Menembus Batas : Perjalanan Dosen PAI UMM Meraih Beasiswa S3 di Hungaria

Melanjutkan studi ke luar negeri adalah impian banyak akademisi, namun prosesnya tidak selalu mudah. Dari persiapan bahasa, pencarian supervisor, hingga menghadapi tantangan budaya di negara tujuan, setiap langkah membutuhkan ketekunan dan strategi yang matang. Dalam wawancara kali ini, kita akan mendengar kisah inspiratif dari Dosen Pendidikan Agama Islam FAI-UMM, Nafik Muthohirin, S.Pd.I.MA.Hum yang berhasil mendapatkan beasiswa Stipendium Hungaricum untuk studi doktoralnya di Eötvös Loránd University, Hungaria. Melalui pengalaman pribadinya, beliau berbagi bagaimana mempersiapkan diri sejak jauh hari, tantangan yang dihadapi selama studi, serta kesan mendalam tentang kehidupan akademik dan sosial di Hungaria. Wawancara ini diharapkan dapat menjadi panduan sekaligus motivasi bagi para akademisi dan mahasiswa yang bercita-cita menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Bagaimana Anda mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa S3 di Hungaria? Sejak 2 tahun sebelum keberangkatan studi di Hungaria, saya memang sudah meniatkan diri untuk mempersiapkan studi ke luar negeri. Saya cukup percaya diri mengenai portofolio publikasi, namun problem besar yang saya hadapi adalah skor Bahasa Inggris saya sehingga waktu itu yang terpikirkan adalah saya perlu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya. Jadi, saya sering mengerjakan soal-soal TOEFL selama 2 tahun tersebut, mulai dari yang awalnya otodidak hingga kursus berkali-kali. Sehari bisa 2 jam saya menghabiskan waktu untuk mengerjakan soal-soal tersebut, tapi ternyata itu tidak cukup signifikan menaikkan skor karena kunci meningkatkan keterampilan bahasa tidak bisa dibuat sampingan dengan pekerjaan yang lain, perlu fokus dan latihan yang tekun. Hungaria menjadi salah satu pilihan saya karena kecocokan dengan supervisor. Selain persiapan bahasa, yang tidak kalah penting adalah mencari dan korespondensi dengan calon supervisor. Aspek ini sering menjadi problem sendiri bagi beberapa pencari beasiswa, karena (mungkin) belum punya portofolio publikasi sebelumnya atau masih bimbang menentukan minat studinya sehingga berpengaruh pada kelayakan proposal riset yang diajukan. Jadi, bagi pencari beasiswa luar negeri, korespondensi dengan supervisor adalah satu keterampilan tersendiri. 2. Apa yang menjadi motivasi Anda memilih Hungaria sebagai tujuan studi S3? Alasan pertama, tentu karena sudah cocok dengan supervisor saya. Dia memahami perilaku keberagamaan masyarakat Muslim di Indonesia, karena pernah memiliki proyek penelitian di Indonesia Timur. Kemudian, minat studi saya relevan dengan program studi doktoral di department Studi Agama-agama di Eotvos Lorand University (ELTE), Budapest, Hungary. Selain itu, Hungary adalah pusat destinasi utama di Eropa. Negara ini merupakan perpaduan wisata sejarah, religi, dan keindahan seni arsitektur abad pertengahan. 3. Bagaimana proses pengajuan beasiswa S3 di Hungaria? Saya mengikuti Stipendium Hungaricum Scholarship (Baca: SH), sebuah skema beasiswa dari pemerintah Hungary yang bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai sending partner-nya. Sama halnya dengan skema beasiswa luar negeri yang lain, skema SH memerlukan beberapa persyaratan wajib seperti Letter of Supervisor (kalua PhD), sertifikat kemampuan Bahasa Inggris (IELTS/TOEFL), Letter of Reference, Curriculum Vitae, dan lainnya. Setiap tahun, yang daftar dari Indonesia bisa mencapai ribuan, dan yang diterima hanya tidak kurang dari 70 pelamar 4. Bagaimana Anda mengatasi tantangan bahasa dan budaya di Hungaria? Menguasai keterampilan Bahasa Inggris itu yang utama, khususnya speaking dan writing karena itu modal utama untuk mengikuti perkualiahan di kelas, bimbingan dengan supervisor, dan