Kompetisi Debat tingkat Nasional FAMILY LAW COMPETITION UMM 2026

PROUDLY PRESENT🌟 Kompetisi Debat tingkat Nasional FAMILY LAW COMPETITION UMM 2026📣📣📣 Tema : “Dinamika dan Transformasi Hukum Keluarga Dalam Lanskap Sosial Kontemporer” Link pendaftaran lomba https://forms.gle/YRjgnKT55qzY6Pfa6 Link guidebook https://drive.google.com/file/d/1aNTc9ajMIpn2XUlpmVVqVujr0uP7N4ku/view?usp=sharing #FLCUMM2026 #HKIUMM #HMPSHKIUMM #KABINETSAMUDAYABASWARA _____ IG : flc.umm Tiktok : familylawcompetition Youtube : HMPS HKI UMM
Family Law Essay Competition UMM 2026

PROUDLY PRESENT Kompetisi Karya Tulis Esai tingkat Jawa Timur FAMILY LAW COMPETITION UMM 2026📣📣📣 Tema : “Peran Generasi Muda Dalam Menjaga Nilai Moral dan Keharmonisan Keluarga di Era Modern” Link pendaftaran lomba https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSc0EZcv2LFF_rnOn95wFSt9l8cBtlG7x2I0NPQvCuwIcTgxew/viewform?usp=header Link guidebook https://drive.google.com/file/d/1NMaiy2lx-8E-bejD5Hi_c_svP8rMUsQC/view?usp=sharing #FLCUMM2026 #HKIUMM #HMPSHKIUMM #KABINETSAMUDAYABASWARA _____ IG : flc.umm Tiktok : familylawcompetition Youtube : HMPS HKI UMM
Nuzulul Qur’an Bukan Sekadar Seremonial, Dosen UMM Ajak Umat Hidupkan Nilai Al-Qur’an di Tengah Krisis Moral

Peringatan Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Momentum ini dinilai penting untuk meneguhkan kembali peran Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan spiritual sekaligus sosial umat. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (PBA UMM), Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag., menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada aspek seremonial semata. Menurutnya, peristiwa turunnya wahyu pertama justru menjadi pengingat agar umat Islam terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. “Nilai-nilai Qur’ani memiliki potensi transformatif dalam membangun kehidupan yang lebih adil, beretika, dan berkeadaban,” ujarnya. Secara etimologis, Fatoni menjelaskan bahwa istilah Nuzulul Qur’an berasal dari kata Arab nazala yang berarti “turun”, sedangkan Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang bermakna “bacaan”. Istilah tersebut merujuk pada peristiwa turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia. Peristiwa itu dimulai dengan turunnya wahyu pertama berupa Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Dalam kajian Ulumul Qur’an, turunnya wahyu dipahami sebagai proses penyampaian firman Allah kepada Nabi Muhammad, baik secara sekaligus maupun bertahap sesuai dengan kebutuhan dakwah pada masa itu. “Peristiwa ini menandai dimulainya risalah kenabian Nabi Muhammad SAW,” jelasnya. Mayoritas ulama tafsir juga berpendapat bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada malam 17 Ramadhan, sekitar tahun ke-13 sebelum Hijrah, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun. Peristiwa tersebut berlangsung di Gua Hira, Makkah, tempat Nabi melakukan perenungan spiritual sebelum menerima wahyu pertama. Ia menambahkan bahwa turunnya Al-Qur’an secara bertahap memiliki hikmah besar, salah satunya untuk memperkuat spiritualitas Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan misi kenabian serta memudahkan umat memahami ajaran Al-Qur’an secara kontekstual sesuai kondisi sosial masyarakat saat itu. “Proses turunnya wahyu yang bertahap memudahkan umat Islam memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an,” katanya. Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai sarana memperkuat hubungan spiritual dengan Allah melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbanyak tilawah, memahami tafsir Al-Qur’an, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Nuzulul Qur’an tidak hanya dipahami sebagai peristiwa historis dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai pengingat bagi umat Islam untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.(*/ARM)
FAI UMM Terima Kunjungan Pondok Pesantren Walisongo Ngabar Ponorogo, Perkuat Silaturahmi dan Rencana Edukasi Santri

