Malang – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kontribusi akademiknya melalui pemikiran dosen yang dimuat di media nasional Muhammadiyah, Klikmu.co.

Dalam opini yang terbit pada 18 Januari 2026, I’anatut Thoifah, M.Pd.I, dosen Fakultas Agama Islam UMM, mengajak mahasiswa memaknai Isra’ Mi’raj sebagai momentum refleksi kesadaran hidup, bukan sekadar peringatan tahunan.

Menurutnya, peristiwa Isra’ Mi’raj memiliki dimensi psikologis dan spiritual yang sangat relevan dengan kondisi mahasiswa hari ini.

“Isra’ Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual.”


Shalat sebagai Sistem Pengelolaan Hidup

Dalam opini tersebut, dosen Prodi PAI UMM ini menegaskan bahwa inti Isra’ Mi’raj terletak pada penetapan ibadah shalat. Ia menilai shalat bukan sekadar ritual, melainkan sistem pengelolaan waktu dan kesadaran diri.

“Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Itu menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim.”

Ia bahkan mengilustrasikan shalat sebagai siklus manajemen hidup yang sistematis.

“Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset.”

Pendekatan ini menjadi perspektif reflektif yang sejalan dengan visi Pendidikan Agama Islam UMM dalam membentuk mahasiswa berkarakter, berintegritas, dan memiliki keseimbangan spiritual-rasional.


Spiritualitas di Tengah Tekanan Akademik

Dalam tulisannya, I’ana menyoroti realitas mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik, kecemasan masa depan, hingga kelelahan mental. Ia menilai solusi tidak cukup hanya pada strategi akademik.

“Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab.”

Melalui gagasan tersebut, dosen PAI UMM ini menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj memberikan orientasi hidup yang lebih dalam—bahwa kuliah bukan sekadar mengejar IPK, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna.


Shalat sebagai Kompas Kesadaran

Di akhir opininya yang dimuat di Klikmu.co, ia menekankan pentingnya menjadikan shalat sebagai kompas kesadaran dalam kehidupan mahasiswa.

“Shalat bukan sekadar kewajiban ritual dan berhenti di atas sajadah, tetapi menjadi kompas kesadaran yang menuntun sikap dalam nilai yang penuh berkah.”

Publikasi opini ini menunjukkan peran aktif dosen Program Studi PAI UMM dalam menyumbangkan pemikiran keislaman yang kontekstual dan relevan dengan dinamika generasi muda saat ini.