interaksi dengan mahasiswa internasional lainnya. Sementara untuk Bahasa Hungary, untuk mahasiswa PhD tidak diwajibkan harus menguasainya. Saya sendiri baru akan ikut di semester kedua ini. Selama ini masih belajar otodidak dan dari teman-teman internasional di sini. Apa pengalaman paling berkesan selama studi S3 di Hungaria? Tentu saya mendapat banyak pengalaman yang berbeda, baik tentang pengalaman belajar maupun menjalani kehidupan sehari-hari. Pertama, etos belajar yang tinggi. Saya menjumpai mahasiswa-mahasiswa di sini memiliki motivasi belajar yang kuat. Hampir setiap hari, mereka menghabiskan waktu belajar berjam-jam di perpustkaan. Kebanyakan masih mempertahankan cara belajar yang konvensional (baca buku cetak dan dicoret-coret), dan kemudian melengkapi dan menyalinnya di laptop atau tablet. Iklim belajar yang kondusif ini didukung oleh jumlah perpustakaan yang banyak, lengkap, dan nyaman.Jadi hampir setiap meja di perpustakaan selalu terisi dari pagi hingga malam. Jadi, kalau tidak berangkat pagi, siap-siap tidak mendapat meja. Kedua, transportasi publik terbaik di Eropa. Semua jenis transportasi publik selalu datang tepat waktu, nyaman, aman, dan bersih. Semua orang taat untuk tidak makan dan minum ketika di dalam transportasi. Selalu ada kursi prioritas untuk maasyarakat difable dan lansia. Kemudian, dari satu jenis transportasi ke transportasi yang lain semuanya terhubung. Ketiga, kebetulan saya tinggal di Budapest, ibu kota Hungary, jadi saya merasakan kenyamanan hidup di sini. Meski pada umumnya masyarakat di Eropa yang individual, tapi hampir tidak pernah menjumpai terjadi kriminalitas. Bagi perempuan Muslim yang berjilbab juga tidak ada diskriminasi atau tindakan islamophobia, seperti yang banyak terjadi di negara-negara Eropa lainnya. Perjalanan studi di luar negeri, seperti yang telah dibagikan dalam wawancara ini, menunjukkan bahwa dengan tekad, persiapan yang matang, dan kerja keras, impian untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri bukanlah hal yang mustahil. Tantangan pasti ada, baik dalam hal akademik, bahasa, maupun budaya, tetapi semua itu bisa diatasi dengan semangat belajar yang tinggi dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Bagi mahasiswa yang bercita-cita mengikuti jejak serupa, mulailah dengan memperkuat kemampuan akademik, membangun portofolio penelitian, serta aktif mencari peluang beasiswa yang sesuai dengan minat dan bidang keilmuan masing-masing. Semoga pengalaman dan ilmu yang diperoleh oleh Dosen PAI UMM Nafik Muthohirin, S.Pd.I.,MA.Hum, selama studi di Hungaria tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi institusi dan bangsa. Keberhasilan satu individu dalam menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi adalah bagian dari kontribusi besar dalam memajukan dunia akademik dan keilmuan di Indonesia. Mari terus belajar, berkembang, dan berkontribusi untuk kemajuan pendidikan dan penelitian di tanah air! (NM/Ika)
SERI DISKUSI HALAQAH ILMIAH SABTU PAGI (HISP): Muhammadiyah Mengalami dan Mengatasi Khilafiyah

SABTU, 29 Oktober 2022. Gelaran Halaqah Ilmiah Sabtu Pagi (HISP) FAI-UMM kali ini mengambil tema “Muhammadiyah Mengalami dan Mengatasi Khilafiyah”. Bertindak sebagai pemateri Muhammad Arif Zuhri, Lc. M.H.I dan didampingi oleh Fahrudin Mukhlis, M.IRKH. sebagai moderator. Bertempat di GKB III Lt. 5 Ruang 502 UMM, pemateri yang sekaligus Kaprodi HKI FAI-UMM tersebut mengawali paparannya dengan menunjukkan fenomena “khilafiyah” yang ada di tengah-tengah masyarakat, meskipun perbedaan tersebut hanya berposisi pada ranah yang sederhana sekali. Paparan tersebut kemudian menggiring diskusi pada ulasan tentang salah satu alasan hadirnya Majelis Tarjih dalam organisasi Muhammadiyah. Dalam konteks peran Muhammadiyah merespon adanya khilafiyah, Muhammadiyah telah secara