Optimalkan Serapan Anggaran dan Kinerja, BPI UMM Lakukan Monitoring dan Evaluasi di Fakultas Agama Islam

MALANG – Sebagai upaya menjaga kualitas tata kelola organisasi dan akuntabilitas keuangan, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar agenda Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Kerja pada Jumat, 19 Desember 2025. Kegiatan ini dilakukan secara intensif oleh tim dari Badan Pengendalian Internal (BPI) UMM terhadap Unit Unit Pengelola Program Studi (UPPS) serta empat Program Studi yang ada di bawah naungan FAI. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang FAI ini dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, mulai dari Dekan, para Wakil Dekan, Ketua Program Studi (Kaprodi), Sekretaris Program Studi (Sekprodi), hingga Bendahara Fakultas dan unit-unit program terkait lainnya. Menjaga Akuntabilitas dan Kualitas Acara diawali dengan sambutan hangat dari Dekan FAI UMM, Dr. Imamul Hakim, M.Sh. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa agenda Monev bukanlah sekadar rutinitas administratif, melainkan instrumen vital untuk memastikan bahwa visi dan misi fakultas diterjemahkan dengan baik melalui program kerja yang nyata. “Monev ini adalah cermin bagi kita semua di FAI. Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang dianggarkan benar-benar memberikan dampak pada peningkatan kualitas akademik dan layanan kepada mahasiswa. Sinergi antara UPPS dan empat prodi kita—Hukum Keluarga Islam (HKI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), dan Ekonomi Syariah (Eksya)—harus tetap solid agar target fakultas tercapai,” ujar Dr. Imamul. Beliau juga menambahkan bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah kunci utama dalam mempertahankan kepercayaan pemangku kepentingan (stakeholders) terhadap FAI UMM sebagai lembaga pendidikan Islam yang unggul. Fokus BPI: Serapan Dana dan Target Capaian Tim dari Badan Pengendalian Internal (BPI) UMM yang hadir pada kesempatan tersebut memberikan penjelasan detail mengenai parameter evaluasi. Fokus utama dalam Monev kali ini mencakup dua aspek besar: pertama, efektivitas pelaksanaan program kerja yang telah direncanakan di awal tahun anggaran. Kedua, ketepatan serta maksimalisasi penyerapan dana pada setiap kegiatan yang telah dilaksanakan. Perwakilan tim BPI menjelaskan bahwa serapan dana yang maksimal harus diiringi dengan bukti fisik dan laporan pertanggungjawaban yang sesuai dengan prosedur universitas. BPI bertindak sebagai mitra strategis bagi FAI untuk mengidentifikasi kendala apa saja yang dihadapi prodi di lapangan, sehingga target-target yang belum tercapai dapat segera dicarikan solusinya pada periode berikutnya. Evaluasi dilakukan secara mendetail pada masing-masing prodi. Kaprodi dan Sekprodi memaparkan laporan capaian kinerja mereka, mulai dari penyelenggaraan seminar internasional, pengabdian masyarakat, hingga pengembangan kurikulum berbasis industri. Sementara itu, para bendahara prodi mendampingi dengan data administratif untuk memastikan tidak ada ketimpangan antara rencana anggaran dan realisasi di lapangan. Kolaborasi Struktural demi Kemajuan FAI Diskusi dalam Monev berlangsung sangat dinamis. Seluruh struktural FAI menunjukkan komitmennya untuk terbuka terhadap masukan dari tim BPI. Kehadiran lengkap dari unsur pimpinan hingga pengelola keuangan menunjukkan keseriusan FAI dalam mematuhi standar prosedur operasional yang ditetapkan oleh universitas. Pihak fakultas menyadari bahwa dinamika kegiatan kampus seringkali menghadapi tantangan tak terduga. Namun, melalui monitoring berkala ini, setiap hambatan dapat didokumentasikan dan dijadikan bahan evaluasi untuk penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB) tahun mendatang agar lebih presisi. Langkah Menuju Tata Kelola Kelas Dunia Kegiatan Monev ini diakhiri dengan penyerahan draf catatan evaluasi dari BPI kepada pihak fakultas. Hasil dari pertemuan ini akan menjadi basis data penting bagi FAI UMM untuk terus berinovasi. Dengan serapan dana yang optimal dan program kerja yang terlaksana 100 persen, FAI optimis dapat terus meningkatkan akreditasi prodi menuju unggul dan internasional. Melalui pengawasan internal yang ketat dan profesional dari BPI, Fakultas Agama Islam UMM membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dalam hal amanah dan profesionalisme benar-benar diterapkan dalam sistem manajemen pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang.
