Tiga Jurnal Fakultas Agama Islam UMM Raih Akreditasi SINTA

Fakultas Agama Islam meraih hasil akreditasi untuk tiga Jurnal Ilmiah Periode III Tahun 2020. Hasil akreditasi jurnal tersebut termuat dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor B/1796/E5.2/KI.02.00/2020, tanggal 30 Desember 2020. Berdasarkan publikasi data SINTA (Science and Technology Index) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, saat ini jumlah Jurnal ilmiah di lingkungan FAI UMM yang telah terakreditasi jurnal nasional sebanyak 3 jurnal ilmiah. Jurnal ilmiah Fakultas Agama Islam yang meraih hasil akreditasi Periode III Tahun 2020 yaitu Jurnal Progresiva : Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan peringkat 3 mulai terbitan volume 09 nomor 2 tahun 2020. Jurnal Falah: Jurnal Ekonomi Syari’ah diterbitkan oleh Program Studi Ekonomi Syariah peringkat 2 sejak Agustus 2020. Jurnal Izdihar (Journal of Arabic Language Teaching, Linguistics and Literature) diterbitkan oleh Program Studi Penddikan Bahasa Arab dengan peringkat 3 sejak 13 Maret 2019. Dekan FAI, Prof. Dr. Tobroni, M.Si dan Wakil Dekan 1 Bidang Akademik, Imamul Hakim, M.Sh menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengelola jurnal yang telah berhasil meraih akreditasi jurnal ilmiah pada periode III tahun 2020. Mendukung program akreditasi jurnal nasional tersebut, berbagai program peningkatan kualitas manajemen dan substansi artikel jurnal telah dilaksanakan secara berkala bagi para pengelola dan penulis jurnal di lingkungan FAI UMM. Pada tahun 2021 ini,Fakultas Agama Islam terus berupaya meningkatkan kapasitas para penulis dan pengelola jurnal ilmiah melalui berbagai pelatihan, baik yang diselenggarakan oleh internal tim pengembang jurnal UMM maupun oleh pihak ekternal seperti Lembaga asosiasi jurnal, perguruan tinggi, dan kementerian terkait pengelolaan jurnal.
Menutup Akhir Tahun Dengan Prestasi, Mahasiswa PBA FAI-UMM Raih Juara Tingkat Nasional

Menutup akhir tahun dengan prestasi, tiga mahasiswa prodi PBA FAI-UMM berhasil meraih juara lomba Nasional pada dua ajang perlombaan sekaligus. Pertama, “Mazrabi Tingkat Nasional” yang diadakan oleh Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta dengan tema “Gemilang Nuansa Arabia #DirumahAja,” pada tanggal 14-20 Desember 2020. Mahasiswa tersebut yaitu Zulfa Lailatus Syarifah dan Khadijah Nurul Fitri. Zulfa sebagai juara 1 dalam lomba Baca Puisi berbahasa Arab dan Khadijah Nurul Fitri sebagai pemenang juara 1 Lomba Fotografi. Perlombaan kedua yang diselenggarakan oleh Awardee LPDP Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dengan tema “Revitalisasi Bahasa Arab dalam Menghadapi Tantangan di Era Disrupsi”. Lutfi Hasan K berhasil meraih Juara 2 Arabic Story Telling pada event Gebyar Virtual Hari Bahasa Arab Se-Dunia yang jatuh pada tangal 18 Desember 2020. Zulfa menjelaskan bahwa dia mendaftarkan diri mendekati ditutupnya masa pendaftaran perlombaan tersebut,”Tetapi dengan bantuan Tim Lomba dari HMPS PBA untuk menambahkan kuota kepada panitia dan akhirnya saya bisa gabung untuk mengikuti lomba tersebut”, imbuhnya. Sementara itu, Khadijah mengungkapkan rasa terimakasih atas dukungan kawan sejawatnya dan seluruh civitas akademika PBA-UMM. “Semua usaha yang saya miliki saya kerahkan, dan banyak sekali yang saya siapkan untuk mengikuti lomba ini seperti mental, transportasi, team support system, komposisi kamera terutama dan juga fokus terhadap aturan perlombaan, mulai tema hingga penilaian dewan juri,” tutur Mahasiswi PBA yang kini tengah menempuh pendidikan di semester tiga ini. Berbeda cerita dengan Lutfi, dia mengungkapkan bahwa persiapan lomba yang paling utama dilakukan yaitu alur cerita, kemudian setelah memasuki babak 10 besar dia mempersiapkan properti serta mengolah mimik wajah dengan bantuan dosen. Mahasiswa angkatan tahun 2020 ini juga mengungkapkan alasannya memilih cerita tersebut, hal ini dikarenakan ketika Luthfi sedang melaksanakan ibadah umroh tiba-tiba terbersit sebuah pemikiran bahwa bagaimana dia bisa bertahan di negeri orang jika dia tidak pandai berbahasa Arab. “Alhamdulillah, yang pertama bersyukur kepada Allah dan tentunya bangga sih karena saya sebagai maba sudah bisa membawa nama harum kampus terutama prodi dan membanggakan dosen,” pungkasnya.