tegas menyatakan tidak berafiliasi mazhab. Artinya, Muhammadiyah tidak mengikuti mazhab tertentu, melainkan dalam berijtihad bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah, serta metode-metode ijtihad yang ada. Namun, lanjut Zuhri, Muhammadiyah juga tidak sama sekali menafikan berbagai pendapat para fuqaha yang ada. Pendapat-pendapat tersebut dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan diktum norma/ajaran yang lebih sesuai dengan semangat dimana kita hidup. Lanjutnya, Zuhri menyampaikan bahwa salah satu upaya Muhammadiyah dalam merespon khilafiyah tersebut ialah dengan menghasilkan produk Tarjih Muhammadiyah yang dikenal dengan “Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah”. “Putusan Tarjih adalah keputusan resmi Muhammadiyah dalam bidang agama -bukan keputusan Majelis Tarjih- dan mengikat organisasi secara formal”, ungkapnya. Pada penutup materi yang disampaikannya, Bapak Arif Zuhri mengungkap 2 (dua) hal. Pertama, dalam konteks masyarakat global dewasa ini, khilafiyah merupakan fenomena lumrah yang telah direspon nyata oleh Muhammadiyah. Kedua, Muhammadiyah mengatasi khilafiyah dengan dua cara, yakni membentuk lembaga ijtihad, serta meningkatkan dan memperluas wawasan individu pada kader Muhammadiyah. (DM)
Prodi HKI UMM beri Tips Hadapi Masalah Keluarga Kekinian

Kamis, 7 Juli 2022, Program Studi (Prodi) Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkesempatan menghadirkan Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si., P.hD. selaku Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Republik Indonesia (RI) untuk memberi penjelasan mengenai masalah yang dihadapi oleh keluarga kekinian dan juga menawarkan solusi apa yang seharusnya keluarga lakukan. Keluarga bukan hanya dipimpin oleh seorang ayah, begitupun dengan urusan mendidik yang bukan menjadi beban ibu saja. Tetapi keduanya harus saling bahu membahu membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si., P.hD. dalam sebuah Talkshow Keluarga Kekinian. Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Republik Indonesia (RI) itu menjelaskan bahwa saat ini, ibu masih menjadi pihak yang berkontribusi banyak dalam urusan mendidik anak. Sedangkan ayah sibuk pergi mencari nafkah. Padahal menurutnya, seorang anak memerlukan kehadiran sosok ayah dalam tumbuh kembangnya. “Tidak harus semua urusan rumah tangga dan mendidik anak diserahkan ke ibu. Harus ada campur tangan ayah sehingga bisa membangun hubungan hangat di antara anggota keluarga,” ucapnya. Di samping itu, ia juga menjelaskan bebarapa permasalahan keluarga kontemporer. Salah satunya tingginya gugatan cerai yang ada. Berdasarkan penelitiannya, banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka perceraian di Indonesia. Di antaranya ketikdakharmonisan dalam keluarga, masih terbelenggu oleh budaya lama dan ancaman baru teknologi digital. Dengan perkembangan teknologi digital yang semakin maju, bukan berarti masalah akan hilang. Justru malah memunculkan masalah baru bagi keluarga masa kini. Mulai dari perundungan yang makin masif, pelecehan di media sosial, kecanduan, penipuan dan sederet lainnya. “Perkembangan teknologi bukan hanya memunculkan solusi dan cara baru, tetapi juga memunculkan problem baru. Coba kita lihat, bagaimana kini kedekatan orang tua dan anak terasa kurang dan malah lebih fokus pada gawainya masing-masing,” paparnya. Belum lagi adanya pandemi yang menambah beban dan masalah. Dapat dilihat dari beban pendidikan yang memberatkan ibu karena harus memahami semua mata pelajaran. Apalagi jika ia bekerja. Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga juga terus meningkat 85% untuk perempuan dan 10% untuk laki-laki. Pun dengan naiknya persentase pernikahan anak di bawah umur. “Budaya patriarki di Indonesia belum bisa hilang. Masih banyak sang ibu memikul beban yang berat, hal ini masih terjadi karena kebanyakan laki-laki berpikir kodratnya hanya mencari nafkah, sedangkan perempuan menjadi ibu rumah tangga. Mindset ini perlu diubah, keduanya harus saling membantu agar keluarga yang dibangun menjadi lebih baik,” imbuhnya. Pada akhir pemaparannya, Alim memberikan tips untuk mengembalikan spirit berkeluarga yang sakinah. Salah satunya adalah dengan membuat fleksibel peran dari seorang ayah atau ibu sehingga bisa saling menutupi kekurangan dalam berkeluarga. Kemudian juga mampu menciptakan lingkungan yang ayaman sehingga dapat mencinptakan konsep baiti jannati. Menjadikan rumah sebagai hunian yang baik untuk kesehatan jasmania maupun rohani. Terakhir mampu memahami hobbi dan kesukaan setiap anggota keluarga yang ada. Sementara itu, Pradana Boy ZTF, MA., Ph.D. selaku pemateri kedua menjelaskan terkait kondisi keluarga masa kini yang memiliki banyak tantangan. Misalnya saja pandangan keluarga akan gaji istri yang lebih tinggi ketimbang suami. Pun dengan keluarga berjarak atau long distance marriage (LDM) dan sederet lainnya. Perubahan sosial juga mengubah perilaku masyarakat dalam berkeluargnya. Misalnya saja para orang tua yang kini lebih mementingkan dan fokus pada karir. Sementara anak-anaknya dititipkan. Meski sebagian menggapnya bukan masalah, tapi banyak keluarga yang harus menghadapi tantangan tersebut. “Apalagi perubahan sosial itu diiringi juga dengan perkembangan teknologi yang mengubah kebiasaan masyarakat. Pun dengan pemahaman ideologi baru. Maka, pemahaman baru dan langkah-langkah baru dalam berkeluarga peru diperbarui dan dipahami,” pungkasnya. (haq/wil/sz)
Dosen HKI Jadi Narasumber Kunci Seminar Nasional dan Deklarasi Bersama “Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme di Indonesia.”

Rabu siang, 29 Juni 2022, di Hotel Gajah Mada, Malang, Dosen Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI), Pradana Boy Zulian, PhD menghadiri dan menjadi salah seorang narasumber kunci pada agenda Seminar Nasional dan Deklarasi Bersama “Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme di Indonesia. “Bersama dengan Pradana Boy Zulian, PhD adalah Kombespol Ami Prindani, S.I.K., M.Si, Direktur Pencegahan Densus 88 Polri, Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, dan Eka Mahendra, S.I.K., M.Si, Kasubdit Kontra Naratif Densus 88 Polri. Ami Prindani menyebutkan bahwa trend intoleransi, radikalisme dan terorisme naik dalam sepuluh tahun terakhir. Sekurang-kurangnya ada 2000an penangkapan yang dilakukan oleh Densus 88. Bahkan, persoalan ini merembet ke berbagai institusi pemerintahan. Tentu saja hal ini menjadi pekerjaan rumah yang besar. Sementara itu, menurut Eka Mahendra, proses radikalisme yang terjadi perlu dihadang. Hal itu memerlukan kontra narasi yang tepat dan strategis. Karena akar masalahnya adalah fragmentasi politik dan konflik antar dan intra agama. Hal ini kemudian menimbulkan truth claim, lalu berlanjut pada intoleransi, ekstremisme dan pada puncaknya menjadi terorisme. Selaras yang disampaikan oleh Eka Mahendra, Islah Bahrawi menjelaskan bahwa instrumentalisasi agama untuk kepentingan politik seringkali mendorong percepatan radikalisasi. Atas dasar berbagai kepentingan, termasuk politik, lalu mendorong untuk melakukan homogenisasi ajaran agama. Kepentingan supremasi kekuasaan, merujuk kepada sejarah, seringkali memicu tumbuh-suburnya ekstremisme. Pradana Boy Zulian mengatakan bahwa yang harus dilakukan untuk mengatasi ini semua adalah memperdalam agama dan pemajuan ilmu pengetahuan. Di samping itu, ideologisasi Islam moderat atau Islam wasathiyyah harus dilakukan secara massif. Bahkan harus mengikuti trend terkini, yakni melalui berbagai platform media sosial.[hb]
Mahasiswa Ekonomi Syariah UMM Ikuti Event International Model United Nations (IMUN) 2022.

