Malang – Bulan Ramadan seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian orang dalam menjaga kebugaran tubuh dan produktivitas sehari-hari. Perubahan pola makan, waktu tidur, serta aktivitas ibadah yang meningkat dapat memengaruhi kondisi fisik jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk mengetahui cara menjaga kesehatan agar tetap bugar selama menjalankan ibadah puasa.
Instruktur Laboratorium Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM), Imroatus Solihah, S.H., S.Sy., M.H., membagikan sejumlah tips agar tubuh tetap sehat dan aktivitas tetap produktif selama bulan Ramadan. Menurutnya, puasa tidak seharusnya menjadi alasan untuk menurunkan kualitas aktivitas sehari-hari, baik dalam bekerja, belajar, maupun beribadah. “Puasa justru bisa menjadi momentum untuk memperbaiki pola hidup. Dengan pengaturan pola makan, istirahat, dan aktivitas yang tepat, tubuh tetap dapat menjalankan fungsinya secara optimal sehingga seseorang tetap produktif,” ujarnya.
Salah satu hal yang paling penting menurut Imroatus adalah memperhatikan asupan makanan saat sahur. Ia menyarankan agar sahur tidak hanya sekadar mengenyangkan, tetapi juga memperhatikan nilai gizi dari makanan yang dikonsumsi. Makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, serta vitamin sangat dianjurkan agar energi dapat bertahan lebih lama selama berpuasa. “Karbohidrat kompleks seperti nasi, roti gandum, atau oatmeal dapat membantu tubuh melepaskan energi secara perlahan. Sementara protein dan serat membantu menjaga rasa kenyang lebih lama,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kecukupan cairan tubuh. Kekurangan cairan atau dehidrasi sering menjadi penyebab tubuh terasa lemas saat berpuasa. Untuk mengatasinya, ia menyarankan pola minum yang teratur antara waktu berbuka hingga sahur.“Cukupi kebutuhan air dengan pola bertahap, misalnya dua gelas saat berbuka, dua gelas setelah salat tarawih, dan dua gelas saat sahur. Hal ini penting agar tubuh tidak mengalami dehidrasi,” katanya.
Tips berikutnya adalah mengatur pola tidur dengan baik. Menurut Imroatus, perubahan jadwal makan dan ibadah selama Ramadan seringkali membuat waktu tidur menjadi berkurang. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan tubuh mudah lelah dan menurunkan konsentrasi. Ia menyarankan agar masyarakat tetap menjaga waktu istirahat yang cukup, misalnya dengan tidur lebih awal di malam hari atau memanfaatkan waktu istirahat siang sejenak untuk mengembalikan energi.
“Tidur yang cukup sangat berpengaruh terhadap konsentrasi dan stamina. Jika memungkinkan, luangkan waktu istirahat sekitar 15 hingga 30 menit di siang hari agar tubuh kembali segar,” ungkapnya. Selain memperhatikan pola makan dan istirahat, aktivitas fisik ringan juga tetap diperlukan selama bulan Ramadan. Imroatus menjelaskan bahwa olahraga ringan dapat membantu menjaga kebugaran tubuh serta memperlancar metabolisme.
Namun demikian, ia menyarankan agar olahraga dilakukan pada waktu yang tepat, seperti menjelang berbuka puasa atau setelah salat tarawih. Aktivitas fisik yang terlalu berat di siang hari justru dapat membuat tubuh cepat lelah. “Olahraga ringan seperti berjalan kaki, stretching, atau bersepeda santai bisa menjadi pilihan yang baik. Yang penting tidak memaksakan diri dan menyesuaikan dengan kondisi tubuh,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas duniawi dan ibadah selama Ramadan. Menurutnya, produktivitas tidak hanya diukur dari banyaknya pekerjaan yang diselesaikan, tetapi juga dari kualitas ibadah yang dijalankan. “Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Selain menjaga produktivitas dalam pekerjaan, kita juga perlu meningkatkan kualitas ibadah seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbanyak doa,” katanya.
Imroatus juga mengingatkan agar masyarakat tidak berlebihan saat berbuka puasa. Kebiasaan mengonsumsi makanan secara berlebihan justru dapat menyebabkan tubuh terasa berat dan mengganggu aktivitas setelah berbuka. Ia menyarankan agar berbuka dilakukan secara bertahap, dimulai dengan makanan ringan seperti kurma dan air putih, kemudian dilanjutkan dengan makanan utama setelah salat magrib.
Menurutnya, pola makan yang seimbang akan membantu tubuh beradaptasi dengan baik selama bulan Ramadan. Dengan demikian, seseorang dapat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal tanpa merasa kelelahan. Pada akhirnya, Imroatus menegaskan bahwa menjaga kesehatan selama Ramadan merupakan bagian dari ikhtiar agar ibadah puasa dapat dijalankan dengan baik. Dengan menerapkan pola hidup yang sehat, bulan suci ini dapat menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas hidup, baik secara fisik maupun spiritual.
“Jika tubuh sehat dan pikiran segar, maka ibadah dan aktivitas kita juga bisa dilakukan dengan lebih maksimal. Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk meningkatkan kualitas diri, bukan justru menurunkan produktivitas,” pungkasnya. (ik)