Kontribusi Karya Dosen PBA FAI UMM, Terbitkan Buku Ajar Ilmu Badi’

Ilmu badi’ adalah Ilmu untuk merias kata dan makna menjadi indah, sehingga ungkapan yang keluar akan mengandung makna yang mendalam. Disamping itu juga, dapat memperbagus bahasa yang digunakan pada saat berbicara. Buku yang ditulis oleh Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) FAI UMM, Murdiono, S.S, M.Pd, merupakan Bahan perkuliahan Balaghah di Perguruan Tinggi yang memiliki jurusan Pendidikan bahasa Arab dan Sastra Arab, dan juga bermanfaat bagi para pecinta bahasa Arab, terutama bagi mereka yang ingin mengetahui adab (sastra) bahasa al-Qur’an dan keindahannya. Menurut pengertian leksikal, badi’ adalah suatu ciptaan baru yang tidak ada contoh sebelumnya. Sedangkan secara terminologi adalah suatu ilmu yang mempelajari segi-segi (metode dan cara-cara yang ditetapkan untuk menghiasi kalimat dan memperindahnya) dan keistimewaan- keistimewaan yang dapat membuat kalimat semakin indah, bagus dan menghiasinya dengan kebaikan dan keindahan setelah kalimat tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi dan telah jelas makna yang dikehendakinya. Buku yang diterbitkan oleh Delta Pijar Publishing ini disusun sesuai dengan kebutuhan mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab UMM sehingga mudah dipahami.Kehadiran buku ini menjadi pedoman dan wajib dimiliki oleh para pelajar bahasa Arab dan siapa pun yang ingin mendalami keindahan gaya bahasa al-Qur’an, kalam Arab serta syair-syair Arab dari segi lafazd dan makna. “Untuk para pembelajar bahasa arab agar selalu optimis dan bersungguh dalam belajar, karena tidak ada orang terlahir pintar, di dunia ini tidak ada orang yang pintar yang ada adalah orang yang mau belajar,” pesan penulis. (LA)
Peresmian Musholla Nurul Hidayah, Hasil Kerjasama Markas Dakwah Dengan Donatur Arab Saudi

Markaz Dakwah FAI UMM yang di ketuai oleh Jamal, S.H.I, M.Sy, meresmikan Musholla Nurul Hidayah pada hari Minggu, 13 Desember 2020 yang berlokasi di Sengkaling, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Acara diawali dengan sambutna dari Dekan FAI, Prof. Dr. Tobroni, M.Si dan perwakilan dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Dau, Drs. Taufik Burhan, M.Pd. Dalam sambutan yang disampaikan, beliau berharap menjadikan masjid sebagai pusat dakwah muhammadiyah dan sebagai pencerahan bagi masyarakat sekitar masjid. Serah terima Musholla Nurul Hidayah secara resmi disampaikan oleh Wakil Rektor 1 UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Ucapan terima kasih kepada donatur Abdul Aziz La Unazzan dan Syeikh Fahad bin Nasir yang telah memberi donasi atas pembanguna musholla Nurul Hidayah. Musholla ini menjadi dinamakan Nurul Hidayah agar menjadi tempat untuk menggali ilmu yang bermanfaat dan pusat kajian keagamaan,” ungkap beliau. Sebelum acara berakhir, beliau memberi pesan bahwa kalau kita ingin melihat keimanan, kita lihat saja mushollany, kalau mushollanya bagus, in sya Allah keimanannya juga bagus. Mari makmurkan mushollatidak hanya secara fisik atau bangunannya. Tapi juga secara ma’nawiyah yaitu tujuannya dibangunnya musholla ini. Mudah-mudahan mushollaini terus penuh jamaahnya dengan melaksanakan sholat lima waktu berjamaah. (LA)
Markaz Dakwah FAI UMM Jalin Kerjasama Dengan Kedutaan Arab Saudi Bagi Mushaf Sampai Bangun Masjid