Haziz Hidayat mahasiswa dari prodi Ekonomi Syariah FAI UMM mengikuti event IMUN atau International Model United Nations. International Model United Nations (IMUN) sendiri merupakan simulasi akademik Perserikatan Bangsa-Bangsa di mana para peserta berperan sebagai delegasi dari berbagai negara dan berusaha untuk memecahkan masalah global nyata dengan kebijakan dan perspektif negara yang ditugaskan. Ini adalah metode “belajar sambil melakukan” belajar tentang diplomasi, hubungan internasional dan PBB Internasional MUN adalah kesempatan yang menarik untuk memperdebatkan isu-isu yang dihadapi para pemimpin dunia, untuk menyusun resolusi dunia dalam menanggapi isu-isu global dan bekerja dengan orang lain yang sama-sama termotivasi dan bersemangat tentang topik perdebatan. Umur panjang dan dinamis yang hanya dapat dicapai oleh konferensi seukuran kita, menjadikan IMUN salah satu simulasi PBB yang unggul di dunia. IMUN bertujuan untuk menyediakan platform bagi kaum muda untuk belajar tentang diplomasi, berpikir kritis, berbicara di depan umum dan konferensi PBB. Tujuan akhir dari IMUN adalah untuk mendorong kaum muda untuk menyadari isu-isu internasional, memahami dan mencoba untuk membentuk solusi yang mungkin untuk memecahkan masalah global. Kami berharap melalui IMUN, para peserta belajar tentang pentingnya menyeimbangkan kepentingan nasional dengan kebutuhan masyarakat internasional. Kegiatan yang berlangsung pada 16-18 Juni 2022 dilaksanakan di Universitas Atmajaya secara Konferensi dan seminar internasional yang di isi oleh beberapa duta besar. Serta disponsori dan partnerkan langsung Oleh Australian High Comission (Thailand & Vietnam), IOM Un Migration, UNESCO, UNDP. diikuti oleh 15 negara (Jepang, Indonesia, India, Philipina dll) dan membahas 4 topik utama di antaranya 1. United Nations Women (UN Women) 2. Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) 3. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) 4. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dengan hastage kegiatan #YOURVOICEMETTER. Tujuan akhir dari IMUN adalah untuk mendorong kaum muda untuk menyadari isu-isu internasional, memahami dan mencoba untuk membentuk solusi yang mungkin untuk memecahkan masalah global. Kami berharap melalui IMUN, para peserta belajar tentang pentingnya menyeimbangkan kepentingan nasional dengan kebutuhan masyarakat internasional.
