
Kuliah perdana Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM 2025 terasa istimewa karena menghadirkan Abdul Musawwir Yahyah, S.Sy., M.H., salah satu alumnus terbaik HKI yang kini dipercaya sebagai Komisaris Independen Pertamina Geothermal Energy. Bagi Musawwir, berdiri kembali di hadapan mahasiswa HKI UMM bukan sekadar momen akademik, tetapi juga perjalanan batin yang membangkitkan nostalgia.
Ia mengenang masa-masa kuliahnya di HKI UMM dua dekade silam. “Dulu saya duduk di bangku seperti kalian, penuh mimpi dan semangat, meski belum tahu arah hidup akan membawa ke mana. Tapi satu hal yang saya dapat dari HKI UMM adalah bekal berpikir kritis, berlandaskan nilai Islam, dan selalu siap beradaptasi dengan tantangan zaman,” kenangnya sambil tersenyum, yang disambut tepuk tangan hangat mahasiswa.
Musawwir menuturkan bahwa atmosfer intelektual di HKI UMM telah membentuknya menjadi pribadi yang tidak hanya memahami hukum Islam, tetapi juga terbuka terhadap isu-isu global. Diskusi di kelas, bimbingan dosen, hingga organisasi kemahasiswaan, menurutnya, menjadi bekal berharga yang kelak ia terapkan dalam dunia profesional. “Saya belajar bahwa Islam itu bukan hanya soal ibadah, tapi juga soal bagaimana kita berkontribusi untuk masyarakat, bangsa, dan bahkan dunia,” ujarnya penuh semangat.
Materi: Keadilan Antar Generasi dan Energi Berkelanjutan
Setelah berbagi kisah inspiratifnya, Musawwir memaparkan materi bertajuk “Keadilan Antar Generasi: Refleksi Hukum Keluarga Islam dalam Isu Energi Berkelanjutan.” Ia membuka dengan pernyataan yang menggugah: “Hari ini kita bicara bukan hanya tentang hak kita, tetapi juga hak anak cucu kita.”
Menurutnya, hukum Islam sangat kaya akan prinsip yang dapat diaplikasikan dalam pengelolaan energi dan sumber daya alam. Salah satunya adalah konsep keadilan antar generasi, yakni memastikan bahwa sumber daya yang dimanfaatkan generasi saat ini tidak merugikan generasi berikutnya. “Energi yang kita gunakan, khususnya energi fosil, memiliki keterbatasan. Jika kita boros dan tidak mengelolanya dengan bijak, maka generasi setelah kita akan menanggung dampaknya,” jelasnya.
Ia mengaitkan prinsip ini dengan nilai amanah dalam Islam. Bumi dan segala isinya, kata Musawwir, adalah titipan Allah yang harus dijaga. Karenanya, umat Islam memiliki kewajiban moral dan hukum untuk mengelola energi secara bertanggung jawab. “Keluarga muslim dapat menjadi basis kesadaran ekologi. Dari rumah tangga, kita bisa membangun budaya hemat energi, bijak menggunakan sumber daya, hingga mendukung energi terbarukan,” tambahnya.
Energi, Islam, dan Tantangan Modern
Sebagai praktisi di sektor energi, Musawwir menyampaikan fakta penting bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam energi terbarukan, terutama geothermal. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengoptimalkan potensi tersebut tanpa merusak alam dan tetap berpihak pada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa hukum keluarga Islam dapat berperan sebagai landasan etis dalam pengelolaan energi. Misalnya, konsep maslahah mursalah (kemaslahatan umum) bisa menjadi dasar dalam mengambil kebijakan energi yang pro-lingkungan dan berpihak pada generasi mendatang. “Dalam perspektif Islam, setiap kebijakan energi harus mempertimbangkan aspek kemaslahatan, keadilan, dan keberlanjutan,” katanya.
Musawwir juga mendorong mahasiswa untuk tidak hanya membatasi diri pada dunia akademik, tetapi juga aktif berkontribusi pada isu-isu kontemporer. Ia mencontohkan, penelitian mahasiswa HKI dapat diarahkan pada kajian hukum Islam tentang energi, lingkungan, dan keadilan sosial. “Inilah tantangan sekaligus peluang. Kalian bisa menjadi generasi sarjana hukum Islam yang membawa solusi nyata bagi bangsa,” serunya.
Inspirasi untuk Mahasiswa Baru
Pemaparan Musawwir tidak hanya bernuansa akademik, tetapi juga sarat motivasi. Ia berulang kali menekankan bahwa mahasiswa HKI UMM harus bangga dengan pilihan studinya, sebab hukum Islam selalu relevan sepanjang zaman.
“Dulu saya pun sempat ragu, apakah belajar hukum keluarga Islam bisa memberi jalan masa depan? Nyatanya, dengan kesungguhan, doa, dan niat untuk bermanfaat, jalan itu terbuka lebar. Saya bisa berkiprah di dunia energi karena nilai-nilai yang saya dapat dari HKI UMM. Jadi jangan pernah merasa minder, karena ilmu yang kalian pelajari ini sangat bernilai,” tuturnya. Suasana aula semakin hangat ketika ia menutup paparannya dengan ajakan kolektif: “Mari kita jadikan hukum Islam sebagai inspirasi untuk menjaga bumi. Energi bukan hanya soal listrik dan bahan bakar, tapi tentang keadilan, keberlanjutan, dan warisan untuk anak cucu kita. Dari HKI UMM, kita bisa memulai gerakan itu.”
Kehadiran Musawwir Yahyah dalam kuliah perdana HKI UMM 2025 bukan hanya memberi wawasan baru mengenai hubungan hukum Islam dengan isu energi berkelanjutan, tetapi juga memberikan teladan nyata tentang bagaimana alumni dapat berkontribusi di ranah strategis nasional. Bagi mahasiswa baru, pengalaman dan pesan dari seorang senior yang kini sukses tentu menjadi energi moral untuk menapaki perjalanan akademik mereka.