Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan pada Yudisium Periode I Tahun 2026. Salah satu momen yang paling menyita perhatian adalah terpilihnya Athar Didan, S.E., sebagai wisudawan terbaik Program Studi Ekonomi Syariah dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99.

Prestasi tersebut bukan hanya menjadi angka yang mengesankan di atas kertas, tetapi juga representasi dari proses panjang, konsistensi, dan kesungguhan dalam menempuh pendidikan di bangku kuliah. Dalam pidato perwakilannya di hadapan para dosen dan wisudawan, Athar menyampaikan refleksi mendalam tentang makna kuliah, capaian akademik, serta pentingnya pengembangan diri secara holistik.

Athar menegaskan bahwa Program Studi Ekonomi Syariah memiliki sistem penjurusan yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk memperdalam minat dan kompetensi secara lebih fokus. “Adanya penjurusan dalam prodi membuat kita tidak hanya belajar teori, tetapi juga diarahkan untuk berkembang secara spesifik sesuai passion dan kebutuhan zaman,” ujarnya. Menurutnya, proses belajar di kampus harus menjadi ruang yang riil, autentik, dan berdampak—“no fake-fake,” tegasnya disambut senyum para hadirin.

Bagi Athar, dunia ekonomi tidak bisa dilepaskan dari teori dan hukum-hukum yang membentuk cara berpikir. Ia sempat menyinggung salah satu prinsip yang ia refleksikan selama belajar, yaitu Goodhart’s Law: “When a measure becomes a target, it ceases to be a good measure.” Dalam penjelasannya, ia menyampaikan bahwa ketika suatu ukuran dijadikan target utama, maka ukuran itu sering kali kehilangan makna esensialnya.

“IPK memang penting. Saya sangat bersyukur bisa mencapai 3,99. Tapi apakah IPK satu-satunya hal paling penting? Jelas tidak,” ungkap Athar. Menurutnya, jika mahasiswa hanya berorientasi pada angka, maka proses belajar bisa kehilangan ruhnya. IPK adalah indikator, tetapi bukan tujuan akhir dari pendidikan.

Ia bahkan melontarkan pernyataan yang cukup provokatif namun reflektif, “Kuliah bisa menjadi scam, ketika kita gagal menghayati hakikat dari kuliah itu sendiri.” Maksud dari pernyataan tersebut, lanjutnya, adalah ketika mahasiswa menjalani perkuliahan hanya sebatas menggugurkan kewajiban, mengejar nilai, atau sekadar mendapatkan gelar tanpa benar-benar memahami esensi pembelajaran, maka mereka telah melewatkan kesempatan emas untuk bertumbuh.

Menurut Athar, hakikat kuliah adalah proses pembentukan cara berpikir, karakter, integritas, dan kepekaan sosial. Terlebih dalam bidang Ekonomi Syariah, mahasiswa tidak hanya belajar tentang angka dan transaksi, tetapi juga nilai-nilai keadilan, keberkahan, dan tanggung jawab moral dalam aktivitas ekonomi.

Ia mengajak rekan-rekannya untuk tidak berhenti belajar meskipun telah resmi menyandang gelar sarjana. “Belajar tidak selesai di ruang kelas. Dunia nyata adalah laboratorium terbesar kita. Di sanalah teori diuji, karakter dibuktikan, dan integritas dipertaruhkan,” pesannya.

Keberhasilan Athar juga tidak lepas dari dukungan dosen dan lingkungan akademik FAI UMM yang mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi, melakukan riset, serta terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan diri. Ia mengakui bahwa suasana akademik yang terbuka membuat mahasiswa memiliki ruang untuk belajar secara kritis dan berkembang secara optimal.

Di akhir pidatonya, Athar menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tua, dosen, serta seluruh pihak yang telah membersamainya dalam proses pendidikan. Ia berharap capaian yang diraihnya dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk tidak sekadar mengejar prestasi, tetapi juga mengejar makna.

Yudisium Periode I Tahun 2026 FAI UMM pun menjadi momentum refleksi bahwa keberhasilan akademik sejatinya adalah perpaduan antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional, dan integritas spiritual. Prestasi Athar Didan, S.E., dengan IPK 3,99 bukan hanya simbol keunggulan akademik, tetapi juga pengingat bahwa pendidikan tinggi adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang utuh. Dengan semangat tersebut, FAI UMM terus berkomitmen melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam angka, tetapi juga kuat dalam nilai, siap berkontribusi secara nyata bagi masyarakat, dan mampu membawa spirit ekonomi syariah sebagai solusi di tengah dinamika zaman. (ika)