Seri Disukusi HSP: Muhammadiyah Sebagai Kajian Akademik

Sabtu, 18 Juni 2022. HSP atau sering disebut (Halaqah Ilmiah Sabtu Pagi) ini merupakan kali kedua digelar dengan mengusung tema “Muhammadiyah sebagai kajian akademik”. Sedangkan hadir sebagai pemateri adalah bapak Dr. Faridi, M.Si dan dimoderatori oleh bapak Nafik Muthohirin, M.A. Hum. Kajian HSP ini digelar secara luring dan dihadiri oleh seluruh Dosen dan Staf di lingkungan Fakultas Agama Islam UMM di aula FAI GKB 3 Lantai VI. Dalam kesempatan pembicara menyajikan materi dengan judul makalah “Gerakan Muhammadiyah dalam perspektif teoritik”. Bahwa sebelum Muhammadiyah berdiri, umat Islam (di Nusantara) tidak mengenal dan tidak memiliki tradisi kemajuan, kemajuan bukan milik umat Islam, melainkan milik penjajah, priyayi pro penjajah, orang Tionghoa, dan orang Batak. KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagaimana surat yang ditujukan kepada Kolonial Belanda tgl 22 Agustus 1914 bertujuan: Pertama, menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad kepada penduduk bumiputra dalam residen Yogyakarta. Kedua, memajukan agama Islam kepada anggota-anggotanya. Dari frasa inilah diketahui bahwa Ahmad Dahlan merupakan pencetus pertama ideologi Islam yang berkemajuan/rasional. Gerakan Muhammadiyah juga didasarkan pada surat al-Ashr. Dari surat tersebut diperoleh empat pilar utama dalam membangun peradaban berkemajuan (amanu, amilus shalihah, watawashaubil haq, watawashau bil shabr). Menurut pemateri yang juga menjabat sebagai kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) menyampaikan bahwa dalam melihat gerakan Muhammadiyah dalam perspektif teoritik bisa dilihat dari empat hal. Pertama adalah proses, yaitu serangkaian langkah-langkah di luar kebiasaan (Amanu: pemurnian Tauhid, beraktivitas yang rasional, serta menempatkan makhluk sebatas hambaNya). Kedua adalah metode, yaitu cara meningkatkan kemampuan masyarakat (Watawashaubil haq: ipteks, mempertanyakan kebenaran/fenomena secara ilmiah). Ketiga adalah program, yaitu program yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat (Watawa shaubil shabr: kesabaran simbol akhlak tertinggi, peradaban dibangun di atas moraritas kemanusiaan. Dan keempat adalah gerakan, yaitu pengembangan masyarakat dengan filosofi tertentu (Amilus shalihah: kerja keras, pengakuan sesama, ridho dari Allah). Terakhir, beliau juga menyampaikan bahwa Islam berkemajuan menurut Muhammadiyah adalah Islam yang menyemaikan benih-benih kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, keutamaan hidup bagi seluruh umat manusia. Islam yang mampu melahirkan keunggulan hidup lahiriyah batiniyah sebagaimana tergambar dalam QS. Ali Imran (3):110. (Amien Abdullah, 2019). (sz)
Berkat Prestasi Tingkat Nasional, Mahasiswa FAI ini Lulus Tanpa Skripsi dan Jadi Lulusan Terbaik.

Ia adalah Fadilah Ahmad Nur, Mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang dari program studi Pendidikan Agama Islam. Sebelumnya pemuda yang berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB) terpilih sebagai juara satu (1) Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Tingkat Nasional dalam ajang pemilihan Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Tingkat Nasional. Mahasiswa yang dikenal dengan sapaan Adil mengungkapkan bahwa kontribusi yang dilakukan di bidang pendidikan yaitu dengan mendirikan Organisasi Sasambo Youth Education Nusa Tenggara Barat (SYE NTB) sebagai wadah anak muda dalam memajukan pendidikan di wilayah NTB. Beberapa program yang telah dijalankan saat ini diantaranya Relawan Pendidikan, Festival SYE Ramadhan, Tongkrongan Anak SYE, Mentoring pengurus, Ngobrol Pintar, Beasiswa Corner, Berbagi buku bersama, Webinar, pelatihan minat bakat. “Selain SYE, ada juga inovasi dibidang Pendidikan berupa media pembelajaran huruf Hijaiyah bernama MOCI (Monopoli Circle) dan Ide inovasi aplikasi pendidikan bernama Islamic Education Application by Android,”. Berkat inovasi dan prestasinya inilah dinyatakan lulus tanpa skripsi sebagai pengganti ekuivalensi tugas akhir. Selain karena prestasi di bidang non akademik, peraih The Honorable Mention Project pada Konferensi Internasional Istanbul Youth Summit 2021 juga berprestasi di bidang akademik dengan Raihan IPK 3,96 (Tiga koma Sembilan Puluh Enam) sehingga ia juga dinobatkan sebagai lulusan terbaik satu (1) tingkat fakultas pada yudisium periode II Tahun 2022.