Menyingkap Rahasia Langit: Keseruan Mahasiswa HKI FAI UMM dalam Praktikum Ilmu Falak dan Penentuan Hilal

MALANG – Di bawah langit cerah yang memayungi Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekelompok mahasiswa tampak antusias mengerumuni perangkat teleskop dan teodolit. Bukan sekadar rekreasi, para mahasiswa dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam (FAI) ini tengah menjalani praktikum Ilmu Falak—sebuah disiplin ilmu yang memadukan dalil agama dengan ketelitian astronomi. Praktikum ini menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan. Dipandu langsung oleh dosen pakar, Drs. Muhammad Sarif, serta didampingi oleh Asisten Dosen, Muhammad Syamsu Alam Darajad, M.A., para mahasiswa diajak untuk mempraktikkan teori yang selama ini hanya mereka temui di dalam buku teks ke dalam fenomena alam yang nyata. Memburu Hilal: Bekal Menentukan Hari Besar Islam Fokus utama dari praktikum ini adalah pembekalan kemampuan observasi benda langit, khususnya dalam pengamatan hilal (bulan sabit muda). Kemampuan ini dianggap krusial bagi mahasiswa HKI, mengingat penentuan awal bulan Ramadan, 1 Syawal (Idul Fitri), dan 1 Dzulhijjah sangat bergantung pada akurasi pengamatan bulan baru dalam kalender Hijriyah. “Mahasiswa Hukum Keluarga Islam tidak hanya dituntut memahami hukum fikihnya saja, tetapi juga harus menguasai instrumen sainsnya. Bagaimana mereka bisa memberikan fatwa atau keputusan hukum yang tepat mengenai awal bulan jika mereka tidak paham bagaimana data astronomi itu diambil di lapangan?” ujar Drs. Muhammad Sarif di sela-sela bimbingannya. Dalam praktikum ini, mahasiswa diajarkan cara menghitung posisi bulan (hisab) dan kemudian membuktikannya melalui observasi langsung (rukyat). Mereka belajar menggunakan perangkat optik modern untuk melacak keberadaan bulan yang sering kali sangat tipis dan sulit dilihat dengan mata telanjang. Pengalaman “berburu” hilal ini memberikan sensasi tersendiri bagi mahasiswa, menciptakan kedekatan spiritual sekaligus intelektual terhadap kebesaran penciptaan alam semesta. Presisi Arah Kiblat: Akurasi dalam Beribadah Selain pengamatan benda langit, praktikum Ilmu Falak ini juga membekali mahasiswa dengan tata cara pengukuran arah kiblat yang presisi. Hal ini merupakan kompetensi wajib bagi calon praktisi hukum Islam, karena di masyarakat nanti, mereka sering kali diminta bantuan untuk memverifikasi arah kiblat masjid atau pemakaman. Muhammad Syamsu Alam Darajad, M.A., menjelaskan bahwa penggunaan kompas saja sering kali tidak cukup karena adanya deklinasi magnetik. Oleh karena itu, mahasiswa diajarkan menggunakan metode Rashdul Qiblat (memanfaatkan posisi matahari) serta penggunaan alat bantu teodolit untuk mendapatkan derajat keakuratan yang maksimal. “Kami ingin mahasiswa kami mandiri. Saat mereka terjun ke masyarakat nanti, mereka memiliki kepercayaan diri untuk menentukan arah kiblat yang sesuai secara syar’i dan saintifik. Ini adalah bentuk pengabdian nyata ilmu agama yang berbasis data,” tambah Syamsu. Antusiasme Mahasiswa HKI Suasana praktikum terasa hidup dan interaktif. Mahasiswa Prodi HKI tampak tidak canggung meskipun harus berhadapan dengan rumus-rumus trigonometri bola yang rumit. Bagi mereka, kerumitan itu terbayar lunas ketika mereka berhasil membidik objek langit atau menemukan titik koordinat yang tepat melalui lensa teleskop. Salah satu mahasiswa peserta praktikum mengungkapkan kegembiraannya. “Belajar Ilmu Falak di FAI UMM itu seru banget! Biasanya kita cuma baca teori soal posisi matahari dan bulan, tapi di sini kita pegang alatnya langsung. Jadi lebih paham kenapa penentuan awal Ramadan itu bisa berbeda-beda, dan betapa pentingnya akurasi dalam menentukan arah kiblat,” ujarnya penuh semangat. Praktikum ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memahami keragaman metode dalam Islam terkait penentuan waktu ibadah. Dengan bimbingan dari Drs. Muhammad Sarif dan tim asisten, mahasiswa diajak untuk bersikap bijak dan inklusif terhadap perbedaan ijtihad dalam Ilmu Falak. Fasilitas dan Masa Depan Lulusan FAI UMM terus berkomitmen menyediakan fasilitas pendukung terbaik untuk praktikum ini. Ketersediaan alat-alat astronomi yang memadai di fakultas memastikan bahwa setiap mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktik secara bergantian. Melalui kegiatan seperti ini, FAI UMM membuktikan bahwa kurikulum Program Studi Hukum Keluarga Islam didesain secara adaptif dan komprehensif. Lulusan HKI UMM diharapkan tidak hanya menjadi sarjana hukum yang ahli di pengadilan agama, tetapi juga menjadi intelektual muslim yang mampu menjembatani teks-teks keagamaan dengan realitas sains modern. Keseruan praktikum Ilmu Falak ini diakhiri dengan diskusi santai di bawah langit malam, mengevaluasi hasil pengamatan, dan mempererat silaturahmi antara dosen dan mahasiswa. Sebuah perjalanan akademik yang tidak hanya mengisi pikiran, tetapi juga menenangkan jiwa melalui pengamatan ayat-ayat kauniyah di cakrawala.