Malang – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan silaturahmi dari jajaran pengurus Pondok Pesantren Walisongo Ngabar Ponorogo pada Jumat, 10 April 2026. Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan kelembagaan sekaligus membahas rencana kegiatan edukatif bagi para santri. Rombongan pengurus Pondok Pesantren Walisongo Ngabar disambut langsung oleh pimpinan FAI UMM bersama jajaran dosen. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak awal pertemuan, mencerminkan hubungan historis dan emosional yang telah terjalin antara kedua institusi pendidikan Islam tersebut. Menariknya, dalam penyambutan tersebut turut hadir salah satu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) FAI UMM yang merupakan alumni dari Pondok Pesantren Walisongo Ngabar. Kehadiran alumni ini menjadi jembatan emosional yang semakin mempererat komunikasi dan membangun kedekatan antara kedua pihak. Agenda utama dalam kunjungan ini adalah silaturahmi serta pembahasan rencana kunjungan santri Pondok Pesantren Walisongo Ngabar ke FAI UMM yang dijadwalkan berlangsung pada 29 April 2026. Rencana ini disambut dengan penuh antusias oleh kedua belah pihak sebagai bentuk kolaborasi dalam pengenalan dunia perguruan tinggi kepada para santri. Dalam pertemuan tersebut, pimpinan Pondok Pesantren Walisongo Ngabar menyampaikan harapan agar kunjungan santri nantinya dapat memberikan wawasan baru terkait pendidikan tinggi, khususnya di lingkungan Fakultas Agama Islam UMM. Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi para santri untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi serta mengenal lebih dekat suasana akademik di perguruan tinggi. Sementara itu, Dekan FAI UMM menyampaikan apresiasi dan sambutan hangat atas kunjungan silaturahmi tersebut. Ia menegaskan bahwa FAI UMM senantiasa terbuka bagi siapa saja, baik dari kalangan pesantren, sekolah, maupun masyarakat umum, yang ingin melakukan kunjungan edukatif maupun menjalin kerja sama. “FAI UMM dengan senang hati menerima kunjungan dari Pondok Pesantren Walisongo Ngabar. Kami terbuka untuk siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat dunia akademik di kampus kami, termasuk para santri yang memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya. Lebih lanjut, Dekan juga menambahkan bahwa kegiatan kunjungan santri nantinya akan dikemas secara edukatif dan inspiratif, dengan menghadirkan berbagai sesi pengenalan program studi, lingkungan kampus, serta peluang pengembangan diri yang dapat ditempuh oleh para mahasiswa. Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga membuka peluang sinergi yang lebih luas antara pesantren dan perguruan tinggi. Kolaborasi semacam ini dinilai penting dalam menciptakan kesinambungan pendidikan, khususnya dalam membangun generasi muslim yang unggul, berilmu, dan berakhlak. Dengan adanya rencana kunjungan santri pada akhir April mendatang, diharapkan hubungan antara Pondok Pesantren Walisongo Ngabar Ponorogo dan FAI UMM semakin erat. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi para santri untuk terus mengembangkan potensi diri dan berkontribusi di tengah masyarakat. FAI UMM terus berkomitmen untuk menjadi ruang terbuka bagi kolaborasi pendidikan dan pengembangan keilmuan Islam, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kunjungan ini menjadi salah satu bukti nyata dari upaya tersebut dalam memperluas jejaring dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia pendidikan Islam. (ik)
FAI UMM Jajaki Kerja Sama Strategis dengan PCIM Amerika Serikat