Kolokium Doktor FAI UMM Hadirkan Tiga Ahli Bidang Ilmu

Kamis, 16 Juni 2022. Fakultas Agama Islam menggelar kolokium doktor yang bertempatkan di Aula FAI Gedung Kuliah Bersama III Lantai VI UMM. Kolokium doktor sendiri merupakan tradisi akademik yang sudah berlangsung lama terutama di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang. Dengan lahirnya banyak doktor baru di Fakultas Agama Islam, tentu ini menjadi kegembiraan tersendiri, karena dengan bertambahnya doktor baru secara tidak langsung memperkuat kualitas akademik di FAI UMM. Selain itu peningkatan kualitas akademik di bidang sumber daya pengajar juga berdampak pada peningkatan akreditasi unggul di Universitas Muhammadiyah Malang. Oleh karena itu, dengan hadirnya doktor-doktor baru kolokium doktor ini digelar sebagai bentuk syiar akademik Fakutas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang. Kolokium doktor FAI UMM tahun 2022 ini Insya Allah diselenggarakan dengan dua gelombang. Gelombang pertama dengan menghadirkan tiga ahli bidang ilmu. Pertama bidang ilmu tafsir hukum yaitu bapak Dr. Syamsurizal Yazid, M.A. dosen prodi Hukum Keluarga Islam. Kedua, bidang ilmu Ekonomi Syariah yaitu bapak Dr. Rahmad Hakim, M.MA. Dosen prodi Ekonomi Syariah. Dan Ketiga, bidang ilmu Bahasa Arab yaitu Bapak Dr. Achmad Tito Rusady, S.S., M.Pd. Dosen prodi Pendidikan Bahasa Arab. Adapun gelaran kolokium doktor gelombang dua akan menghadirkan doktor bidang ilmu Pendidikan Agama Islam. Pada gelaran kolokium doktor gelombang pertama ini, masing-masing pemateri memberikan materi sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuninya. Di antaranya adalah pertama bapak Dr. Syamsurizal Yazid, M.A. Beliau memaparkan materi dengan tema manajemen konflik suami-istri menurut al-Qur’an. Sedangkan pemateri kedua, yaitu Bapak Dr. Rahmad Hakim, M.MA menyampaikan materi dengan tema menyingkap tabir makna amanah dalam pengelolaan zakat menurut amil zakat. Sedangkan pemateri ketiga adalah Bapak Dr. Achmad Tito Rusady, M.Pd. Beliau menyajikan materi yang bertemakan pengembangan bahan ajar keterampilan menulis Bahasa arab berbasis kolokasi. Adapun sebagai pembanding dalam kolokium tersebut adalah Bapak Prof. Dr. Uril Bahruddin, M.A yang merupakan Guru Besar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Tak lupa kegiatan ini dipandu oleh Bapak M. Arif Zuhri, Lc., M.HI sebagai moderator. Acara yang berlangsung meriah ini, kurang lebih dihadiri oleh 500 peserta yang terdiri dari seluruh jajaran Dosen Fakultas Agama Islam dan juga seluruh mahasiswa FAI UMM. Selain itu turut juga mengundang peserta dari luar yaitu bapak/ibu guru Sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya dari tingkat SD hingga SMA. (sz).
Prodi Ekonomi Syariah Bekali Dosen dengan Sharing Discussion Penulisan Buku Ajar dan Teks

Jumat, 10 Juni 2022 Prodi Ekonomi Syariah FAI UMM menyelenggarakan worksop penulisan buku ajar. Acara yang bertempat di kantor Laboratorium Ekonomi Syariah tersebut, menurut bapak Dr. Rahmad Hakim selaku ketua Prodi tidak lain bertujuan untuk membekali para dosen-dosen prodi ekonomi Syariah agar lebih mudah membuat buku ajar yang berkualitas dan menarik. Menurutnya penulisan buku ajar ini penting bagi dosen terutama dosen-dosen prodi ekonomi Syariah sebab menulis buku sebagaimana merupakan bentuk kewajiban bagi pemilik profesi dosen. Kewajiban atau adanya ketentuan dosen harus menulis buku dituangkan dalam sejumlah Undang-Undang yang menjadi dasar penetapan tersebut. Salah satunya adalah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2021 Tentang Pendidikan Tinggi. Jika dicermati, pada pasal 12 ayat ke-3 ada penyebutan kewajiban dosen dalam menulis dan menerbitkan buku. Dosen secara perseorangan atau berkelompok wajib menulis buku ajar atau buku teks, yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi dan/atau publikasi ilmiah sebagai salah satu sumber belajar dan untuk pengembangan budaya akademik serta pembudayaan kegiatan baca tulis bagi sivitas akademika. Selain itu, produktivitas dosen dalam melaksanakan kewajiban dosen harus menulis buku. Nantinya diharapkan bisa menumbuhkan semangat membaca bagi kalangan dosen dan mahasiswa. Acara yang diselenggarakan secara luring ini dihadiri oleh seluruh dosen prodi serta turut menghadirkan pakar langsung dari penerbit UMM Press yaitu bapak Dr. Wahyu Hidayat yang juga merupakan kepala UMM Press.
