UPPS FAI UMM Sosialisasikan Visi Misi Tujuan dan Strategi

Jum’at, 03 Juni 2022, Unit Pengelola Program Studi atau UPPS FAI UMM mensosialisasikan Visi Misi Tujuan dan Strategi Fakultas. Berlokasi di Aula GKB III Lantai 6 tersebut dihadiri oleh seluruh mahasiswa aktif Fakultas Agama Islam UMM baik secara luring maupun daring. Kehadiran mahasiswa yang datang secara luring kurang lebih dihadiri sekitar 500 peserta untuk mahasiswa Angkatan 2020 dan 2021. Sedangkan untuk mahasiswa Angkatan 2019, 2018, dan 2017 mereka menghadiri secara daring via zoom. Kegiatan sosialisasi tersebut merupakan kali pertama kegiatan dengan menghadirkan peserta luring yang tidak sedikit. Mengingat kondisi covid-19 yang sudah melandai dan sudah mendapatkan izin dari pihak protokoler universitas. Sehingga sosialisasi tersebut terlaksana dengan lancar dan tetap memperhatikan protocol kesehatan. Sosialisasi Visi Misi Tujuan dan Strategi ini merupakan agenda wajib yang harus dilaksanakan sesuai dengan panduan dan pedoman dalam pelaksanaan penyelenggaraan Pendidikan yang telah tersusun dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Agenda tersebut sebagaimana yang telah tersusun dan terencana dalam Renstra, Renop, serta KAK UPPS. Maka dari itu untuk memenuhi Indikator Utama no 1.2 yaitu melakukan sosialisasi VMTS secara terstruktur, dengan target capaian yaitu; 1) Tercantum dalam website lembaga. 2) Melalui berbagai media lain sehingga mudah diakses oleh pemangku kepentingan internal dan eksternal. 3) Dilakukan secara periodik 1 tahun sekali. Selain melakukan sosialiasi VMTS. Dekanat selaku UPPS FAI juga memberikan arahan akademik serta kultur akademik khususnya di Fakultas Agama Islam. Bahwa ciri khas serta karakter ke-FAI-an harus dimiliki oleh seluruh mahasiswa FAI. Hal ini penting mengingat mereka mahasiswa yang Angkatan 2020 dan 2021 merupakan mahasiswa Angkatan corona sehingga kultur Ke-FAI-an belum terbentuk atau belum tertanam dalam diri mereka. Tak lupa acara sosialisasi ini, dari pihak panitia juga turut memberikan semangat kepada mahasiswa yang dengan cara memberikan doorprize kepada mahasiswa yang hadir baik secara luring maupun daring.
Prodi Pendidikan Bahasa Arab Jajaki Kerjasama Internasional yang Berpusat di Abu Dhabi.

Kamis, 2 Juni 2022, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab FAI UMM jajaki kerjasama internasional bersama Arabic Lingual Center (ARLIC). Berlokasi di kantor Pusat Pengembangan Bahasa Arab UMM Masjid AR Fachruddin lantai 2, M. Firdaus selaku Ketua Program Studi PBA menyambut kedatangan tamu dari ARLIC. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Habib Alwi Ahmad Shabab perwakilan ARLIC Indonesia dan beberapa dosen PBA FAI UMM. Menurut bapak Firdaus pertemuan singkat tersebut untuk membicarakan kerjasama dalam beberapa hal. Di antaranya adalah kerjasama dalam pengembangan materi ajar Bahasa Arab. Selain pengembangan media pembelajaran kerjasama ini juga berencana penempatan magang mahasiswa ke luar negeri terutama di beberapa negara timur tengah sebagaimana yang sudah ditawarkan yaitu negara Mesir dan Yaman. Sehingga harapannya mahasiswa FAI khususnya prodi PBA dapat magang secara langsung di Timur Tengah sebagai bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Perlu diketahui ARLIC merupakan Lembaga kursus Bahasa arab tingkat internasional yang berpusat di Abu Dhabi.