Poster Penerimaan Mahasiswa Baru Program Studi Ekonomi Syariah FAI UMM
Kunjungan Santri Pondok Pesantren Mansyaul Ulum ke FAI UMM
Sinergi Pesantren dan Perguruan Tinggi: Puluhan Santri Mansyaul Ulum Jajaki Peluang Karier Global di FAI UMM

MALANG – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan edukasi dari santri Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Mansyaul Ulum pada Rabu, 18 Desember 2025. Kunjungan ini bertujuan untuk memperluas cakrawala akademik para santri sekaligus mengenalkan ekosistem pendidikan tinggi yang relevan dengan tantangan dunia kerja modern. Sambutan Dekan: Jembatan Menuju Dunia Kerja Acara yang berlangsung di Aula FAI UMM ini dibuka langsung oleh Dekan FAI UMM, Dr. Imamul Hakim, M.Sh. Dalam sambutannya, beliau menyambut hangat kehadiran para santri dan guru pendamping. Dr. Imamul menekankan bahwa pendidikan di perguruan tinggi saat ini tidak hanya soal teori di kelas, melainkan tentang kesiapan menghadapi industri. “Kami sangat bangga menerima kehadiran generasi muda dari Ponpes Mansyaul Ulum. Di FAI UMM, kami memiliki program unggulan bernama Center of Excellence (CoE). Program ini dirancang khusus untuk memastikan mahasiswa memiliki keahlian spesifik yang dibutuhkan pasar kerja, sehingga lulusan kami dapat langsung terserap ke dunia kerja secara profesional,” ujar Dr. Imamul. Beliau juga menambahkan bahwa FAI UMM terus memperluas jejaring kerja sama, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini dilakukan untuk mendukung penuh karier mahasiswa melalui program magang, pertukaran pelajar, hingga penempatan kerja di berbagai lembaga mitra di luar negeri. Harapan Besar dari Mansyaul Ulum Gayung bersambut, Kepala MA Mansyaul Ulum menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas penerimaan yang sangat baik dari pihak kampus. Dalam pidatonya, beliau berharap kunjungan ini menjadi langkah awal bagi para santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, khususnya di UMM yang dikenal sebagai kampus bereputasi global. “Kami berharap ada santri kami yang nantinya bisa diterima di FAI UMM. Kami sangat tertarik dengan skema beasiswa yang ditawarkan, terutama beasiswa prestasi dan Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) yang sangat relevan dengan latar belakang santri kami,” ungkapnya. Pemaparan Komprehensif: Dari Beasiswa hingga Karier Sesi utama informasi akademik dipandu oleh Imroatus Solihah, M.H., selaku PiC Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) FAI UMM. Dalam pemaparannya, Imroatus mengupas tuntas profil Fakultas Agama Islam yang menaungi empat program studi unggulan. Informasi yang disampaikan mencakup: Keunggulan & Fasilitas: Penjelasan mengenai laboratorium, perpustakaan digital, dan lingkungan kampus yang mendukung pembelajaran inklusif. Jalur Pendaftaran & Beasiswa: Tersedia berbagai opsi mulai dari beasiswa dalam negeri, luar negeri, hingga jalur khusus seperti PPUT dan Katamm (Kader Tahfidz Muhammadiyah). Inovasi Kurikulum: Penjelasan mengenai Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL/PKP) yang memudahkan konversi pengalaman menjadi kredit akademik. Pengembangan Diri: Berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang dapat mengasah soft skill santri di luar bidang akademik. Tak lupa, Imroatus juga merinci estimasi pembiayaan yang transparan, prosedur pendaftaran yang kini berbasis digital, serta memberikan kontak person yang bisa dihubungi sewaktu-waktu oleh para santri yang ingin berkonsultasi lebih lanjut. Mengenal Lebih Dekat Prodi PBA dan HKI Untuk memberikan gambaran spesifik mengenai bidang keilmuan, acara dilanjutkan dengan sesi pemaparan program studi. Ibu Anisatu Thoyyibah memaparkan prospek Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) yang