Terbang ke Kairo, Dosen PAI UMM Hadiri Konferensi Internasional

Kairo, Dosen Prodi PAI Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM) Nafik Muthohirin, MA.Hum menghadiri undangan Grand Mufti Mesir melalui kerjasama antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Darul Iftaa Mesir dalam acara Konferensi Internasional bertajuk Relegious Extremism: The Intellectual Premises and Counter-Strategies di Kairo (7-9/6). Acara ini bertujuan untuk mengampanyekan pentingnya perdamaian global dan memupus pemikiran dan gerakan ekstremisme kekerasan berbasiskan agama. Kehadiran Nafik di acara tersebut sejalan dengan visi dan misi FAI UMM yang berkeinginan menjadi fakultas yang berperingkat internasional. Salah satu bentuknya adalah memperbanyak keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam berbagai kegiatan dan kerjasama internasional. Dekan FAI UMM Dr. Khozin, M.Si merespons positif keterlibatan Nafik pada kegiatan ilmiah tersebut. “Alhamdulillah, dua dosen kita Pak Pradana Boy dan Pak Nafik ada kegiatan masing-masing di Maroko dan di Mesir. Semoga dapat menambah poin untuk memenuhi Visi FAI 2030. Selain itu, ini penting untuk membangun jaringan,” kata Dr. Khozin. Sementara itu, bagi Nafik sendiri. Kehadirannya di konferensi tersebut memiliki faedah yang besar. Sebab, pria asal Lamongan itu memang telah memiliki perhatian yang besar terhadap berbagai diskursus tentang pembangunan perdamaian agama-agama, ekstremisme, dan multicultural, baik dalam perspektif pemikiran maupun pendidikan Islam. “Tentu saya senang bisa menjadi bagian dalam konsorsium global yang membincangkan strategi-strategi pencegahan ideologi ekstremisme. Saya melihat pendidikan sebagai faktor penting untuk memoderasi pemikiran masyarakat agar tidak terpapar ideologi terorisme dan ekstremisme,” kata dosen yang mengampu mata kuliah studi pemikiran Islam kontemporer tersebut. Penting diketahui bahwa kegiatan ini dihadiri perwakilan dari 42 negara yang mencakup Maroko, Turki, Lebanon, Spanyol, Singapura, Inggris, Amerika Serikat, Italia, Irak, Palestina, Kazakstan, Uzbekistan, dan lainnya. Selain para mufti atau ulama dari setiap negara, sejumlah pemimpin negara dan peneliti yang memiliki perhatian terhadap persoalan ekstremisme juga diundang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk saling bersinergi dan merumuskan kembali strategi-strategi baru dalam menghadapi ancaman terorisme dan ekstremisme. Dalam pidatonya, Grand Mufti Mesir Prof. Dr. Shawki Ibrahim Allam mengatakan, ancaman terorisme dan ekstremisme belum akan selesai. Kelompok ekstremis telah bertransformasi menggunakan berbagai strategi propaganda, perekrutan dan penyerangan melalui internet. “Kita perlu menyebut bahwa terorisme adalah musuh semua agama dan bangsa. Para akademisi dan ulama harus berkumpul merumuskan strategi yang baru dalam rangka memerangi mereka,” terangnya.