FAI UMM Terima kunjungan dari Pesantren Modern al-Muqoddas Cirebon Jawa Barat

Selasa, 24 Mei 2022. Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang menerima kunjungan dari rombongan panitia rihlah tarbawiyyah Pondok Pesantren Modern al-Muqoddas Cirebon-Jawa Barat. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Jajaran Dekanat dan juga Prodi di lingkungan FAI UMM dan disambut dengan bergembira. Bertempat di micro teaching Laboratorium PAI UMM mereka dijamu di ruang yang sangat representative sebagai bentuk pengenalan salah satu ruang keunggulan dari FAI UMM. Rihlah tarbawiyyah ini diikuti oleh 8 pembimbing/ustadz dan 24 santri. Kedatangan mereka kita sambut dan menjemput dengan memakai fasilitas UMM yaitu dengan menaiki Buggy Car, dari Masjid AR Fachruddin menuju Gedung Fakultas Agama Islam yang berlokasi di GKB 3 (Gedung Kuliah Bersama). Menurut Ustadz Dimas Sawbil Haqqi selaku ketua rombongan dari kunjungan mengatakan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memberikan kegiatan yang positif berisi wawasan kemahasiswaan dan keorganisasian yang mana kemudian dapat menjadikan bekal untuk siswa dan siswi akhir Pondok Pesantren Modern al-Muqoddas Cirebon – Jawa Barat. Beberapa hal yang ingin mereka pelajari adalah Pertama, Sistem pembelajaran di Universitas Muhammadiyah Malang. Kedua, mengenal lebih dalam keunggulan Fakultas Agama Islam UMM. Dan Ketiga, Melihat secara langsung kegiatan yang ada di Universitas Muhammadiyah Malang. Khususnya di Fakultas Agama Islam. Selain bersilaturahim dan bertukar fikiran antar Lembaga. Rombongan para santri dari Cirebon juga berkeliling untuk melihat berbagai fasilitas terpadu yang ada di Universitas Muhammadiyah Malang. Salah satunya adalah Gedung Perpustakaan Pusat Universitas Muhammadiyah Malang dan Perpustakaan Masjid AR Fachruddin UMM. (soni)
Hari Buku Nasional: Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa Prodi HKI Hasilkan 4 Buku

17 Mei 2022 merupakan hari buku nasional. Dan Program Studi Hukum Keluarga Islam baru saja menerbitkan 4 buah buku. Buku tersebut merupakan hasil dari kolaborasi antara dosen dan mahasiswa. Hal ini diungkap oleh bapak Muhammad Arif Zuhri selaku ketua Prodi bahwa memang ada program di prodi untuk meningkatkan publikasi. Selain publikasi jurnal juga terdapat publikasi lain yaitu Book Chapter. Program ini mengingat tuntutan output dan outcome program harus ada terutama dalam bdang Pendidikan dan penelitian. Tiga buku tersebut hasil dari kolaborasi dosen dan mahasiswa dari hasil diskusi dan dialog selama perkuliahan berlangsung. Di antaranya dari hasil mata kuliah PPKN, Hukum Tata Negara, dan Fikih Perempuan dan Anak, serta Hukum Ekonomi Syariah. Buku pertama adalah hasil dari mata kuliah PPKN yang diampu oleh Bapak Soni Zakaria, M.H. dengan judul “NARASI KEBANGSAAN- Refleksi Kritis atas Problematika Bangsa” merupakan buah hasil karya kolaborasi antara dosen dan Mahasiswa, khususnya mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Buku ini lahir dari hasil dialog dan diskusi di ruang akademik terutama di perkuliahan mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Mata kuliah PPKn ini merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh seluruh mahasiswa di berbagai jurusan dan fakultas, salah satunya di Prodi HKI UMM. Muatan materi dari mata kuliah ini memberikan ruang dialog mahasiswa dalam melihat persoalan bangsa ini, sehingga melahirkan suara-suara kritis dalam bentuk narasi tulis mahasiswa, refleksi tersebut tidak hanya menyoroti problematika bangsa namun juga turut memberikan solusi terbaik untuk diberikan kepada bangsa sehingga patut dipublish. Buku ini lahir dalam kondisi cobaan musibah terutama Pandemi Covid-19 yang telah melandang bangsa ini selama satu tahun lebih sejak covid-19 diumumkan. Tentunya pandemi ini telah merubah hampir di segala lini kehidupan, salah satunya dalam dunia Pendidikan. Kondisi