Markaz Dakwah wa Khidmatul Mujtama’ (MDKM) merupakan lembaga di bawah naungan Fakultas Agama Islam yang berdiri pada tahun 2004 dan diresmikan langsung oleh Imam besar masjidil Haram Abdurrahman as-Sudais. Sejak berdirinya MDKM adalah lembaga yang secara khusus bergerak dalam bidang pengembangan dakwah Islam, baik melalui pendistribusian bantuan keagamaan (al-Qur’an, kitab islami, kurma & iftor Ramadhan) dan kegiatan dakwah lainnya. Sejalan dengan misi menjadi wadah Fakultas Agama Islam yang Mewakili Peran Kampus dalam Pelayanan Dakwah, pada Minggu, 29 November 2020 yang dikomandani oleh Ustad Jamal, S.Sy., M.Sy, telah mendistribusikan mushaf ke beberapa tempat seperti masjid, mushalla, pondok pesantren, panti asuhan, sekolah dan TPQ. Mushaf tersebut merupakan bentuk kerjasama yang telah dibangun oleh Markaz Dakwah dengan kedutaan Arab Saudi sejak tahun 2019. Pengajuan mushaf melalui proposal yang berisi tentang profil lembaga yang akan diberikan bantuan mushaf sebagai laporan kepada pihak donatur bahwa bantuan telah didistribusikan tepat sasaran. Jumlah mushaf sekitar 6 ribu eksemplar pada tahun 2020 sudah didistribusikan sesuai dengan sasaran lembaga yang telah ditentukan. Melalui program kerjasama dengan pelbagai lembaga sebagai donatur, Markaz Dakwah berupaya memakmurkan masjid maupun mushalla dengan program pembagian mushaf dan pembangunan masjid atau mushalla sejak tahun 2019 dengan harapan kerjasama dapat dikembangkan dalam bentuk bantuan dana pendidikan bagi warga yang kurang mampu.(LA)
Terbitkan Buku di Routledge, Kontribusi Dosen FAI UMM Di Kancah Internasional

Pradana Boy ZTF berkolaborasi dengan Hasnan Bachtiar berhasil terbitkan karya ilmiah di kancah internasional dalam penulisan buku “Routledge Handbook on the Governance of Religious Diversity” dengan judul artikel “Indonesia: A Complex Experience of Religious Diversity Governance”. Buku ini secara kritis mengulas model-model negara-agama dan cara-cara di mana berbagai negara mengelola keragaman agama, menjelaskan tanggapan yang berbeda terhadap tantangan yang dihadapi dalam mengakomodasi baik mayoritas maupun minoritas. Kasus negara mencakup delapan wilayah dunia dan 23 negara, menawarkan banyak bahan penelitian yang sesuai untuk mendukung penelitian komparatif. Setiap kasus dianalisis secara mendalam dengan melihat tren historis, praktik terkini, kebijakan, norma hukum, dan institusi. Dengan melihat hubungan negara-agama dan tata kelola keragaman agama di wilayah di luar Eropa, kami memperoleh wawasan tentang negara-negara yang didominasi Muslim (Mesir, Maroko, Tunisia, Turki, Indonesia, Malaysia), negara-negara dengan keragaman agama historis yang nyata (India dan Lebanon) dan menjadi bangsa pluralis yang didominasi migran (Australia). Wawasan ini dapat memberikan dasar untuk memikirkan kembali model Eropa dan belajar dari pengalaman mengatur keragaman agama dalam konteks sosio-ekonomi dan geopolitik lainnya. Refleksi analitis dan komparatif utama menginformasikan bab pendahuluan dan penutup. Volume ini menawarkan pendamping penelitian dan studi untuk lebih memahami hubungan antara hubungan negara-agama dan tata kelola keragaman agama untuk menginformasikan baik kebijakan maupun upaya penelitian dalam mengakomodasi keragaman agama. Mengingat bahasanya yang dapat diakses dan bacaan lebih lanjut tersedia di setiap bab, volume ini cocok untuk mahasiswa sarjana dan pascasarjana. Ini juga akan menjadi sumber daya yang berharga bagi para peneliti yang bekerja di bidang studi etnis, migrasi, agama dan kewarganegaraan yang lebih luas. (LA)
Bincang Dinamika Hukum Islam Di Tengah Pandemi, Prodi HKI FAI UMM Berkolaborasi Bersama USIM Malaysia