kini tidak hanya mencetak guru, tetapi juga penerjemah dan diplomat. Sementara itu, Nabila Malik, S.H., memberikan penjelasan mendalam mengenai Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) serta bagaimana lulusannya dipersiapkan menjadi praktisi hukum yang handal di pengadilan maupun lembaga konsultasi. Antusiasme dalam Games dan Tur Kampus Menutup rangkaian acara, suasana formal berubah menjadi ceria saat memasuki sesi games interaktif. Para santri terlihat antusias memperebutkan berbagai merchandise eksklusif dari FAI UMM. Acara kemudian diakhiri dengan kegiatan campus tour. Para santri diajak berkeliling melihat langsung kemegahan fasilitas kampus putih UMM, mulai dari gedung perkuliahan, pusat aktivitas mahasiswa, hingga masjid kampus. Kunjungan ini diharapkan mampu memotivasi para santri untuk terus berprestasi dan memantapkan niat mereka untuk meraih masa depan yang gemilang melalui pendidikan tinggi yang berkualitas.
Mahasiswa Magang di LPKNI Dapat Pengalaman Langsung Dunia Praktik Hukum

Lembaga Perlindungan Konsumen Nusantara Indonesia (LPKNI) menjadi salah satu tempat magang yang memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa hukum dalam memahami praktik hukum di Indonesia. Selama menjalani masa magang, para mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai aktivitas hukum yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat dan proses peradilan. Pada minggu pertama, para peserta magang diperkenalkan dengan sistem kerja internal LPKNI. Mereka mulai memahami bagaimana lembaga ini berperan dalam membantu konsumen yang mengalami permasalahan hukum, khususnya dalam konteks perlindungan hak-hak masyarakat. Para mahasiswa juga diberi kesempatan untuk mempelajari berkas-berkas perkara, membaca arsip pengaduan, serta memahami alur kerja lembaga dalam menangani keluhan dari masyarakat. Memasuki minggu kedua dan seterusnya, kegiatan magang mulai bersifat lebih teknis. Para mahasiswa mendapatkan pembekalan langsung terkait analisis putusan Mahkamah Agung, penyusunan legal opinion, serta pemahaman perbedaan bentuk badan usaha seperti Perseroan Terbatas (PT) dan Commanditaire Vennootschap (CV). Tidak hanya itu, mereka juga dilatih menyusun kontrak kerja, baik Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) maupun Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT), yang menjadi salah satu keterampilan penting dalam praktik hukum ketenagakerjaan. Pengalaman magang semakin intens ketika para mahasiswa mulai terlibat dalam penyusunan dokumen hukum. Mereka belajar membuat berbagai jenis surat, mulai dari surat gugatan, surat kuasa, somasi, hingga pembuatan Surat Keputusan (SK) organisasi. Proses ini memberikan pemahaman yang lebih aplikatif tentang bagaimana dokumen hukum disusun secara sistematis dan sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku. Tidak hanya berfokus pada pekerjaan administratif, para peserta magang juga mendapatkan pengalaman praktik langsung di pengadilan. Mereka dilatih mengunggah berkas perkara melalui sistem e-court, sebuah sistem digital peradilan yang kini digunakan secara luas di Indonesia. Selain itu, mereka turut serta menyerahkan berkas secara langsung ke pengadilan dan terlibat dalam rapat-rapat persiapan sidang bersama tim hukum. Pengalaman yang paling berharga dirasakan ketika para mahasiswa berkesempatan menghadiri langsung persidangan pidana. Mereka menyaksikan secara langsung proses pemeriksaan saksi, pemeriksaan terdakwa, hingga tahap pembacaan tuntutan oleh jaksa penuntut umum, meskipun dalam beberapa kesempatan sidang sempat mengalami penundaan. Kehadiran dalam ruang sidang memberikan gambaran nyata mengenai dinamika persidangan, peran masing-masing