Malang – Pimpinan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar rapat koordinasi rintisan kerja sama internasional bersama Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Amerika Serikat pada Sabtu, 11 April 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini menjadi langkah awal dalam memperkuat jejaring global sekaligus memperluas kontribusi akademik FAI UMM di kancah internasional. Rapat koordinasi ini dihadiri oleh jajaran pimpinan FAI UMM, perwakilan PCIM Amerika Serikat, serta sejumlah akademisi yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kerja sama lintas negara. Hadir sebagai narasumber utama, Ketua PCIM Amerika Serikat periode 2025–2027, Dr. Rahmadian Wulandana, yang menyampaikan berbagai peluang strategis kolaborasi antara kedua institusi. Turut hadir pula Assoc. Prof. Dr. Halbana Tarmizi yang memberikan perspektif akademik dalam penguatan kerja sama berbasis tridarma perguruan tinggi. Kegiatan ini dipandu oleh Galit Galuh Prakosa sebagai moderator, yang memastikan jalannya diskusi berlangsung interaktif dan produktif. Dalam forum tersebut, dibahas sejumlah rencana kerja sama yang meliputi bidang pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat secara kolaboratif antara FAI UMM dan PCIM Amerika Serikat. Salah satu poin utama yang menjadi fokus pembahasan adalah pengembangan program pendidikan bersama, baik dalam bentuk kuliah tamu internasional, pertukaran narasumber, maupun penguatan kurikulum berbasis global. Dalam hal ini, PCIM Amerika Serikat diharapkan dapat berkontribusi sebagai pengisi kuliah praktisi di FAI UMM, sehingga mahasiswa memperoleh wawasan langsung mengenai dinamika kehidupan muslim di Amerika Serikat serta praktik keislaman dalam konteks global. Selain itu, FAI UMM juga merencanakan penyelenggaraan kajian keislaman rutin yang menghadirkan narasumber dari lingkungan fakultas untuk komunitas PCIM di Amerika Serikat. Program ini diharapkan mampu menjadi sarana penguatan literasi keislaman sekaligus mempererat hubungan antara akademisi di Indonesia dengan diaspora Muhammadiyah di luar negeri. Dalam bidang penelitian, kedua pihak sepakat untuk menjajaki peluang riset kolaboratif yang relevan dengan isu-isu kontemporer, seperti moderasi beragama, pendidikan Islam global, serta peran organisasi keagamaan dalam pembangunan masyarakat multikultural. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi internasional sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan keilmuan Islam. Dr. Rahmadian Wulandana dalam pemaparannya juga menegaskan posisi strategis PCIM Amerika Serikat sebagai organisasi resmi yang diakui oleh Pemerintah Amerika Serikat. Hal ini dibuktikan dengan terdaftarnya organisasi tersebut dengan nama Muhammadiyah USA Incorporated. Status ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki eksistensi yang kuat dan diakui secara legal dalam sistem hukum Amerika Serikat. Lebih lanjut, PCIM Amerika Serikat juga telah mendapatkan status sebagai organisasi yang dibebaskan dari kewajiban pajak tahunan oleh Pemerintah Federal Amerika Serikat, atau dikenal sebagai organization exempt under Internal Revenue Code (IRC). Dengan status ini, PCIM memiliki fleksibilitas dalam mengelola berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan pendidikan tanpa terbebani kewajiban pajak. Tidak hanya itu, PCIM Amerika juga berstatus sebagai public charity atau lembaga filantropi sesuai dengan hukum yang berlaku di Amerika Serikat. Status ini memungkinkan setiap kontribusi atau donasi yang disalurkan kepada Muhammadiyah USA dapat dikategorikan sebagai deductible, yaitu dapat mengurangi kewajiban pajak tahunan para donatur. Hal ini menjadi peluang besar dalam mengembangkan program-program filantropi yang berkelanjutan dan berdampak luas. Pimpinan FAI UMM menyambut baik peluang kerja sama ini sebagai bagian dari upaya internasionalisasi kampus dan penguatan peran Muhammadiyah di tingkat global. Dengan adanya sinergi antara FAI UMM dan PCIM Amerika Serikat, diharapkan tercipta ekosistem akademik yang tidak hanya unggul secara lokal, tetapi juga mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat internasional. Rapat koordinasi ini menjadi langkah awal yang strategis dalam membangun kemitraan jangka panjang antara kedua pihak. Ke depan, kerja sama ini akan diformalkan melalui nota kesepahaman (MoU) serta diikuti dengan implementasi program-program konkret yang telah dirancang bersama. Melalui kolaborasi ini, FAI UMM menegaskan komitmennya untuk terus memperluas jejaring global, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan masyarakat Islam yang berkemajuan di tingkat dunia. (ik)