
Catatan Mahasiswa Berprestasi Prodi HKI FAI UMM: Keseimbangan antara Akademik dan Organisasi
Oleh Shofwatun Nida
(Wisudawan Terbaik Prodi Hukum Keluarga Islam, Periode I Tahun 2026)
Perjalanan menjadi mahasiswa berprestasi bukanlah proses yang instan, melainkan rangkaian panjang dari perjuangan, ketekunan, dan kesabaran dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan kampus. Prinsip “manisnya perjuangan akan terasa setelah berjuang” menjadi pegangan utama saya selama menjalani masa perkuliahan di Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prinsip tersebut bukan sekadar slogan, tetapi menjadi motivasi yang terus menguatkan langkah saya dalam menyelesaikan studi sekaligus aktif di berbagai kegiatan organisasi dan sosial.
Sebagai mahasiswa rantauan yang berasal dari Riau, keputusan untuk melanjutkan pendidikan di kota Malang merupakan tantangan besar. Berpindah dari pulau asal ke lingkungan yang benar-benar baru tentu bukan perkara mudah, baik dari segi adaptasi budaya, sosial, maupun kondisi ekonomi. Namun, pengalaman merantau justru membentuk mental kemandirian, ketahanan, dan semangat juang yang lebih kuat. Saya menyadari sejak awal bahwa perkuliahan tidak hanya berfokus pada aktivitas di dalam kelas, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter, empati, serta kepekaan sosial sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa depan.
Selama menjalani perkuliahan, saya berupaya menyeimbangkan antara akademik dan aktivitas organisasi. Saya aktif dalam berbagai organisasi, baik Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), organisasi intra kampus, maupun organisasi ekstra kampus. Salah satu organisasi yang memberikan pengalaman berharga adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Melalui organisasi ini, saya belajar tentang kepemimpinan, tanggung jawab, serta pentingnya kontribusi nyata kepada masyarakat.
Puncak pengalaman organisasi saya terjadi pada tahun 2025 ketika dipercaya menjadi Ketua Umum IMM Tamaddun periode 2025/2026. Amanah tersebut menjadi momentum penting dalam perjalanan perkuliahan saya. Berbagai dinamika organisasi yang saya hadapi, mulai dari perencanaan program kerja, koordinasi tim, hingga penyelesaian berbagai tantangan internal, mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang pengabdian dan kebermanfaatan. Dari pengalaman ini, saya memahami bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang seberapa luas manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Di samping aktif berorganisasi, saya juga memiliki pengalaman sebagai pengasuh di Panti Asuhan Putri Aisyiyah Riverside sejak semester awal perkuliahan. Peran ini menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam hidup saya, karena saya tidak hanya belajar merawat dan membimbing santri, tetapi juga mengasah kesabaran, empati, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Interaksi sehari-hari dengan anak-anak panti mengajarkan saya bahwa pendidikan karakter dan kasih sayang memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang kuat dan berakhlak.
Selain itu, untuk mendukung kebutuhan hidup selama merantau, saya juga bekerja paruh waktu sebagai pengajar les privat. Aktivitas ini bukan hanya sekadar pekerjaan, tetapi juga menjadi bentuk aktualisasi diri dalam menyalurkan ilmu yang saya miliki kepada generasi selanjutnya. Mengajar memberikan kepuasan tersendiri karena saya dapat berbagi pengetahuan sekaligus terus belajar meningkatkan kemampuan komunikasi dan pedagogik.
Perjalanan akademik saya juga tidak selalu berjalan mulus. Pada semester awal, saya sempat mengalami hambatan dalam melanjutkan perkuliahan akibat keterlambatan pembayaran biaya pendidikan. Situasi tersebut menjadi ujian mental yang cukup berat, namun saya meyakini bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan bagi mereka yang terus berusaha. Keyakinan tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika pada semester empat saya mulai mendapatkan berbagai beasiswa yang menjadi jalan keberlanjutan studi saya di FAI UMM.
Beasiswa yang saya peroleh antara lain Beasiswa Pemerintah Daerah, Beasiswa Kader Muhammadiyah dari Lazismu, Beasiswa dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), serta Beasiswa Kader dari MPKSDI PP Muhammadiyah. Berbagai beasiswa tersebut tidak hanya membantu secara finansial, tetapi juga menjadi motivasi moral untuk terus menjaga prestasi akademik dan memberikan kontribusi terbaik sebagai mahasiswa. Saya memaknai beasiswa sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan dengan kesungguhan belajar dan pengabdian.
Padatnya aktivitas selama perkuliahan, mulai dari akademik, organisasi, pengasuhan panti, hingga pekerjaan paruh waktu, justru melatih saya untuk lebih disiplin dalam mengatur waktu. Saya belajar menyusun skala prioritas, memanfaatkan waktu secara efektif, serta menjaga konsistensi dalam setiap tanggung jawab yang diemban. Hal ini menjadi bukti bahwa kesibukan di luar perkuliahan tidak selalu menjadi penghambat prestasi, justru dapat menjadi sarana pengembangan diri jika dikelola dengan baik.
Pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa akademik dan organisasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang tangguh, berintegritas, serta memiliki daya juang tinggi. Prestasi akademik memberikan fondasi keilmuan yang kuat, sementara organisasi membentuk keterampilan kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama tim.
Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan pesan kepada seluruh mahasiswa, khususnya generasi muda, bahwa proses adalah bagian terpenting dalam perjalanan kehidupan. Prinsip “terbentur, terbentur, dan terbentuk” adalah gambaran nyata dari perjalanan seorang pejuang. Di era yang serba instan, sering kali kita ingin memperoleh hasil cepat tanpa melalui proses yang panjang. Padahal, proses yang penuh perjuangan justru akan membentuk kualitas diri yang sesungguhnya.
Masa muda adalah waktu terbaik untuk membangun nilai diri melalui berbagai pengalaman positif, seperti kuliah dengan sungguh-sungguh, aktif berorganisasi, bekerja, serta terlibat dalam kegiatan sosial. Semua pengalaman tersebut adalah investasi berharga yang tidak dapat dibeli di masa depan. Oleh karena itu, manfaatkan masa perkuliahan sebaik mungkin untuk mengembangkan potensi, memperluas relasi, dan meningkatkan kapasitas diri. Dengan semangat, ketekunan, dan keikhlasan dalam berproses, setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk meraih prestasi dan memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. (editor:ik)