KULIAH PRAKTISI 2025: PBA UMM DATANGKAN MANAGING DIRECTOR PERUSAHAAN PENERJEMAH TERNAMA DI JAKARTA

PBA UMM News – Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan kuliah praktisi di Aula GKB IV Lantai 4 pada Selasa, 15 Juli 2025, pukul 08.00-16.00 WIB. Kegiatan ini bertemakan “Menyiapkan Mental Ke Dunia Industri dan Latihan Pitching Pengembangan Agensi Bahasa”. Kegiatan dibagi dalam 4 termin. Pertama, pembukaan oleh kaprodi PBA UMM (Mochammad Firdaus, M.Ed). Kedua, sesi pemberian materi oleh pemateri pertama Rika Agusmelda (Interpreter dan Managing Director CMM Translation Jakarta) yang dimoderatori oleh Anisatu Thoyyibah, S.Hum., M.Hum. Ketiga, saring pengalaman dan materi tentang keteknisian oleh Ramadhan Baharrizqi dan Nur Eka Asti Pratiwi (alumnus PBA UMM dan mahasiswa CoE batch 1 yang diterima kerja di CMM Translation). Keempat, pitching agensi bahasa oleh Rika Agusmelda yang dimoderatori oleh Dr. Muhammad Fadli Ramadhan, M.Pd. Materi yang diberikan ialah pemateri ialah “Mentalitas Memasuki Dunia Industri”. “Persaingan dunia kerja itu keras. Oleh karenanya harus mengupgrade skill diri, seperti Ms. Office, kemampuan berbahasa, dan sebagainya”, ujar Rika. Selain itu ia juga menambahkan bahwa jangan menghiasi diri kalian dengan hal-hal yang mendistrack diri. Adapun mentalitas yang dibutuhkan seperti kemauan, personal branding, public speaking/komunikasi terbuka, pandai bersilat lidah (memikat hati), jangan baper (ketangguhan mental), mau terus belajar, upgrade skill, Growth mindset (mau belajar), managerial waktu, kedisiplinan, tanggungjawab, ketekunan & konsistensi, serta profesional. Selain itu ada tantangan dalam dunia industri seperti tekanan target & deadline, adaptasi budaya kerja, kritik & evaluasi berkala, serta tuntutan multitasking & disiplin tinggi. Sehingga diharapkan para peserta atau mahasiswa bisa beradapatasi dalam dunia kerja, terutama bagi siapa-siapa saja yang hendak membangun agensi atau usaha. [ATy]
Fortasi MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang: Mahasiswa PKL PAI UMM Mendukung Kegiatan GEMPITA

Pada hari Kamis, 24 Juli 2025, MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang menggelar acara Fortasi. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sekolah tersebut mengadakan kegiatan GEMPITA (Gebyar Mumtaza Puruhita) dengan tema “Suara dari Tanah Papua.” Tema tersebut dipilih untuk mengangkat isu mengenai tambang yang ada di Raja Ampat, sekaligus untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian alam Papua dan keberagaman budaya masyarakatnya. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Papua kepada para siswa di MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang. Mahasiswa PKL Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ikut serta mendukung dan memeriahkan dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan acara tersebut. Selama acara berlangsung, berbagai kegiatan menarik diselenggarakan, mulai dari drama, tarian tradisional Papua, hingga penampilan musik yang memeriahkan suasana. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa-siswi MA Muhammadiyah 1 Plus, namun juga turut melibatkan Kepala Sekolah, Guru, dan mahasiswa PKL PAI UMM yang memberikan kontribusi dalam mendukung acara tersebut. Keseruan acara semakin terasa dengan adanya sharing session yang diadakan untuk membahas pentingnya menjaga kelestarian alam dan budaya, serta untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan keanekaragaman budaya. Para siswa mendapat kesempatan untuk belajar langsung tentang keberagaman budaya Papua, yang tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi juga lewat pertunjukan yang penuh warna. Kepala Sekolah MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang, Bapak Akh Ari Wibowo, M.Pd, menyatakan pujian dan sanjungan untuk IPM dan seluruh pihak yang terlibat dalam acara ini. ” Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Semoga acara seperti ini bisa terus diselenggarakan lagi untuk menginspirasi siswa-siswi untuk lebih kreatif dan peduli terhadap lingkungan serta budaya kita,” ujar beliau. ” Kami senang bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini. Harapan kami, acara ini bisa membuka wawasan siswa tentang pentingnya menjaga alam dan budaya,” ujar kelompok PKL yang terlibat dalam acara ini. ” Acara ini memberikan banyak pembelajaran baru, terutama tentang keberagaman budaya Papua. Kami merasa lebih bangga menjadi bagian dari Indonesia," ujar salah satu siswa MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang. Dengan adanya acara ini, MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang menunjukkan komitmennya dalam memberikan wadah bagi generasi muda untuk mengapresiasi dan melestarikan kekayaan alam serta budaya Indonesia. Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki wawasan luas tentang pentingnya menjaga lingkungan dan budaya, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri mereka sebagai bagian dari bangsa yang kaya akan keragaman. Dengan suksesnya acara ini, MA Muhammadiyah 1 Plus Kota Malang menunjukkan upayanya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter dan pengetahuan para siswanya, serta memberikan mereka pengalaman yang berharga untuk diterapkan di masa depan. (dian)
Jejak Akademisi UMM di Oxford: Prof. Syamsul Arifin Wakili Indonesia di Forum Bergengsi ICLRS