yang melahirkan kebijakan untuk melaksanakaan Pendidikan secara daring telah ikut andil besar dalam menangani agar pandemic Covid-19 tidak meyebar secara luas dan tetap terkontrol tingkat penyebaranya. Oleh karena dengan keterbatasan ruang diskusi mahasiswa setidaknya buku ini membuktikan bahwa mahasiswa tidak kehilangan nalar kritisnya. Buku kedua, adalah hasil dari mata kuliah Fikih Perempuan dan Anak yang diampu oleh Ibu Luciana Anggraeni, MH. dengan judul “Fikih Perempuan dan Isu-Isu Keperempuanan Kontemporer dalam Islam”. Buku ini disusun untuk menyajikan beberapa isu-isu keperempuanan kontemporer yang perlu dikaji ulang untuk memahami fikih permpuan dengan menggunakan worldview Islam. Beberapa isu kekinian yang diperbincangkan di masyarakat seperti paradigma sexual consent muncul bersamaan dengan disahkannya aturan Permendikbud atas respon pemerintah terhadap meningkatnya kasus kekerasan seksual di perguran tinggi. Childfree dan Martial Rape yaitu pemerkosaan dalam rumah tangga juga tak luput dari pembahasan buku ini. Masih dari dosen yang sama, buku ketiga ini juga diampu oleh ibu Luciana Anggraeni, M.H. Buku dengan judul “Mengenal Ekonomi Syariah dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah” merupakan hasil kolaborasi mahasiswa Prodi HKI dan Dosen. Perlu diketahui bahwa di Prodi HKI sendiri terdapat mata kuliah Hukum Ekonomi Islam. Mata kuliah ini penting mengingat Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah merupakan kompetensi dan kewenangan Pengadilan Agama yang didasarkan pada Penjelasan point (1) Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, serta ditegaskan kembali dalam Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang menyatakan apabila terjadi sengketa dibidang Perbankan Syariah, maka penyelesaian sengketa diajukan ke Pengadilan Agama. Dalam hal ini Pengadilan Agama mempunyai hak dan wewenang untuk menerima, mengadili, dan menyelesaikannya. Tentunya materi ini harus dikuasai oleh mahasiswa prodi HKI. Sedangkan buku keempat, lahir dari mata kuliah Hukum Tata Negara yang diampu oleh Ibu Imroatus Sholikhah, M.H. Buku yang dihasilkannya berjudul Kompleksitas Hukum Ketatanegaraan. Buku ini berisi refleksi para penulis mengenai hukum ketatanegaraan di Indonesia. Para penulis merupakan mahasiswa program studi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang yang sedang mengambil mata kuliah Hukum Tata Negara. Mereka mencoba menganalisis dan mengkritisi persoalan ketatanegaraan yang sedang terjadi di Indonesia dengan perspektif teori-teori yang telah dipelajari di bangku kuliah. Tidak heran buku ini cukup fresh disimak karena berkaitan dengan isu-isu ketatanegaraan saat ini.
Dosen FAI UMM Ini Kuasai 7 Bahasa

Dilansir dari laman ibtimes.id Ia adalah dosen prodi Hukum Keluarga Islam FAI UMM yang berhasil menguasai tujuh bahasa. Salah duanya adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Yang lain, Bahasa Inggris, Arab, Persia, Prancis, dan Melayu. Fasih sekali. Ketika diundang menjadi narasumber dengan materi filsafat. Ia bawakan literatur-literatur Prancis. Ia sampaikan kutipan-kutipan dalam bahasa Prancis. Padahal, ia tidak kuliah di Prancis, tidak pula di Iran, tapi di Australia. Bahasa Arab, Inggris, dan Persia ia gunakan untuk melahap literatur-literatur keislaman. Ia memang menekuni hukum Islam. Selain hukum Islam, ia juga mengajar filsafat. Mungkin Bahasa Prancis ia pelajari untuk melahap literatur-literatur induk filsafat yang bikin pusing itu. Iran juga memiliki khazanah filsafat yang luas sekali. Maka ia pelajari Bahasa Persia. Tiap hari, ia baca buku selama 12 jam. Wajib. Juga satu jam untuk menulis. Itu rutinitas sehari-hari. Di luar mengajar di kampus dan aktivitas di Muhammadiyah. Hal ini mengingatkan saya dengan dua tokoh bangsa: Buya Syafii yang setiap hari membaca buku 13 jam dan Amien Rais yang membaca buku selama 16 jam. Waktu mereka