pihak, serta pentingnya ketelitian dan profesionalitas dalam proses penegakan hukum. Program magang di LPKNI ini dinilai mampu memberikan pengalaman holistik bagi mahasiswa, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari sisi praktis. Para peserta magang dilatih untuk berpikir kritis, memahami prosedur, serta mengembangkan etika profesional di bidang hukum. Dengan terjun langsung ke lapangan, para mahasiswa mampu memahami bahwa hukum bukan hanya sebatas teori di bangku kuliah, tetapi sebuah sistem yang hidup dan bekerja untuk melindungi hak-hak masyarakat. Melalui pengalaman ini, para mahasiswa berharap dapat membawa bekal ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama magang untuk menunjang karier mereka di masa depan, baik sebagai praktisi hukum, akademisi, maupun profesi lainnya yang berkaitan dengan dunia hukum dan keadilan.(nm)
MENGUKUHKAN PERAN STRATEGIS PENDIDIKAN BAHASA ARAB: PBA UMM IKUT SERTA DALAM SEMILOKA DAN RAKERNAS PPPBA 2025

PBA UMM News – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (PBA FAI UMM) kembali menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan pendidikan bahasa Arab di tingkat nasional. Pada 5–7 November 2025, perwakilan PBA FAI UMM hadir dan terlibat aktif dalam Semiloka Nasional dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2025 yang digelar oleh Perkumpulan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PPPBA) Indonesia di Kota Batu. Kegiatan yang mengangkat tema “Penguatan Kurikulum Prodi PBA Berbasis Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025 dan Penyiapan Akreditasi Unggul melalui IAPS 2.0”, ini menghimpun para pengelola prodi PBA dari jenjang S1, S2, hingga S3 di seluruh Indonesia. Pada agenda tersebut, PBA FAI UMM diwakili oleh Ketua Program Studi, Mochammad Firdaus, B.Ed., M.Ed., serta Sekretaris Program Studi, Lailatul Mauludiyah, S.S., M.Pd.I.. Keduanya mengikuti rangkaian sesi diskusi, lokakarya, dan perumusan langkah strategis untuk memperkuat arah pengembangan kurikulum PBA ke depan. Pembahasan dalam forum difokuskan pada penyelarasan kurikulum berbasis Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025, penerapan Outcome-Based Education (OBE), serta strategi untuk mencapai standar Akreditasi Unggul melalui instrumen IAPS 2.0. Kehadiran PBA FAI UMM dalam forum nasional ini menegaskan komitmen prodi untuk terus memperbarui kualitas akademik dan memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman. Ketua Umum PPPBA Indonesia, Prof. Dr. Hanik Mahliatussikah, M.Hum., menilai bahwa forum ini menjadi wadah penting untuk mempertemukan gagasan dan menyamakan arah kebijakan antarprodi PBA di seluruh Indonesia. “Pertemuan ini memberikan ruang untuk meninjau kembali arah Pendidikan Bahasa Arab secara lebih menyeluruh. Dengan adanya Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025, kita memiliki dasar yang kuat untuk mengembangkan kualitas prodi. Karena itu, kerja sama antarlembaga menjadi unsur yang harus dijaga agar penguatan mutu dapat berjalan konsisten”, tutur Hanik. Selain sesi akademik, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperluas jaringan kolaborasi antarprodi melalui penandatanganan MoU dan Implementation Agreement (IA). Kesepakatan bersama ini membuka peluang kerja sama dalam berbagai bidang, mulai dari penelitian, pengabdian masyarakat, pertukaran dosen, hingga publikasi ilmiah. Keterlibatan Kaprodi dan Sekprodi PBA FAI UMM dalam rangkaian agenda tersebut, memperkuat posisi prodi sebagai salah satu unit akademik yang aktif terlibat dalam penguatan kebijakan tingkat nasional. Partisipasi ini diharapkan dapat memperkaya perspektif pengembangan kurikulum di PBA FAI UMM sekaligus memperkuat langkah menuju capaian akreditasi Unggul. [NS & ATy]
