
Opini Oleh Deta Laili Insyira, mahasiswa prodi Ekonomi Syariah Angkatan 2025.
Ukuran sepatu merupakan salah satu indikator yang secara tidak langsung mencerminkan pertumbuhan fisik seseorang, khususnya pada bagian kaki. Pertumbuhan ukuran kaki umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, jenis kelamin, usia, serta kondisi lingkungan. Pada rentang usia 17 hingga 20 tahun, sebagian besar individu berada pada fase akhir pertumbuhan fisik, sehingga perubahan ukuran tubuh, termasuk ukuran kaki, cenderung melambat atau bahkan berhenti. Secara biologis, terdapat perbedaan pertumbuhan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki umumnya memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan perempuan karena periode pertumbuhan yang lebih panjang (Malina, Bouchard, & Bar-Or, 2004). Sementara itu, perempuan mengalami percepatan pertumbuhan lebih awal, namun berhenti lebih cepat (Tanner, 1978).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode statistik deskriptif. Data yang digunakan merupakan data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada responden berusia 17–20 tahun. Analisis data dilakukan dengan menggunakan distribusi frekuensi, diagram lingkaran, serta ukuran pemusatan data seperti mean, median, dan modus (Walpole, 2012). Berdasarkan hasil pengolahan data yang diperoleh dari 166 responden, distribusi ukuran sepatu dapat diamati secara lebih jelas melalui penyajian diagram lingkaran.

Gambar 1. Diagram tersebut menunjukkan bahwa ukuran sepatu responden tidak terdistribusi secara merata, melainkan cenderung terkonsentrasi pada ukuran tertentu.
Ukuran sepatu yang paling dominan adalah ukuran 40 dengan persentase sebesar 25,3%. Selanjutnya, ukuran 38 dan 39 masing-masing memiliki persentase sebesar 19,3% dan 18,1%. Adapun ukuran 42 dan 37 memiliki proporsi sebesar 15,7% dan 12%. Sementara itu, ukuran sepatu dengan frekuensi paling rendah adalah ukuran 41 dengan persentase sebesar 9,6%.

Gambar 2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Gambar 3. Distribusi Responden Berdasarkan Usia
Gambar 2, diketahui bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan dengan persentase sebesar 66,9%, sedangkan responden laki -laki sebesar 33,1%. Distribusi ini menunjukkan bahwa partisipasi responden dalam penelitian ini didominasi oleh perempuan, sehingga berpotensi memengaruhi kecenderungan distribusi ukuran sepatu yang diperoleh. Gambar 3, distribusi responden menurut usia menunjukkan bahwa kelompok usia 19 tahun memiliki persentase tertinggi, yaitu sebesar 34,3%. Diikuti oleh usia 20 tahun sebesar 30,1%, usia 17 tahun sebesar 22,9%, dan usia 18 tahun sebesar 12,7%. Data ini mengindikasikan bahwa sebagian besar responden berada pada rentang usia akhir remaja, khususnya usia 19 dan 20 tahun.
Komposisi usia yang didominasi oleh kelompok usia 19 dan 20 tahun menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini sebagian besar telah berada pada fase akhir pertumbuhan fisik. Hal ini relevan dengan analisis ukuran sepatu, di mana pada fase tersebut pertumbuhan ukuran kaki cenderung telah stabil dan tidak mengalami perubahan signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang lebih dominan dalam memengaruhi ukuran sepatu dibandingkan usia pada kelompok usia 17–20 tahun. Laki-laki cenderung memiliki ukuran sepatu yang lebih besar dibandingkan perempuan, sedangkan usia tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan karena berada pada fase pertumbuhan yang relatif stabil.
Daftar Pustaka
Robert M. Malina, Bouchard, C., & Bar-Or, O. (2004). Growth, Maturation, and Physical Activity. Human Kinetics.
James Mourilyan Tanner (1978). Fetus into Man: Physical Growth from Conception to Maturity. Harvard University Press. Ronald E. Walpole (2012). Probability and Statistics for Engineers and
Scientists. Pearson.