kuliah di Chicago. Tak heran, karya tulis yang lahir dari tangan dinginnya banyak sekali. Buku yang ia tulis sendiri ada dua. Kontekstualisasi Filsafat Transformatif: Merambah Jalan Pendidikan, Kebudayaan, Politik Kebangsaan dan Agama; dan Ijtihad Kontemporer Muhammadiyah, Dar al-‘Ahd wa al-Shahadah: Elaborasi Siyar dan Pancasila. Adapun buku yang ditulis bersama lebih banyak lagi. Nanti akan saya cantumkan di akhir tulisan. Riset, jurnal, dan artikel di media, koran, dan majalah nasional, baik dengan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris, jumlahnya tak terhitung. Untuk mendaftar judulnya di sini saja sudah cukup melelahkan. Padahal, dia masih muda. Usianya belum menyentuh angka 35. Namun, produktivitasnya melampaui usianya. Biografi Hasnan Bachtiar Ia adalah Hasnan Bachtiar. Ia merupakan kader Muhammadiyah. Aktif di Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dan Cendekiawan Muda Muhammadiyah. Ibunya berasal dari keluarga Nasionalis-Soekarnois. Di ruang tamu keluarga ada foto Bung Karno bawa keris. Juga ada foto Presiden Jokowi dan Bu Mega. Sementara keluarga bapaknya berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Dari lingkungan Pesantren Buntet. Salah satu pesantren tertua di Indonesia. Pesantren ini pernah mengalami konfrontasi langsung dengan Belanda di masa penjajahan. Maklum, pesantren Buntet memang lahir karena politik belah bambu Belanda. Di Buntet, banyak orang yang tertarik dengan Muhammadiyah melalui Masyumi. Hal itu membuat bapaknya aktif di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rogojampi, Banyuwangi. Ibunya lulusan SMA. Juga aktif di Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Rogojampi. Sejak kecil, ia telah mengenal Muhammadiyah melalui laku bapak ibunya. Sejak kecil, ia terbiasa dengan pendidikan non formal seperti langgar dan TPA. Di TPA ia juga belajar kemuhammadiyahan. TPA di tempatnya diasuh langsung oleh Ketua PCA waktu itu. Namanya Ustadzah Masfuatun. Hasnan belajar bermacam-macam ilmu agama. Mulai dari Bahasa Arab, hafalan Juz ‘Amma, hingga kemuhammadiyahan. Masa kecilnya ia habiskan sebagaimana layaknya anak kecil lain di Banyuwangi. Ia belajar di sekolah negeri sejak SD hingga SMA. Pasca SMA, ia nyantri dengan kakeknya. KH. Abdul Rasyid. Hasnan memanggilnya Mbah Mu’i. Mbah Mu’i adalah pengasuh pesantren. Dengan Mbah Mu’i, Hasnan belajar nahwu dan shorof, pelajaran gramatika Bahasa Arab. Berbekal kemampuan itu, ia belajar secara formal di prodi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang. Yang terletak 285 km dari kampungnya di Banyuwangi. Ia lulus S1 pada tahun 2009. Mendapatkan gelar sarjana syariah dari salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah terbaik itu. Yang rektorya dua kali menjadi Menteri Pendidikan. Mulai dari A Malik Fadjar hingga Muhadjir Effendy. Riwayat Karir Hasnan Bachtiar Ketika kuliah, ia tidak hanya berkutat dengan pembelajaran di dalam kelas. Ia menjadi asisten peneliti di dua lembaga. Centre for Religious and Social Studies dan Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM. Baca Juga Pimpinan Muhammadiyah Cabang Digital, Mungkinkah? Ketika kuliah di UMM, ia bercita-cita mau jadi guru SD. Kalau bisa di kelas rendah. Kelas 1 dan 2 SD. Menurutnya, menjadi guru SD adalah pekerjaan yang mulia. Setelah lulus, cita-citanya terwujud. Ia menjadi guru di salah satu SD Aisyiyah tak jauh dari kampusnya. Selain guru SD, ia juga nyambi sebagai peneliti dan dosen muda di UMM. Dua tahun setelah itu, ia dipercaya menjadi asisten peneliti bagi Dr. Azhar Ibrahim Alwee yang sedang mengerjakan proyek penelitian di Copenhagen University, Denmark dan Stanford University, Amerika. Ia kemudian menjadi asisten peneliti Dr. Azhar di National University of Singapore (NUS) hingga tahun 2018. Pada tahun 2013, Hasnan dipercaya sebagai Program Officer di Pusat Studi Agama dan Multikultural UMM. Ternyata, retak