Di tengah pandemi Covid 19 tak menghalangi Prodi HKI untuk tetap memperluas relasi sebagai upaya internasionalisasi serta mempererat silaturahmi akademik antar universitas.Prodi HKI FAI-UMM berkolaborasi dengan Internasional Fatwa And Halal Center (iFFAH) USIM menggelar Webinar Antarabangsa Peranan Hukum Islam dan Fatwa dalam Mencegah Covid 19 di Malaysia dan Indonesia pada Rabu, 11 November 2020. Webinar dibuka dengan sambutan dari Prof Madya Dr Irwan Mohd Subri, Menjalankan Tugas Pengarah Besar, International Fatwa dan Halal Center USIM, yang dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan Fakultas Agama Islam UMM, Prof. Dr. Tobroni, M.Si. Masing-masing universitas mengutus pembicara yang akan menyampaikan materi sesuai dengan kepakaran dan keahlian di bidangnya adalah: 1. Pradana Boy ZTF, Ph.D, Asisten Rektor Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan UMM, (Sikap Masyarakat Terhadap Fatwa Covid 19 Pengalaman Indonesia) 2. Prof Madya Dr Irwan Mohd Subri , Menjalankan Tugas Pengarah Besar, International Fatwa dan Halal Center USIM, (Peranan Fatwa dalam Menghadapi Covid 19 Pengalaman Malaysia) 3. Muhammad Arif Zuhri, Lc,. M.H.I, Ketua Prodi Hukum Keluarga Islam FAI-UMM, (Pencegahan Covid 19 Menurut Manhaj Ijtihad Muhammadiyah) 4. Prof Madya Dr Azman AB Rahman, Timbalan Pengarah INFAD, International Fatwa dan Halal Center USIM, (Kepentingan Ijtihad dan Fatwa zakat dalam mendepani Covid-19 di Malaysia) 5. Idaul Hasanah, MHI, Dosen Prodi Hukum Keluarga Islam (Dinamika Hukum Islam dalam Fatwa Covid-19) 6. Dr. Setiyawan Gunardi, Pensyarah Kanan, Fakulti Syariah dan Undang-Undang USIM (Strategi PKP dan Kesannya di Sektor Ekonomi di Malaysia: Isu, Cabaran dan Solusi menurut Maqasid Syariah) Webinar dengan moderator Hasnan Bachtiar, MIMWADV, sebagai pembicara pertama yaitu Pradana Boy ZTF, Ph.D. Beliau menyatakan bahwa meskipun Indonesia mempunyai Pengadilan Agama Islam untuk perkara perdata, namun masyarakat Indonesia mempunyai kecenderungan untuk meyakini Fatwa yang dikeluarkan oleh Lembaga Fatwa daripada Undang-Undang yang berlaku di Indonesia, maka dari itu saya pernah memaparkan sebuah tulisan bahwa Fatwa mempunyai peran penting terhadap perubahan sosial masyarakat di Indonesia serta dapat menjadi alat penguatan ideologi keagamaan. Berdasarkan pengalaman Malaysia, Prof Madya Dr Irwan Mohd Subr menjelaskan bahwa para ulama’ Malaysia tidak boleh semata-mata merujuk pada kitab klasik, sejak datangnya Covid 19 para ulama’ Malaysia berusaha berijtihad yang kontemporer, kedudukan fatwa di Malaysia merupakan suatu perkara yang ekslusif yang mempunyai puncak kuasa sebagai Undang-Undang, di Malaysia terdapat 14 bagian sehingga terdapat 14 majelis fatwa di masing masing bagian wilayah Malaysia, yang terdapat puncak kuasa di tingkat tertinggi Negara Malaysia. Berkenaan dengan pencegahan Covid 19 Menurut Manhaj Ijtihad Muhammadiyah, Kaprodi HKI FAI-UMM, Muhammad Arif Zuhri, Lc,. M.H.I memaparkan bahwa untuk mengeluarkan fatwa sebagai upaya pencegahan dari Covid 19 ini tidak dapat merujuk hanya pada kitab klasik, terdapat 3 pendekatan sebagai pedoman mengeluarkan fatwa Covid 19 yaitu metode bayani, metode burhani dan metode irfani. Beralih pada pembicara selanjutnya, Prof Madya Dr Azman AB Rahman yang menyampaikan materi dengan tajuk “Kepentingan Ijtihad dan Fatwa zakat dalam mendepani Covid-19 di Malaysia”. “Terdapat 3 isu agihan zakat Covid 19 yang terdiri dari keperluan ijtihad, hukum dan fatwa zakat Covid 19 