Intrenship Gallery – Transformasi Pembelajaran Hukum Korporasi: Pengalaman Mahasiswa CoE HKI UMM dalam Praktik Profesional di HSR Law Office

Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan hukum yang relevan dengan kebutuhan dunia profesional. Melalui program Center of Excellence (CoE) Corporate Law School pada Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), mahasiswa diberikan kesempatan untuk memahami praktik hukum kontemporer secara langsung melalui kegiatan magang di berbagai firma hukum profesional. Salah satunya adalah HSR Law Office, sebuah firma hukum yang berlokasi di Kota Malang dan berfokus pada pengembangan layanan hukum korporasi, perdata, dan administrasi. Pada periode magang tahun ini, dua mahasiswi CoE HKI UMM, yaitu Uswatun Hasanah (202210020311004) dan Eka Nadya Yunira Putri (202210020311020), mengikuti kegiatan magang intensif selama tiga bulan di bawah bimbingan tim advokat profesional HSR Law Office. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kompetensi lintas bidang antara hukum Islam dan hukum korporasi, sekaligus ruang pembelajaran yang memperkaya pemahaman mahasiswa tentang dinamika kerja hukum di dunia nyata. Selama menjalani magang, para mahasiswa mendapatkan pengalaman komprehensif mengenai penerapan hukum korporasi dalam berbagai konteks profesional. Mereka mempelajari struktur organisasi firma hukum, pembagian divisi kerja, serta memahami bagaimana koordinasi antarbidang dilakukan dalam penyelesaian kasus hukum perusahaan. Mahasiswa juga dibimbing untuk melakukan kajian terhadap berbagai regulasi perusahaan, termasuk menelaah Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK), memahami syarat pendirian lembaga pembiayaan, serta mengidentifikasi aspek-aspek kepatuhan yang wajib dipenuhi oleh entitas bisnis. Tidak hanya itu, para mahasiswa mendapat kesempatan memperdalam keterampilan analitis melalui kegiatan audit dokumen hukum, seperti menelaah legal advice, memeriksa kelengkapan dan keabsahan dokumen perusahaan, hingga mengidentifikasi potensi risiko hukum. Mereka juga mempelajari berbagai jenis berkas penting seperti surat pengakuan hutang, perjanjian kerja sama, dokumen administrasi perusahaan, serta dokumen kontraktual lainnya. Dalam proses tersebut, mahasiswa dilatih untuk memeriksa aspek formil dan materiil, mendeteksi potensi wanprestasi, dan menafsirkan ketentuan hukum yang relevan dengan kasus yang sedang ditangani. Pengalaman paling berkesan datang ketika mahasiswa diberi kesempatan menganalisis kasus nyata, termasuk perkara investasi fiktif yang melibatkan lembaga keuangan. Mereka mempelajari alur penyelesaian masalah mulai dari proses identifikasi kronologi, analisis kerugian, hingga strategi penyelesaian kredit macet. Hal ini meliputi pendekatan restrukturisasi, negosiasi dengan debitur, serta mekanisme penyelesaian formal melalui jalur litigasi maupun non-litigasi. Pembelajaran ini memberikan gambaran utuh mengenai bagaimana advokat menangani perkara yang kompleks dan berdampak pada kepentingan publik maupun institusi. Selain pengalaman teknis, magang ini juga menjadi sarana pengembangan soft skills yang sangat penting bagi calon praktisi hukum. Mahasiswa belajar berkomunikasi secara profesional dengan klien, mengelola dokumen hukum dengan rapi, memahami etika profesi, serta bekerja sama dalam tim untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Mereka juga merasakan langsung bagaimana disiplin kerja, ketepatan waktu, dan ketelitian menjadi kunci utama dalam dunia kerja hukum. Pengalaman magang di HSR Law Office ini membuktikan bahwa mahasiswa HKI UMM mampu beradaptasi secara efektif dengan kompleksitas praktik hukum korporasi modern. Meskipun berasal