tangan telah menggariskan bahwa kelasnya bukan lulusan S1 syariah. Ia melanjutkan sekolah di Australia. Di Australian National University, Canberra. Ibukota Australia dengan 410.301 penduduk. Ia mengambil master di Pusat Studi Arab dan Islam, Timur Tengah, dan Asia Tengah. Gelarnya panjang sekali: MIMWAdv. Kepanjangannya: Advanced Master of Islam in the Modern World. Di Australia, Hasnan Bachtiar mendirikan Pimpinan Cabang Istimewa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PCI IMM) Australia dan Oceania. Ia juga menjadi ketua pertama dari organisasi yang ia dirikan itu. Ia kemudian berkecimpung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Around the World. Yang paling khas, ia juga menggondrongkan rambutnya. Panjang sekali. Seperti filsuf. Bisa anda lihat di ilustrasi artikel ini. Karena menurutnya, ongkos pangkas rambut di negeri kanguru mahal dan tak terjangkau oleh mahasiswa. Studi di Canberra ia selesaikan pada tahun 2018. Dengan gelar yang panjang sekali itu tadi. Setelah lulus, ia melanjutkan karir sebagai dosen di almamaternya, UMM. Ia juga menjadi kontributor Majalah Suara Muhammadiyah, dewan redaksi di IBTimes, direktur riset Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute, dan sekretaris eksekutif di Pusdiklat Pengembangan SDM UMM. Karya Di tengah-tengah berbagai kesibukan itu, ia sangat produktif membaca dan menulis. Jauh lebih produktif daripada rata-rata orang Indonesia. Buku yang telah ia tulis sendiri ada dua. Judulnya sudah saya tulis di atas. Sementara buku yang ditulis bersama ada banyak sekali. Pengalaman risetnya juga banyak sekali. Lintas negara dan benua. Mulai dari Singapura, Italia, Australia, Belanda, dan Norwegia. Daftarnya panjang sekali. Publikasinya di berbagai jurnal juga banyak. Termasuk jurnal-jurnal yang bereputasi Scopus Q1, Sinta 1, Sinta 2, Ebsco, dan lain-lain. Belasan jumlahnya. Baik berbahasa Indonesia maupun Inggris. Belum lagi puluhan artikel-artikel di berbagai media dan majalah nasional seperti Kompas, Geotimes, Suara Muhammadiyah, IBTimes, dan lain-lain. Hasnan Bachtiar bersama Najib Burhani menerjemahkan berbagai naskah resmi Muhammadiyah ke dalam
Prodi Pendidikan Agama Islam FAI UMM Lahirkan Dua Doktor Sekaligus

Di Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Program Studi PAI FAI UMM berhasil menelurkan dua doctor sekaligus di bulan yang sama dan bertepatan dengan bulan yang paling mulia ini. Dua doctor tersebut merupakan dosen dari Prodi Pendidikan Agama Islam yaitu bapak Dr. Saiful Amien, M.Pd. dan Dr. Sunarto, M.Ag. Keduanya sama sama telah lulus dalam pelaksanaan ujian disertasi terbuka di kampus yang berbeda. Ujian digelar secara luring dan dihadiri oleh sebagian dosen undangan dari FAI UMM. Dr. Saiful Amien, M.Pd. memperoleh gelar Doktor dalam bidang Teknologi Pendidikan dari Universitas Negeri Malang dengan judul disertasi “Pembentukan Karakter Yahanu di Gontor: Studi Fenomenologi”. Sedangkan Dr. Sunarto, M.Ag memperoleh gelar Doktor dalam bidang Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Malang dengan judul disertasi “Maajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Unggul” (Studi Kasus Pada Sekolah Dasar Insan Amanah Malang). Kelahiran dua doktor sekaligus tersebut menurut Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Bapak M. Kamaluddin, M.Si merupakan kegembiraan tersendiri bagi keluarga FAI UMM kususnya prodi PAI. Karena kehadiran kedua doctor ini turut menambah jumlah doktor yang telah dimiliki oleh prodi. Tercatat doktor yang kita miliki sudah berjumlah 9 doktor dan 3 guru besar. Jumlah tersebut memperkuat status prodi PAI sebagai prodi yang telah memperoleh predikat Unggul dalam akreditasi. Kedepan harapannya jumlah doktor terus bertambah mengingat hingga saat ini masih ada tiga dosen yang studi lanjut menyelesaiakan program doktor. Selain itu juga berharap jumlah guru besar turut meningkat dan bertambah.