dengan kadar segera, isu pemberian zakat dalam menghadapi wabah Covid 19 dan isu pengagihan zakat berdasarkan keperluan dan kemaslahatan masyarakat. Hal tersebut berpengaruh pada kepentingan ijtihad dan fatwa zakat Covid 19 untuk membentuk beberapa langkah strategis, pertama, dengan cara menyusun garis panduan kepada institusi zakat dan Majelis Agama Islam Negeri (MAIN) dalam urusan kutipan dan pengagihan zakat, kedua, memastikan penggunan dana zakat mengikut syarak dan mencapai onjektif pensyariatan zakat, ketiga, meyakinkan masyarakat dan pembayar zakat serta asnaf tentang keharusan pemberian zakat Covid 19” ujar Azman . Terkait dengan dinamika Hukum Islam dalam Fatwa Covid-19, Idaul Hasanah, M.H.I menjelaskna bahwa Covid 19 mempunyai dampak yang signifikan terhadap dinamika perubahan hukum Islam dalam penerapannya di masyarakat, seperti yang disampaikan oleh Fatwa MUI terkait dengan adaptasi beribadah salah satunya dengan memberi jarak shaf ketika sholat berjama’ah, sholat bagi tenaga kesehatan yang cara bersuci cukup dengan bertayamum dan sholatnya di jama’ ketika bertugas, serta pemulasaran jenazah Covid 19 yang dilakukan sesuai dengan SOP yang telah ditentukan. Hal ini juga berpengaruh pada pengurangan aktifitas ibadah berjamaah yang berpotensi meningkatnya penyebaran Covid 19. Materi terakhir disampaikan oleh Dr. Setiyawan Gunardi yang bertajuk “Strategi PKP dan Kesannya di Sektor Ekonomi di Malaysia: Isu, Cabaran dan Solusi menurut Maqasid Syariah”. Disampaikan bahwa “Penyebaran wabah Covid 19 merupakan krisis penyakit yang berdampak pada semua sektor, termasuk sektor ekonomi, sektor ekonomi melibatkan institusi keuangan, pengusaha, perniagaan, barng keperluan harian dan lainnya, sehingga konsep dalam menjaga harta yang berhubungan dengan ekonomi yang merupakan salah satu prinsip dari Maqashid Syari’ah yang dikategorikan sebagai Daruriyat”. (LA) Saksikan di youtube channel dengan link berikut ini https://youtu.be/09PWy_Jr-8Q
IPK Nyaris Sempurna, Mahasiswa FAI UMM Raih Lulusan Terbaik Universitas

Mohamad Asep, mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam FAI UMM meraih lulusan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada wisuda ke-97 periode III Tahun 2020 dengan IPK nyaris sempurna, 3,99. Putra terakhir dari Bapak Saroni secara resmi meraih gelar Sarjana Hukum dengan judul skripsi “Kritik Atas Konstruksi Fikih Disabilitas Nahdlatul Ulama Tinjauan Maqasid Al-Syari’ah”. Menjadi wisudawan terbaik di Tingkat Universitas tidak membuat Asep merasa puas untuk mendalami keilmuan di Bidang Hukum Islam. Alumni asal Indramayu ini bertekad untuk melanjutkan studi Master ke Negara Non-Arab, yang terinspirasi dari dosen di Prodi HKI yang pernah mengajarnya di masa kuliah, yaitu Pradana Boy ZTF., Ph.D dan Hasnan Bachtiar, S.HI., MIMWAdv. Berbekal kemampuan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang pernah didapat di Pondok Modern Darussalam Gontor sebelum masuk kuliah, Asep berambisi melanjutkan studi di Negara Non-Arab, seperti Australia, Inggris atau Belanda. “Saat ini, saya akan memperbaiki kemampuan bahasa Inggris saya. Meski dulu fasih berbahasa Inggris, karena jarang dilatih, akhirnya menguap begitu saja. Semoga kemampuan saya akan cukup untuk mendapatkan beasiswa dari negara yang saya tuju,” ujar mantan Ketua Umum Forum Studi Islam Fakultas Agama Islam UMM ini. Selain hobi membaca buku, Asep juga mulai aktif menulis di beberapa media dan jurnal artikel untuk mengasah kemampuan menulisnya. “Rethinking The Contemporary Discourse of Jihad” salah satu artikel jurnal yang telah terbit di Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, vol 9, No 2, Desember 2019, yang ditulis bersama dosen Prodi HKI. (LA)
