung pengalaman membina dan mendampingi siswa dalam suasana edukatif yang penuh makna. Program magang mahasiswa PAI UMM ini sejalan dengan agenda nasional dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila yang religius, berjiwa kebangsaan, mandiri, dan gotong-royong. Kolaborasi kampus dan sekolah menjadi praktik nyata pendidikan karakter berbasis nilai dan pengalaman langsung. “Magang ini bukan hanya soal praktik mengajar, tetapi juga tentang bagaimana kami bisa berkontribusi menciptakan lingkungan belajar yang menanamkan nilai-nilai luhur,” tutup Syarif, salah satu mahasiswa magang. (Isa/AS)