Bersama BPMI, UPPS FAI UMM Selenggarakan Workshop Penyelerasan RAB, KAK, dan Renop

Sabtu, 23 April 2022. Bertempat di ruang Micro Teaching Terpadu FAI UMM. BPMI (Badan Penjaminan Mutu Internal) bersama UPPS (Unit Pengelola Program Studi) FAI UMM menyelenggarakan workshop penyelarasan RAB (Rancangan Anggaran Belanja), KAK (Kerangka Acuan Kerja), dan Renop (Rencana Operasional). Kegiatan tersebut bertujuan agar antara RAB, KAK, dan Renop selaras dengan apa yang sudah di rancang dan telah dibuat untuk pelaksanaan perguruan tinggi di tingkat UPPS maupun Program Studi. Badan Penjamin Mutu Internal (BPMI) merupakan lembaga yang mempunyai tugas sebagai koordinator dalam penetapan kebijakan, pelaksanaan, pemantauan, monitoring dan evaluasi untuk aktivitas Tridharma tentang jaminan mutu pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan hal akademis dan non-akademis di UMM. Lembaga tersebut merupakan mandate dari pasal 53 Undang-undang Pendidikan Tinggi (UU Dikti) untuk melaksanakan sistem penjaminan mutu internal Pendidikan tinggi (SPMI-Dikti). SPMI adalah kegiatan sistemis penjaminan mutu Pendidikan tinggi yang dilakukan oleh setiap perguruan tinggi secara berencana dan berkelanjutan sehingga terwujud budaya mutu di UMM. Salah satu bentuk dari pelaksanaan penjaminan mutu adalah menyelaraskan antara RAB yang sudah dibuat selaras dengan KAK dan Renop. Hal ini dilakukan agar antara dokumen satu dengan dokumen mutu yang lain saling sinkron dan selaras. Penyelenggaran workshop tersebut dipandu langsung oleh tim dari BPMI UMM dengan didampingi oleh GPMI (Gugus Penjaminan Mutu Internal) dari FAI yaitu bapak M. Sarif, M.Ag. Selain diperuntukkan untuk UPPS dan Prodi. Workshop yang diselenggarakan secara luring ini juga turut dihadiri oleh peserta dari Lembaga pendukung UPPS serta Laboratorium di lingkungan Fakultas Agama Islam. Lembaga pendukung tersebut di antaranya ada PPUT (Program Pendidikan Ulama’ Tarjih), Markaz Dakwah Wa Khidmatul Mujtama’, SAIS (Ex Ma’had Abdurahman Auf) dan Seluruh Laboratorium dari masing – masing Prodi dan Lab Komputer
Alumni PPUT FAI-UMM Menangkan Hibah Penelitian Maarif Institute

Berita menggembirakan datang dari salah seorang alumni program studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah) yakni Alfia Nur Aulia, S.H yang berhasil meraih dana Hibah dari Maarif Institute for Culture and Humanity. Pengumuman tersebut termuat dalam website resmi Maarif institute pada tanggal 11 April 2022. Proposal penelitian Alfia yang berjudul “Ijtihad Muhammadiyah Melawan Kekerasan Seksual” berhasil menarik perhatian para juri. Juri terdiri dari Prof. Alimatul Qibtiyah, Ph.D., Prof. Hilman Latief, Ph.D. dan Dr. Mukhaer Pakkana. Setelah hasil penilaian seleksi tahap I pada tanggal 24 Februari 2022, dan memperhatikan pemaparan presentasi 20 orang nominees MAF 2021/2022 pada proses seleksi tahap II tanggal 24 Maret 2022, Dewan Juri MAF 2021/2022 telah menetapkan tiga orang yang berhak menerima hibah, salah satunya adalah Alfia Nur Aulia dari Universitas Muhammadiyah Malang. Alfia sangat senang dan bangga dengan pencapaian tersebut. Dana penelitian akan digunakannya dengan baik untuk menunjang khazanah keilmuan dalam rumpun Muhammadiyah studies. Tak lupa Alfia juga mengucapkan banyak terimakasih kepada para dosen di Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang atas arahan dan bimbingan dalam penulisan penelitiannya. Seperti diketahui, Alfia juga merupakan penerima beasiswa Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2017 dan berhasil lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude pada tahun 2021 lalu. Kemampuan menulis riset didapatkan Alfia saat mengikuti program Magang di Jurnal Ulumuddin Program Studi Hukum Keluarga Islam FAI-UMM. Alfia magang menjadi asisten editor dan bertugas membantu editor untuk mengedit dan merevisi jurnal-jurnal yang masuk pada jurnal Ulumuddin. Darisitulah kemampuan menulis riset Alfia semakin terasah. Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah), Muhammad Arif Zuhri, Lc.,M.H.I. sangat gembira dengan berita ini, menurutnya ini menjadi pemacu dan motivasi bagi mahasiswa Prodi HKI lainnya. “Semoga ini menjadi cikal bakal bagi mahasiswa prodi HKI lainnya untuk selalu semangat mengembangkan diri sesuai dengan minat bakatnya dan menorehkan prestasi di bidang apapun. Jika ada yang senang menulis, maka jangan sungkan berguru pada dosen prodi HKI yang merupakan “sarang” penulis dan peneliti” ungkapnya. (ika)
Penguatan Kurikulum Prodi HKI UMM Berbasis OBE-MBKM melalui Lokakarya.

