
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan program magang di SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang mulai Selasa (15/7/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi kurikulum Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) yang tidak hanya menekankan aspek pedagogik, tetapi juga mendorong peran aktif mahasiswa dalam membentuk karakter siswa melalui pendekatan langsung di sekolah.
Kegiatan magang diawali dengan serah terima mahasiswa oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Drs HN Taufik MAg kepada Kepala Sekolah Dra Umi Makrufah MPd.
Dalam sambutannya, DPL berharap para mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama kuliah dengan memberikan kontribusi nyata di dunia pendidikan. Sementara itu, kepala sekolah menyambut kehadiran mahasiswa dengan antusias dan menyebut kolaborasi kampus–sekolah sebagai bentuk sinergi pendidikan nasional.
Aktif Terlibat dalam Fortasi dan Pembinaan Karakter
Sejak hari pertama, mahasiswa magang langsung dilibatkan dalam Forum Ta’aruf Siswa (Fortasi), kegiatan orientasi bagi siswa baru yang sarat dengan nilai-nilai pembentukan karakter. Mereka turut membantu pelaksanaan teknis, mendampingi siswa, serta mengarahkan pengisian angket minat ekstrakurikuler.
Selain itu, mahasiswa juga mengikuti kegiatan sosialisasi bahaya judi online yang disampaikan oleh Kepolisian, serta penyuluhan tentang penyalahgunaan narkoba oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Dua agenda tersebut menjadi bagian penting dari Fortasi sebagai bentuk edukasi dini kepada siswa mengenai ancaman sosial yang dapat merusak masa depan mereka.
“Kami melihat langsung bagaimana pihak sekolah membekali siswa bukan hanya dengan pengetahuan akademik, tetapi juga kesadaran sosial dan moral yang kuat. Ini pengalaman berharga,” ujar Zulkifli, ketua kelompok magang.
Pembiasaan Ngaji, Doa Bersama, dan Shalat Jamaah
Karakter religius siswa juga dibentuk melalui program pembiasaan harian, seperti ngaji pagi bersama, dzikir dan doa, serta shalat Dzuhur berjamaah. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari dan melibatkan guru, siswa, serta mahasiswa magang.
Setelah shalat berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan kultum (kuliah tujuh menit) yang disampaikan siswa secara bergilir. Mahasiswa PAI UMM ikut mendampingi sekaligus mencermati bagaimana pembiasaan religius diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan sekolah.
“Pembiasaan ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya mengajarkan agama sebagai mata pelajaran, tetapi benar-benar menanamkannya dalam kehidupan sehari-hari siswa,” tambah Zulkifli.
Apel Pagi dan Penanaman Disiplin serta Nasionalisme
Kegiatan lain yang juga menjadi perhatian mahasiswa adalah apel pagi yang dilaksanakan rutin setiap hari. Apel diawali dengan pengucapan Janji Pelajar Muhammadiyah, dilanjutkan dengan amanat pembina apel, serta pengumuman dan penguatan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat kebangsaan.
Melalui keterlibatan aktif dalam apel, mahasiswa menyaksikan secara langsung bagaimana karakter nasionalisme dan kedisiplinan siswa dibentuk secara konsisten. Mereka mencatat bahwa kegiatan ini menjadi momen reflektif yang membangun hubungan erat antara siswa, guru, dan seluruh elemen sekolah.
Malam Bina Iman dan Taqwa
Sebagai penutup pekan pertama, mahasiswa magang turut mendampingi kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) yang dilaksanakan selama dua hari, Kamis hingga Jumat (17–18/7). Kegiatan ini mencakup shalat tahajud, tadarus Al-Qur’an, kajian fiqih, nonton film edukatif, dan olahraga pagi.
MABIT menjadi sarana efektif untuk memperkuat spiritualitas dan kebersamaan siswa. Mahasiswa merasakan langsung pengalaman membina dan mendampingi siswa dalam suasana edukatif yang penuh makna.
Program magang mahasiswa PAI UMM ini sejalan dengan agenda nasional dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila yang religius, berjiwa kebangsaan, mandiri, dan gotong-royong. Kolaborasi kampus dan sekolah menjadi praktik nyata pendidikan karakter berbasis nilai dan pengalaman langsung.
“Magang ini bukan hanya soal praktik mengajar, tetapi juga tentang bagaimana kami bisa berkontribusi menciptakan lingkungan belajar yang menanamkan nilai-nilai luhur,” tutup Syarif, salah satu mahasiswa magang. (Isa/AS)