Semarakkan Pesmaba, FAI Ajak Mahasiswa Yel Yel Physical Distancing

Hari kedua pelaksanaan Pesmaba FAI UMM diawali dengan lomba yel-yel physical distancing, mahasiswa baru yang dibagi menjadi 10 kelompok diberi kesempatan untuk menunjukkan kreatifitasnya di atas panggung. Lomba yel-yel berlangsung dengan penuh kemeriahan agar mahasiswa baru tetap semangat mengikuti kegiatan pesmaba. Jumlah mahasiswa baru FAI yang mengikuti pesmaba tahun ini berjumlah 243 mahasiswa yang terbagi menjadi dua, 97 mahasiswa secara luring dan 146 mahasiswa secara daring. Acara ini berlangsung dengan menaati protokol kesehatan yang sesuai dengan aturan new normal. Sesi selanjutnya dimulai dengan atraksi penampilan beberapa Ortom Muhammadiyah, di antaranya yaitu Hisbul Wathan, Tapak Suci dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Setelah pengenalan dari beberapa Ortom tersebut, Ketua Panitia Pesmaba FAI Tahun 2020, R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, menjelaskan tentang Kampus Unggul yaitu kampus yang mempunyai mahasiswa berprestasi sehingga dosen dan mahasiswa berkolaborasi bersama menuju Kampus Unggul. Di tengah acara, salah satu mahasiswa baru FAI mempersembahkan sebuah puisi yang dibacakan di atas panggung di depan mahasiswa baru lainnya dengan judul “Jangan Lupakan Bima”. Puisi tersebut ditulis dengan alasan banyak orang yang tidak tahu tentang tanah kelahirannya yaitu Bima, banyak orang yang melupakan Bima yang merupakan daerah yang mempunyai potensi alam yang perlu dilestarikan. (LA)
Pembukaan Pesmaba FAI 2020: Lulus Tanpa Skripsi!

Pesmaba FAI Tahun 2020 dibuka dengan bangga oleh Dekan FAI UMM, Prof. Tobroni, M.Si pada rabu 07 Oktober 2020 pukul 08.00 WIB yang digelar di Lantai 9 GKB 4. Beliau memberikan ucapan selamat datang kepada seluruh Mahasiswa Baru FAI Tahun 2020, selain itu beliau memberi wejangan bahwa dalam menuntut ilmu selalu mengutamakan adab dan akhlak. Beliau juga menyampaikan terkait dengan dua semboyan yang visioner, yaitu: ‘Tri Pasti’ dan ‘FAI sang pelopor’. Tri pasti merupakan ‘artikulasi’ dari tiga tujuan yang ‘pasti’ akan diterima mahasiswa, yaitu: (1) pasti cepat lulus, pasti diterima bekerja, dan pasti berakhlak mulia. Sedangkan FAI sang pelopor bermakna –bahwa seluruh jajaran, baik para staff dosen, pegawai dan mahasiswa harus memiliki spirit kepeloporan. Sebab dari sononya, FAI itu sudah pelopor keberadaannya di UMM ini, “tidak ada UMM kalo tidak ada FAI”, ujar dekan FAI, Prof. Dr. Tobroni, M.Si. Setelah dibuka secara resmi oleh Dekan FAI, acara dilanjutkan dengan pengenalan Program Studi yang disampaikan oleh masing-masing Kepala Program Studi. Dimulai dari Kaprodi PAI, Dr. Umiarso, M.Pd.I, Kaprodi Hukum Keluarga Islam, Arif Zuhri, Lc, M.Ag, Kaprodi Ekonomi Syari’ah, Dr. Rahmad Hakim, dan diakhiri oleh kaprodi Pendidikan Bahasa Arab, Ahmad Fatoni, Lc, M.Ag. Secara umum, para kaprodi mensosialisasikan terkait dengan kelulusan mahasiswa tanpas skripsi sehingga mendorong mahasiswa baru FAI UMM untuk menyiapkan strategi untuk mencapai target tersebut. Selain itu, mendorong mahasiswa baru FAI UMM untuk memulai langkah agar mengikuti perkuliahan dengan tradisi akademik yang baik sehingga dapat menyelesaikan studi dengan kompetensi sesuai dengan profil lulusan masing-masing prodi. (LA)