Sabtu, 27 November 2021 Program Studi Hukum Keluarga Islam FAI UMM menyelenggarakan lokakarya kurikulum berbasis OBE-MBKM (Outcome Based Education-Merdeka Belajar Kampus Merdeka). Lokakarya ini diselenggarakan di Aula GKB 4 Lantai 4 Universitas Muhammadiyah Malang secara Luring dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh Dosen Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) tersebut diselenggarakan dalam rangka penyegaran kurikulum, agar kedepan kurikulum yang dijalankan nanti dapat menyesuaikan perubahan-perubahan salah satunya adalah MBKM atau yang kita kenal dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Acara lokakarya ini dibuka langsung oleh Bapak Dr. Khozin, M.Si. selaku Dekan Fakultas Agama Islam UMM. Dalam sambutannya bapak Dekan menyampaikan beberapa hal, bahwa lokakarya kurikulum yang diselenggarakan oleh Prodi HKI UMM secara teoritik perubahan dasar kurikulum dilakukan 10 tahun, namun hal tersebut merupakan pandangan lama. Sedangkan era sekarang mengalami perubahan yang dasyat serta disruptif. Perubahan-perubahan tersebut tidak lain berubah secara cepat dalam waktu satu, dua, atau tiga tahun. Oleh karena itu setidaknya prodi melakukan review kurikulum secara berkala setiap tahun untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Secara terpisah Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam Bapak M. Arif Zuhri, Lc., M.H.I juga menyampaikan hal yang sama, bahwa lokarkarya ini tidak hanya direbus oleh dosen-dosen prodi melainkan melibatkan beberapa pemangku kepentingan, dalam hal ini juga mengundang peserta dari mahasiswa, alumni, hingga lembaga lain atau pengguna lulusan yang bermitra pada Prodi. Beliau juga menjelaskan OBE menjadi hal penting karena berupa pendekatan yang menekankan pada keberlanjutan proses pembelajaran secara inovatif, interaktif, dan efektif sehingga berpengaruh pada keseluruhan proses pendidikan dari rancangan kurikulum, perumusan tujuan dan capaian pembelajaran, strategi pendidikan, rancangan metode pembelajaran, prosedur penilaian, dan lingkungan atau ekosistem pendidikan. Lokakarya ini diawali dengan pengarahan mengenai seluk beluk apa itu kurikulum OBE-MBKM, dengan menghadirkan Pakar Pendidikan Bapak Dr. Muhammad Syaifuddin selaku pemateri sekaligus sebagai ketua LIP UMM- (Lembaga Inovasi Pembelajaran). Lokakarya ini dilaksanakan dengan beberapa tahap. Tahap pertama, pengarahan, sosialisasi, persamaan persepsi, kemudian di lanjutkan di hari berbeda dan tempat berbeda untuk merumuskan secara langsung kurikulum sampai terbentuk kurikulum OBE yang terintegrasi dengan MBKM. Dengan demikian diharapakan kurikulum tersebut dapat diimplemetasikan pada tahun ajaran baru kedepan sehingga mahasiswa dapat menikmati program yang dimaksud yaitu Merdeka Belajar Kampus Merdeka. (ST)
Seri Diskusi HSP “Isyarat-Isyarat Ilmiah dalam Al-Qur’an”