dari latar belakang hukum Islam, para mahasiswa mampu menunjukkan kapasitas analitis dan kemampuan memahami regulasi hukum positif secara seimbang. Hal ini sekaligus menguatkan bahwa sinergi antara hukum Islam dan hukum korporasi dapat terwujud dalam praktik profesional yang menekankan nilai integritas, akuntabilitas, dan keadilan. Program magang ini diharapkan menjadi fondasi penting bagi mahasiswa HKI UMM dalam mempersiapkan diri menjadi calon praktisi hukum yang kompeten dan berintegritas. Dengan bekal pengetahuan hukum yang kuat, pengalaman lapangan yang kaya, serta nilai-nilai syariah yang terus melekat, mahasiswa CoE HKI UMM diharapkan mampu berkontribusi dalam berbagai sektor hukum, khususnya dalam menghadapi tantangan hukum korporasi di era yang semakin dinamis dan kompetitif.(nm)
Prodi PAI UMM Pembekalan PKL Mahasiswa

Usai sambutan pelepasan dari Dekan Fakultas Agama Islam (FAI), rangkaian pembekalan Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) dilanjutkan dengan sesi pelatihan bertajuk “Service Excellence and Hospitality”. Materi ini disampaikan oleh Teguh Hadi Saputro, M.A.—dosen Bahasa Inggris FKIP UMM sekaligus General Manager Hotel Kapal UMM dan My Dormy Hostel. Dalam paparannya, Teguh menyampaikan bahwa layanan prima dan sikap hospitality merupakan bagian penting dalam dunia pendidikan, terutama dalam membentuk citra sekolah dan kepribadian tenaga kependidikan. Mengangkat tema “Building trust through your professionalism”, Teguh menjelaskan bahwa sekolah sejatinya juga merupakan lingkungan jasa. “Kita melayani siswa, guru, staf administrasi, hingga orang tua. Setiap tindakan kita berkontribusi terhadap citra pribadi dan reputasi institusi,” tegasnya Pemateri menggarisbawahi bahwa sekolah sejatinya adalah tempat berbagai elemen sivitas akademika memberikan pelayanan terbaik kepada siswa, orang tua, dan masyarakat. “Pelayanan yang baik berdampak langsung pada citra sekolah dan branding pribadi kita sebagai pendidik,” ungkapnya. Lebih jauh, Teguh menekankan bahwa hospitality menjadi poin penting yang harus dibangun di sekolah, dan hal itu tidak bisa dilepaskan dari sikap personal individu. Menurutnya, ketika seseorang memiliki attitude value yang positif, maka personal branding akan terbangun dengan sendirinya. Dalam konteks pendidikan, hospitality bisa diwujudkan melalui pelayanan ramah dan profesional dari pimpinan hingga tenaga kependidikan di sekolah. Peserta pelatihan diajak untuk memahami lima pilar utama layanan prima, yaitu: Penampilan Profesional, Komunikasi Efektif, Sikap Positif, Konsistensi dan Keandalan, serta Antisipasi dan Empati. Menurut Teguh, pelayanan yang baik bukan hanya urusan teknis, tetapi mencerminkan hati dan sikap. “Hospitality itu bukan sekadar tugas, tapi sikap. Kita tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga memberikan kepedulian,” jelasnya di hadapan peserta. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan praktis, Teguh juga mengajak mahasiswa PAI FAI UMM untuk melakukan simulasi pelayanan langsung dan refleksi diri. Salah satu pertanyaan yang menggugah peserta adalah: “What kind of intern do you want to be remembered as?” Pelatihan ini menjadi bekal awal penting bagi mahasiswa PAI untuk siap menghadapi dinamika dunia kerja, khususnya saat menjalani PKL. Sebagaimana disampaikan dalam penutupnya, Teguh mengajak peserta untuk memiliki komitmen pelayanan yang berlandaskan integritas dan kepedulian: “I commit to serve with kindness, patience, and integrity.” Rangkaian pembekalan ini menjadi salah satu bentuk keseriusan Prodi PAI FAI UMM dalam mempersiapkan mahasiswanya tidak hanya secara akademis, tetapi juga secara profesional dan etis dalam dunia pendidikan yang semakin kompetitif.
