Beyond The Comfort Zone: Pita Anjarsari Ketua KPU Madiun, Alumni PAI UMM Dorong Wisudawan FAI Raih Kesuksesan Tanpa Batas Profesi

Malang, 11 Agustus 2025 – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan inspirasi baru bagi mahasiswa dan alumni melalui kegiatan bertajuk “Beyond The Comfort Zone: Peluang Karir Alumni FAI UMM – Membuka Pintu Kesuksesan Tanpa Batas Profesi”. Kegiatan yang digelar di Aula GKB 3 UMM ini menghadirkan narasumber Pita Anjarsari, S.Pd., M.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UMM yang kini sukses meniti karir sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Madiun. Dalam paparannya, Pita berbagi kisah perjalanan karirnya, mulai dari latar belakang sebagai lulusan FAI UMM hingga peran strategisnya di dunia politik dan kepemiluan. Pengalaman tersebut menjadi bukti nyata bahwa alumni FAI tidak hanya berkiprah di dunia pendidikan, tetapi juga mampu menembus ranah profesional lain yang menuntut kompetensi luas, kepemimpinan, dan integritas. Berani Melangkah Keluar dari Zona Nyaman Pita menegaskan bahwa kesuksesan dimulai ketika seseorang berani keluar dari zona nyaman. Menurutnya, banyak lulusan yang masih terpaku pada jalur karir konvensional sesuai latar belakang akademik, padahal dunia kerja menawarkan peluang lebih luas. “Zona nyaman itu ibarat pagar yang membatasi potensi diri. Ketika kita terlalu lama berada di dalamnya, kita tidak berkembang. Padahal, keberanian untuk melangkah keluar bisa membuka pintu kesempatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya,” jelasnya. Ia memberi contoh perjalanan dirinya yang awalnya berprofesi sebagai pendidik, namun kemudian memutuskan untuk berani mencoba tantangan baru di dunia politik. Keputusan tersebut membawanya pada posisi strategis sebagai Ketua KPU Kota Madiun, sebuah profesi yang jauh dari jalur awal pendidikannya, namun justru membuka ruang pengabdian lebih luas. Lebih lanjut, Pita menyampaikan bahwa lulusan FAI UMM memiliki keunggulan unik yang menjadi modal penting dalam menembus berbagai bidang profesi. Nilai moral yang kuat, kemampuan komunikasi interpersonal, serta pemahaman keagamaan yang mendalam menjadi diferensiasi alumni FAI dibandingkan lulusan lain. “Banyak yang beranggapan alumni FAI hanya bisa menjadi guru. Padahal, nilai moral yang kita bawa, kemampuan komunikasi, serta keilmuan agama bisa diaplikasikan di banyak profesi. Justru itu yang membuat alumni FAI relevan di berbagai bidang, termasuk politik, hukum, media, maupun sektor sosial,” ujarnya. Menurut Pita, keberanian alumni untuk mencoba hal baru adalah kunci untuk meraih peluang. Dunia kerja saat ini bergerak cepat dan penuh dinamika. Mereka yang berani bereksperimen dengan jalur karir berbeda, akan lebih siap menghadapi tantangan global. “Kalau kita hanya terpaku menjadi guru, padahal punya potensi lebih, kita justru membatasi diri sendiri. Alumni FAI harus berani melangkah keluar, karena dunia di luar sana membutuhkan perspektif baru, ide segar, dan keberanian untuk membawa perubahan,” terangnya. Keterampilan yang Wajib Dimiliki Pita juga menekankan sejumlah keterampilan esensial yang wajib dikuasai mahasiswa dan alumni agar mampu bersaing di dunia kerja modern. Beberapa di antaranya adalah: Komunikasi efektif, baik lisan maupun tulisan. Literasi digital, menguasai teknologi informasi untuk mendukung pekerjaan. Manajemen waktu dan proyek, agar mampu bekerja efisien. Negosiasi, untuk membangun kesepakatan dan memengaruhi keputusan. Networking, memperluas jaringan relasi yang bermanfaat. Kreativitas problem solving, berpikir inovatif dalam menyelesaikan tantangan. “Kalau alumni ingin bersaing, jangan hanya mengandalkan ijazah. Keterampilan-keterampilan ini yang akan membedakan kalian dengan yang lain,” tegas Pita. Sesi pelatihan ini semakin hidup dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa. Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana cara membuka peluang baru selain menjadi guru. Menjawab hal tersebut, Pita menekankan pentingnya eksplorasi dan keberanian mencoba jalur karir lain. “Cobalah mulai dari hal kecil. Misalnya aktif di organisasi, menulis opini, ikut kegiatan sosial, atau mencoba magang di instansi berbeda. Dari situ kita akan melihat potensi lain yang mungkin lebih sesuai dengan diri kita,” jawabnya. Pertanyaan lain yang muncul adalah tentang bagaimana cara beradaptasi ketika bekerja di lingkungan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Menanggapi hal ini, Pita menyebutkan bahwa fleksibilitas dan kemauan belajar adalah kunci utama. “Jangan takut berbeda bidang. Justru ketika kalian masuk ke lingkungan yang asing, kalian ditantang untuk belajar lebih cepat. Itulah yang membuat kita tumbuh,” jelasnya. Di akhir sesi, Pita memberikan pesan motivasi agar mahasiswa FAI UMM tidak ragu untuk melangkah lebih jauh. Menurutnya, lulusan FAI memiliki bekal moral, ilmu, dan jaringan yang kuat, tinggal bagaimana mereka berani mengambil langkah konkret untuk memanfaatkannya. “Kesuksesan bukan hanya soal profesi, tapi soal keberanian mengambil keputusan. Jangan takut gagal, karena setiap kegagalan adalah proses belajar. Yang terpenting adalah jangan berhenti mencoba dan terus berusaha memberikan manfaat di mana pun kita berada,” pungkasnya. Kegiatan Beyond The Comfort Zone ini menegaskan komitmen FAI UMM dalam mendukung mahasiswa dan alumni agar siap menghadapi tantangan global. Melalui pengalaman inspiratif alumni yang sukses meniti karir di luar bidang konvensional, diharapkan mahasiswa FAI UMM semakin percaya diri bahwa kesuksesan dapat diraih tanpa batas profesi, asalkan berani keluar dari zona nyaman dan terus mengembangkan diri. (ika)
Bekali Mahasiswa dengan Potensi Diri Menuju Karir ASN, FAI UMM Undang Alumni berprofesi Hakim Yustisial

Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kegiatan Pelatihan Memasuki Dunia Kerja pada Senin, 11 Agustus 2025 bertempat di Aula GKB 3 UMM. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa tingkat akhir dengan tujuan membekali mereka keterampilan, pengetahuan, dan kesiapan mental dalam menghadapi dunia kerja, khususnya bagi yang berencana meniti karir sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Pelatihan ini menghadirkan narasumber utama, yaitu Rendra Widyakso, S.H., S.H., M.H., seorang Hakim Yustisial Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI sekaligus alumni Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) FAI UMM. Kehadiran beliau memberikan motivasi tersendiri, karena sebagai alumni FAI UMM beliau telah berhasil meniti karir di Mahkamah Agung RI. Kenali Potensi Diri Sejak Awal Dalam pemaparannya, Rendra menekankan pentingnya mahasiswa untuk mengenali potensi diri sejak dini. Menurutnya, setiap orang memiliki kelebihan yang dapat dijadikan modal dalam menapaki karir, termasuk sebagai ASN. “Kenali potensi diri, lakukan riset terhadap kemampuan diri sendiri. Apa yang kalian kuasai, apa yang menjadi passion, dan bagaimana potensi itu bisa berkembang. Dengan mengenal diri, maka kita bisa menyiapkan langkah lebih terarah dalam berkarir,” jelas Rendra. Ia menambahkan bahwa proses mengenali diri tidak bisa instan, melainkan harus ditempuh melalui pengalaman, evaluasi diri, serta kemauan untuk belajar secara terus-menerus. Lebih jauh, Rendra juga menyinggung konsep hukum alam yang berlaku dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari aturan sosial, ekonomi, hingga pendidikan. Menurutnya, setiap individu yang ingin sukses harus memahami dan menyesuaikan diri dengan hukum alam tersebut. “Dalam hidup ada aturan, ada hukum ekonomi, ada etika dalam pendidikan. Semuanya itu hukum alam yang harus kita pahami. Kalau kita melawan, pasti akan kesulitan. Maka, untuk bisa sukses, kita harus mengikuti aturan itu dengan cara yang benar,” terangnya. Rendra juga memberikan tips praktis bagaimana cara menjaga dan mengasah pengetahuan agar tidak mudah hilang. Ia menekankan pentingnya belajar dengan menulis serta belajar dengan mengucapkan seperti layaknya berpidato. “Belajar itu jangan hanya dibaca. Kalau ditulis, pengetahuan akan lebih melekat. Kalau diucapkan, apalagi seperti berpidato, maka memori kita akan lebih kuat. Ini cara sederhana untuk menjaga daya ingat,” ungkapnya. Ia juga menyarankan mahasiswa untuk aktif mengikuti tes kepribadian agar lebih memahami kelemahan dan kelebihan diri. Tes ini penting sebagai bekal ketika memasuki dunia kerja yang menuntut kemampuan komunikasi, adaptasi, dan pengendalian diri. Selain kemampuan akademik, Rendra menekankan pentingnya jaringan atau networking dalam dunia kerja. Menurutnya, luasnya jaringan yang dimiliki seseorang akan memengaruhi seberapa besar dampaknya di masyarakat maupun lembaga. “Perluas jaringan kalian. Pertanyaannya bukan hanya seberapa banyak orang yang kalian kenal, tapi seberapa berdampak kalian bagi