Sabtu, 27 November 2021. Seri diskusi HSP (Halaqah Ilmiah Sabtu Pagi) kali ini mengangkat tema Isyarat-Isyarat Ilmiah dalam Al-Qur’an yang disampaikan oleh Bapak Pradana Boy ZTF, Ph.D selaku pemateri dan dimoderatori oleh Ibu Dr. Dina Mardiana, M. Pd. I. . Tak lupa tradisi di HSP sebelum pemateri menyampaikan materinya diawali dengan kajian iftitah terlebih dahulu yang dibawakan oleh Ibu I’anatut Thoifah, M.Pd.I. Pradana Boy menjelaskan tema ini tidak lain membicarakan tentang al-Quran dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Mudah-mudahan dengan mengkaji tema ini bisa menambah keyakinan kita terhadap Islam kemudian juga menambah kekaguman dan kecintaan kita pada al-Qur’an yang sekaligus membuktikan kepada dunia dalam konteks yang lebih luas bahwa agama Islam tidak seperti yang dipersepsikan oleh kebanyakan, katakanlah kebanyakan masyarakat non- Muslim, utamanya, di Barat. Istilah isyarat-isyarat sengaja dipilih, menurut pemateri Karena sesungguhnya kalau kita mau menemukan formulasi- formulasi saintifik dalam arti sains modern yang rinci dengan segala macam prosedurnya, ya tentukan nggak ketemu di dalam al-Quran. Karena itu, lalu pemateri mengistilahkannya dengan isyarat. Karena isyarat, maka memerlukan tindakan lanjutan. Karena kalau orang itu diberi isyarat ya tergantung. kalau yang diberi isyarat itu paham ya lalu dijalankan. Tapi kalau yang diberi isyarat itu enggak faham ya nggak ada maknanya isyarat itu. Pemateri kemudian memberikan perumpamaan gambaran berupa ayat. Ayat Qauliyah dengan ayat Kauniyah. secara umum para ulama membagi atau membuat kategori ayat al-Qur’an itu menjadi ayat-ayat atau tanda kebesaran yaitu menjadi dua, yaitu ada ayat “qauliyah” itu tadi yang tertulis. Kemudian ayat kauniyah yaitu ayat-ayat Tuhan yang terhampar. Kalau saya menyebutnya ya qauliyah itu al-Qur’an, yang tertulis. Kauniah itu yang tidak tertulis atau alam semesta dan saya sering membahasakannya dengan yang tertulis dan yang terhampar. Kalau yang tertulis ini membacanya bisa kita selesaikan. Tetapi men-tadabburi-nya tidak pernah selesai. Apalagi kalau mentadabburi ayat qauliyah itu digabungkan dengan ayat kauniah pasti tidak selesai-selesai. Sebagai contoh, beliau memberikan gambaran isyarat ilmiah dalam al-qur’an, mulai dari bagaimana Semut itu diciptakan, bagaimana cerita ashabul kahfi yang bisa hidup lebih dari ratusan tahun. Bagaimana perilaku kaum sodom. Semua kejadian yang terdapat dalam al-qur’an tidak lain adalah pintu masuk untuk melahirkan teori-teori dalam ilmu Pengetahuan. Karena itu lalu muncul cara ulama untuk memahami ayat-ayat al-Quran itu dengan segala macam teori dan segala macam pendekatan. Di sini pemateri memberikan tiga contoh model tentang bagaimana para ulama itu melakukan penafsiran terhadap al-Quran dengan melihat tiga kategori oleh tiga penulis atau tiga ulama. Pertama adalah sebuah Kitab yang ditulis oleh Ali Akbar Baba’i, judulnya adalah “Madaarisut Tafsir al-Islami.” Kedua, adalah al-madrasah al-baatiniah. Artinya orientasi tafsir yang lebih kepada dimensi-dimensi esoterik dalam al-Quran. Itu para sufi, para ahli batin. Kemudian al-madrasah al-Ijtihadiyah. Jadi aliran-aliran yang rasional. Terakhir, sebelum pemateri mengakhiri penyampaiannya. Beliau menyampaikan refleksi intelektual mengenai materi ini. Pertama, dalam bidang ilmu Agama, pastilah paradigma al-Qur’an Kuntowijoyo yang berlaku. Kedua, dalam bidang ilmu kemanusiaan yang berkaitan erat dengan ilmu agama?. Ketiga, Bagaimana mewujudkan isyarat ilmiah al-Qur’an dalam perumusan teori ilmiah? Tak lupa setelah pemateri menyampaikan materinya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan para hadirin yang hadir secara luring terbatas. Perlu diketahui HSP ini selain diselenggarakan secara luring juga disediakan secara daring yang disiarkan secara live di channel Youtube FAI UMM. (ST).