Christ Church, University of Oxford, Inggris, pertengahan Juli 2025. Di antara deretan bangunan bersejarah yang menjadi saksi lahirnya para cendekiawan dunia, hadir seorang akademisi dari Malang. Dialah Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang menorehkan prestasi dengan menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dalam ajang bergengsi Young Scholars Fellowship on Religion and the Rule of Law yang diselenggarakan oleh The International Center for Law and Religion Studies (ICLRS). Bagi Syamsul, kehadirannya di Oxford bukan sekadar perjalanan akademik. Dia membawa serta nama UMM, Muhammadiyah, dan juga Indonesia dalam diskursus global tentang hukum, agama, dan hak asasi manusia. “Program ini memberi ruang untuk belajar langsung dari profesor yang ahli di bidangnya. Pengalaman tersebut juga menjadi sarana untuk merefleksikan dan menyegarkan gagasan sebagai akademisi,” ungkapnya dalam rilis UMM, Rabu (20/8/2028). Perjalanan menuju Oxford tidaklah mudah. Ratusan akademisi dari berbagai negara mendaftar untuk fellowship ini. Dari jumlah itu, hanya 50 pelamar yang berkesempatan menjalani wawancara. Dan akhirnya, 17 orang dari 16 negara dipilih untuk berangkat ke Inggris. Nama Syamsul Arifin tercatat di antara mereka, menjadikannya satu-satunya representasi dari Indonesia. Selama tiga minggu penuh, para peserta mengikuti kuliah intensif, seminar, dan diskusi mengenai isu-isu hukum, agama, dan hak asasi manusia. Mereka juga melakukan kunjungan ke lembaga penting di London, mulai dari parlemen hingga Mahkamah Konstitusi. “Tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga membuka jejaring internasional lintas negara,” tutur Syamsul. Dalam forum tersebut, Syamsul memilih tema yang sangat relevan dengan konteks Indonesia: pendidikan agama bagi mahasiswa non-Muslim di perguruan tinggi Muhammadiyah. Dia meneliti implementasi UU No. 20 Tahun 2003 dan PP No. 55 Tahun 2007 di kampus-kampus dengan mayoritas mahasiswa non-Muslim, seperti di Kupang, Sorong, dan Maumere. Hasil kajiannya kemudian ia tuangkan dalam karya berjudul: “When Constitutional Rights Meet Institutional Identity: A Case Study of Religious Education for Christian-Majority Students at Muhammadiyah Universities in Eastern Indonesia.” Tema ini bukan tanpa alasan. Syamsul menemukan fenomena menarik: di sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah di kawasan timur Indonesia, mahasiswa non-Muslim bahkan mencapai 60–85 persen. Pertanyaan mendasarnya, apakah hak mereka memperoleh pendidikan agama sesuai keyakinan telah benar-benar terpenuhi? Pengalaman intelektual di Oxford meneguhkan langkah Syamsul untuk terus memberi kontribusi nyata, tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam perumusan kebijakan pendidikan agama di Indonesia. “Saya berharap semakin banyak dosen UMM yang berani mendaftar dalam fellowship ini. Kita punya potensi besar untuk ikut dalam percakapan global,” ujarnya penuh optimisme. Keikutsertaan Syamsul Arifin di forum internasional ini menjadi bukti bahwa dosen-dosen Muhammadiyah mampu menembus panggung akademik dunia. Bukan hanya membanggakan UMM, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam wacana global tentang hukum, agama, dan hak asasi manusia. (disadur dari website pwmu)