Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM) kembali mengukir langkah prestisius di ranah internasional. Kali ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) diberangkatkan untuk mengikuti Program Magang Internasional Batch 3 di Institut Tahfiz Bintulu (ITB), Sarawak, Malaysia. Program yang berlangsung mulai 18 Juli hingga 8 September 2025 ini menjadi bagian penting dari agenda internasionalisasi kampus sekaligus sarana untuk memperkuat kapasitas bahasa Arab mahasiswa di level global.

Acara pembukaan magang dilaksanakan di Aula ITB dengan suasana penuh kehangatan. Rombongan mahasiswa diterima langsung oleh Mudir (Direktur) ITB, Ustadz Husin Zaenal Arifin, beserta jajaran guru dan civitas akademika ITB. Hadir pula Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Muhammad Fadli Ramadhan, S.Pd.I., M.Pd., yang turut menyampaikan sambutan sekaligus memberi motivasi kepada mahasiswa agar memanfaatkan kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya.

Dalam sambutannya, Ustadz Husin Zaenal Arifin menyampaikan apresiasi atas kerja sama antara UMM dan ITB. Beliau juga menaruh kepercayaan penuh kepada mahasiswa untuk melaksanakan program kebahasaan, sembari memberikan pesan agar tetap fokus pada penguatan bahasa dan tidak menyentuh ranah akidah yang sudah memiliki kurikulum tetap di ITB. “Bahasa adalah kunci untuk memahami Islam secara mendalam. Menguasai bahasa Arab berarti membuka jalan untuk menyelami khazanah keilmuan Islam yang sangat luas,” ungkapnya.

Selama magang, mahasiswa PBA FAI UMM memiliki tanggung jawab utama dalam menjalankan dauroh lughoh atau program kebahasaan. Kegiatan ini dirancang untuk menciptakan bi’ah lughawiyyah (lingkungan berbahasa) yang kondusif di ITB. Program kebahasaan yang dijalankan mencakup berbagai aktivitas, antara lain:

Menurut Muhammad Alfaridzi, selaku koordinator magang, program ini bukan hanya sekadar praktik mengajar, melainkan juga ruang belajar bersama. “Kami berusaha menghadirkan pembelajaran yang menarik, interaktif, dan menyenangkan, agar santri ITB semakin termotivasi untuk menggunakan bahasa Arab dalam keseharian,” jelasnya.

Pengalaman Belajar Lintas Negara

Program Magang Internasional ini memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan sistem pendidikan di Malaysia yang memiliki kultur berbeda dengan Indonesia. Melalui interaksi ini, mahasiswa belajar beradaptasi dengan metode pembelajaran baru, pola kedisiplinan, serta manajemen pendidikan yang diterapkan di ITB. Alfaridzi menambahkan, pengalaman lintas negara ini akan sangat bermanfaat ketika mereka kembali ke tanah air. “Magang ini menjadi jembatan untuk melihat bagaimana kultur pendidikan di luar negeri berjalan. Dari situ, kami bisa membawa pulang praktik baik yang dapat diadaptasi dan diterapkan dalam konteks pendidikan di Indonesia, khususnya di pesantren maupun lembaga pendidikan berbasis Islam,” ungkapnya.

Agar program berjalan sesuai target, evaluasi mingguan dilakukan secara daring bersama DPL. Melalui forum evaluasi ini, mahasiswa bisa menyampaikan perkembangan, tantangan, sekaligus solusi dari setiap kegiatan yang mereka jalankan di ITB. Dr. Fadli menegaskan bahwa pendampingan akademik tetap berjalan meskipun mahasiswa berada di luar negeri. “Kami ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa mendapatkan bimbingan yang cukup, sehingga kualitas program tetap terjaga,” ujarnya.

Magang internasional ini bukanlah program yang bersifat sesaat, melainkan diharapkan menjadi tradisi akademik yang terus dilanjutkan di tahun-tahun mendatang. “Harapan terbesar saya adalah program kebahasaan ini bisa terus diestafetkan dari masa ke masa. Bahasa adalah salah satu unsur terpenting dalam lembaga pendidikan pesantren. Tanpa penguasaan bahasa, sulit bagi kita untuk mengakses literatur keilmuan Islam dengan baik,” pungkas Alfaridzi.

Internasionalisasi FAI UMM

Program Magang Internasional Batch 3 ini merupakan bagian dari komitmen FAI UMM untuk mendorong internasionalisasi kampus. Sebelumnya, beberapa batch magang juga telah dilaksanakan di negara lain dan mendapat respons positif. Dekan FAI UMM menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan visi UMM sebagai kampus berkemajuan yang menyiapkan generasi Islam berdaya saing global.

Melalui program ini, FAI UMM tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten di bidang akademik, tetapi juga memiliki pengalaman lintas budaya dan wawasan internasional. Ke depan, diharapkan semakin banyak mahasiswa FAI UMM yang terlibat dalam program serupa sehingga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan Islam, baik di dalam negeri maupun di kancah global. Dengan berakhirnya program pada awal September nanti, mahasiswa PBA FAI UMM akan kembali ke Malang membawa segudang pengalaman dan cerita inspiratif. Bukan hanya sekadar magang, tetapi juga sebuah perjalanan pembelajaran hidup yang memperkuat jati diri mereka sebagai calon pendidik profesional di bidang bahasa Arab. (frhn/ik)