Gerhana Bulan, Pengingat Kebesaran Allah Laboratorium Syariah HKI UMM Gelar Observasi sebagai Momentum Refleksi Iman

    Fenomena Gerhana Bulan Total akan terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026 dan dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia. Peristiwa astronomi ini menjadi momen istimewa karena seluruh permukaan Bulan akan memasuki bayangan inti (umbra) Bumi akibat konfigurasi Bulan, Bumi, dan Matahari yang membentuk satu garis lurus. Berdasarkan data Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, rangkaian gerhana dimulai pada 15.44.00 WIB (awal penumbra), dilanjutkan 16.49.39 WIB (awal sebagian), memasuki fase total pada 18.03.58 WIB, dengan puncak gerhana pukul 18.33.42 WIB, dan berakhir total pada 19.02.54 WIB. Seluruh rangkaian fenomena berakhir pada 21.23.21 WIB. Fase total berlangsung selama kurang lebih 58 menit 56 detik. Menyambut fenomena tersebut, Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM) menggelar kegiatan Observasi Gerhana Bulan di Rooftop GKB V UMM mulai pukul 16.00 hingga 21.00 WIB. Kegiatan ini menjadi bagian dari integrasi pembelajaran ilmu falak dengan penguatan spiritualitas mahasiswa. Kepala Laboratorium Syariah, Luciana Anggraeni, S.Sy., M.H., menegaskan bahwa fenomena gerhana bukan sekadar peristiwa astronomi, tetapi juga sarana refleksi iman. “Gerhana Bulan adalah tanda kebesaran Allah. Ia menjadi pengingat bahwa seluruh alam semesta bergerak dalam ketetapan dan hukum-Nya. Melalui observasi ini, kami ingin mengajak mahasiswa untuk tidak hanya melihat fenomenanya secara ilmiah, tetapi juga merenungkannya sebagai refleksi iman,” ungkap Luciana. Persiapan Teknis Observasi di Rooftop GKB V Untuk memastikan kegiatan berjalan optimal, tim Laboratorium Syariah bersama mahasiswa dari Club Astronomi Laboratorium Syariah telah melakukan berbagai persiapan teknis sejak beberapa hari sebelumnya. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain: Survey lokasi rooftop GKB V, memastikan sudut pandang langit bagian timur hingga tenggara tidak terhalang bangunan. Kalibrasi teleskop dan tripod, guna memastikan fokus dan stabilitas pengamatan selama fase total berlangsung. Pemasangan peta langit digital dan aplikasi astronomi, untuk membantu identifikasi posisi Bulan secara presisi. Simulasi waktu kontak gerhana, agar tim dapat mengarahkan peserta pada setiap fase penting (awal umbra, puncak, hingga akhir total). Pengaturan pencahayaan area rooftop, supaya tidak mengganggu visibilitas langit malam. Briefing keamanan dan teknis, termasuk alur observasi, antrian teleskop, serta dokumentasi kegiatan. Mahasiswa Club Astronomi juga bertugas memberikan penjelasan langsung kepada peserta mengenai proses terjadinya gerhana dan perubahan warna Bulan selama fase total. Keterlibatan mahasiswa ini menjadi sarana praktik nyata dalam mengkomunikasikan ilmu falak kepada publik. Luciana menyampaikan apresiasinya atas antusiasme mahasiswa. “Ini bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi praktik akademik yang melatih ketelitian, kerja tim, dan kemampuan edukasi publik,” ujarnya. Antusiasme Mahasiswa Salah satu mahasiswa yang turut serta dalam pengamatan adalah Izza Eldin. Ia mengaku sangat senang dapat berpartisipasi dalam observasi gerhana bulan kali ini. “Saya merasa beruntung bisa menyaksikan langsung fenomena yang tidak terjadi setiap saat. Mengamati perubahan warna Bulan hingga menjadi merah tembaga itu pengalaman luar biasa. Rasanya benar-benar mengingatkan saya pada kebesaran Allah,” ungkap Izza dengan penuh antusias. Menurutnya, kegiatan ini memberikan pengalaman berbeda dibandingkan hanya mempelajari teori di kelas. Melihat langsung fase demi fase gerhana membuat pemahaman astronomi menjadi lebih nyata dan bermakna. Integrasi Ilmu dan Spiritualitas Dalam ajaran Islam, ketika terjadi gerhana bulan (khusuf), umat Muslim dianjurkan melaksanakan salat gerhana, memperbanyak doa, zikir, dan sedekah. Momentum ini menjadi pengingat bahwa fenomena alam adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Luciana menekankan bahwa Islam telah meluruskan pemahaman tentang gerhana sejak masa Nabi Muhammad SAW, bahwa gerhana bukanlah pertanda mistis, melainkan fenomena alam yang memiliki hikmah spiritual. “Mahasiswa harus mampu menjelaskan fenomena ini secara ilmiah sekaligus memiliki kedalaman iman dalam memaknainya. Inilah integrasi ilmu dan nilai yang ingin kami bangun di Laboratorium Syariah,” jelasnya. Melalui observasi ini, Laboratorium Syariah HKI FAI UMM berharap tumbuh kesadaran bahwa mempelajari langit bukan hanya soal data dan angka, tetapi juga tentang menyadari keteraturan ciptaan Allah. Di bawah cahaya kemerahan Bulan pada malam gerhana, peserta diajak untuk menundukkan hati, memperkuat doa, dan merefleksikan diri. Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 pun menjadi lebih dari sekadar peristiwa astronomi. Ia hadir sebagai pengingat sunyi tentang kebesaran Sang Pencipta—dan tentang betapa kecilnya manusia di tengah luasnya semesta, namun tetap diberi akal dan iman untuk memahami tanda-tanda-Nya. (ik)