Alumni Update – Kiprah Alumni HKI UMM di Dunia Korporasi Internasional: Perjalanan Karier Adv. Ahmad Reza Setiawan, S.H
Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan kebanggaan melalui perjalanan karier salah satu alumninya, Adv. Ahmad Reza Setiawan, S.H, yang kini berkiprah sebagai corporate lawyer dan terlibat dalam berbagai pekerjaan yang berskala nasional hingga internasional. Perjalanan Reza memberikan gambaran tentang bagaimana lulusan HKI mampu menembus dunia hukum korporasi yang dinamis dan penuh tantangan, sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa yang ingin mengikuti jejak serupa. Perjalanan karier Reza dimulai dari ketertarikannya pada dunia bisnis serta bagaimana hukum memainkan peran penting dalam menjaga transparansi dan kepastian bagi perusahaan. Setelah menyelesaikan studi, ia memilih untuk terjun langsung ke dunia praktik melalui magang di sebuah firma hukum yang berfokus pada bidang corporate & commercial practice. Dari pengalaman awal inilah, Reza banyak belajar tentang legal drafting, teknik negosiasi, dan analisis regulasi yang menjadi fondasi utama pekerjaannya saat ini. Ia mengakui bahwa tantangan terbesar pada awal karier bukanlah pada kompleksitas materinya, melainkan bagaimana ia harus beradaptasi dengan ritme kerja yang sangat cepat dan tuntutan akurasi yang tinggi.Dunia korporasi bergerak dengan tenggat waktu yang ketat, dokumen yang tebal dan kompleks, serta koordinasi dengan berbagai divisi perusahaan maupun klien. Menjaga kualitas analisis sambil tetap memenuhi target waktu menjadi latihan penting yang membentuk profesionalisme dirinya hingga kini.Dalam menjalani karier sebagai corporate lawyer, Reza merasakan betul bagaimana kompetensi yang ia dapatkan dari HKI UMM memberi kontribusi besar. Menurutnya, kemampuan analisis yang terbangun melalui pembelajaran logika hukum sangat membantu dalam membaca regulasi, menafsirkan klausul kontrak, hingga melihat risiko hukum dari berbagai perspektif. Selain itu, mata kuliah seperti mediasi dan negosiasi yang selama ini sering dianggap sederhana, ternyata memiliki relevansi kuat dalam dunia komersial. Banyak aktivitas korporasi yang melibatkan komunikasi formal, penyusunan dokumen bisnis, hingga penyelesaian perbedaan kepentingan antar pihak. Fondasi keilmuan inilah yang membantu Reza memahami struktur persoalan dengan lebih sistematis dan komunikatif. Seiring berkembangnya kariernya, Reza semakin banyak terlibat dalam pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan klien asing, dokumen berbahasa Inggris, serta kontrak yang mengacu pada standar internasional. Pengalaman ini menjadi tantangan tersendiri karena melibatkan perbedaan sistem hukum, budaya bisnis, serta ekspektasi klien dari berbagai negara. Untuk menanganinya, Reza menerapkan pendekatan yang lebih komprehensif dengan memperbanyak referensi hukum internasional, memahami standar global dalam penyusunan kontrak, serta memastikan seluruh dokumen tetap sejalan dengan hukum Indonesia. Komunikasi yang jelas, profesional, dan terstruktur menjadi kunci dalam menjalin hubungan kerja dengan klien luar negeri. Dalam pandangan Reza, seorang lawyer masa kini harus memiliki kemampuan global untuk dapat bersaing di tengah perkembangan dunia bisnis yang semakin terintegrasi. Penguasaan bahasa Inggris profesional menjadi keharusan, terutama dalam proses drafting dan negosiasi. Selain itu, pemahaman mengenai hukum internasional, mekanisme arbitrase, prinsip kontrak common law, serta aspek compliance seperti anti-bribery, anti-money laundering, hingga perlindungan data, merupakan bekal penting untuk memasuki dunia kerja yang berstandar global. Kemampuan berkomunikasi dengan lintas budaya juga menjadi nilai tambah, mengingat hubungan bisnis tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis. Sebagai alumni HKI, Reza percaya bahwa mahasiswa dan lulusan UMM memiliki peluang besar untuk masuk ke dunia kerja korporasi selama mereka mau membangun kompetensi dan pengalaman sejak awal. Ia menekankan pentingnya portofolio, baik melalui magang, proyek organisasi, maupun kegiatan riset yang relevan. Kemampuan bahasa Inggris juga perlu terus diasah, khususnya dalam legal English dan terminologi bisnis. Menurutnya, dunia hukum korporasi sangat cepat berubah karena pengaruh perkembangan teknologi dan regulasi. Oleh sebab itu, mahasiswa perlu terus memperbarui wawasan tentang isu-isu kontemporer seperti fintech, cybersecurity, privacy law, dan penggunaan artificial intelligence. Selain itu, perlu pula membangun jaringan profesional melalui forum, seminar, maupun komunitas hukum tingkat nasional maupun internasional. Sebagai penutup, Reza memberikan pesan bagi mahasiswa HKI UMM untuk selalu membuka diri terhadap peluang belajar di luar kelas. Dunia korporasi membutuhkan pribadi yang mampu berpikir kritis, bekerja dengan cepat, namun tetap menjaga profesionalisme. Ia menegaskan bahwa tidak perlu menunggu kesempatan besar untuk memulai langkah; magang kecil, proyek sederhana, atau riset ringan pun dapat menjadi pintu awal menuju karierinternasional. Yang terpenting, menurutnya, adalah membangun karakter yang kuat, integritas,ketelitian, dan kemampuan beradaptasi. Semua itu adalah bekal utama untuk menembus dunia korporasi modern dan bahkan tampil di kancah global.(nm)