mereka. Jaringan bukan sekadar soal kenalan, tapi tentang kontribusi dan nilai yang bisa kita bawa,” ujarnya. Dalam konteks tertentu, ia juga menyinggung fenomena ordal (orang dalam). Namun, Rendra menegaskan bahwa yang lebih utama adalah kualitas diri. Orang dalam bisa membantu, tetapi tanpa kemampuan, kesempatan itu tidak akan bertahan lama. Kebutuhan SDM di Lembaga Peradilan Agama Sebagai Hakim Yustisial di Badilag MA RI, Rendra turut menjelaskan bahwa kebutuhan sumber daya manusia di lingkungan peradilan agama masih terbuka luas. Mahasiswa lulusan FAI, khususnya Prodi HKI, memiliki peluang besar untuk berkarir di lembaga tersebut. “Peradilan Agama membutuhkan banyak SDM berkualitas. Lulusan FAI UMM, khususnya HKI, punya potensi besar untuk masuk ke dalamnya. Bekal keilmuan syariah yang dipadukan dengan wawasan hukum kontemporer sangat relevan dengan kebutuhan lembaga,” terangnya. Kehadiran Rendra sebagai alumni sukses memberi motivasi kuat bagi mahasiswa. Ia menegaskan bahwa perjalanan menuju karir ASN tidak mudah, tetapi dengan kerja keras, disiplin, dan kejujuran, semua peluang dapat diraih.“Menjadi ASN bukan sekadar mencari pekerjaan, tetapi juga pengabdian. Kalian harus siap bekerja melayani masyarakat, menjunjung integritas, dan memberi manfaat. Itulah esensi menjadi aparatur sipil negara,” pesannya. Kegiatan Pelatihan Memasuki Dunia Kerja ini menjadi salah satu langkah strategis FAI UMM untuk mendampingi mahasiswa menjelang kelulusan. Dengan menghadirkan alumni yang kini menjabat di lembaga tinggi negara, mahasiswa tidak hanya mendapat pengetahuan praktis, tetapi juga inspirasi nyata bahwa peluang karir terbuka lebar asalkan diiringi dengan persiapan yang matang. Melalui pelatihan ini, diharapkan lulusan FAI UMM tidak hanya siap memasuki dunia kerja secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan manajerial diri, jaringan yang luas, serta semangat pengabdian yang tinggi. Dengan bekal itu, mahasiswa FAI UMM diyakini mampu menjadi generasi muda berintegritas yang siap mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara.
Studium Generale dari Ali Muthohorin Wakil Walikota Malang alumni HKI UMM : Membekali Lulusan dengan Modal Ilmu, Integritas, dan Spirit Pengabdian

Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar prosesi Yudisium Periode III Tahun 2025 pada Selasa, 12 Agustus 2025 bertempat di Aula GKB 3 UMM. Acara ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi untuk memasuki tahap baru pengabdian di tengah masyarakat. Selain prosesi yudisium, kegiatan ini juga diisi dengan Studium Generale yang menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ali Muthohirin, S.Sy., Wakil Wali Kota Malang sekaligus alumni Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) FAI UMM. Kehadiran beliau menjadi kebanggaan tersendiri karena sosok alumni sukses dapat berbagi pengalaman, motivasi, sekaligus pesan moral bagi para lulusan agar senantiasa menebar manfaat, menjunjung kejujuran, dan menjaga marwah sebagai anak FAI. Dalam sambutan pembukaannya, pimpinan FAI UMM menegaskan bahwa yudisium bukan hanya seremonial kelulusan, melainkan pengukuhan status mahasiswa yang telah ditempa dalam tradisi akademik dan moralitas Islami. FAI UMM selama ini berkomitmen melahirkan sarjana yang tidak sekadar menguasai pengetahuan, tetapi juga berintegritas, siap menghadapi tantangan zaman, dan mampu menjawab kebutuhan umat. “Yudisium adalah awal perjalanan pengabdian. Setelah ini, para lulusan akan menghadapi dunia nyata dengan tantangan yang kompleks. Kami berharap, seluruh lulusan FAI UMM senantiasa menjunjung tinggi nilai kejujuran, kebermanfaatan, serta semangat dakwah yang menyejukkan,” tegas Dekan FAI UMM dalam sambutannya. Dalam sesi Studium Generale, Ali Muthohirin, S.Sy. menyampaikan materi sarat makna dengan tema besar seputar pentingnya integritas dan kontribusi anak FAI di masyarakat. Menurutnya, ada dua prinsip dasar yang harus menjadi pegangan setiap lulusan FAI, yakni bermanfaat bagi orang lain dan menjaga kejujuran.“Anak FAI harus dikenal sebagai pribadi yang jujur, berintegritas, dan bermanfaat. Itu adalah identitas utama kita di masyarakat. Tidak peduli di bidang apapun kita berkarya—akademik, sosial, politik, maupun dakwah—kejujuran adalah fondasi yang tidak bisa ditawar,” ungkap Wakil Wali Kota Malang itu. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dalam konteks sosial dan politik, terdapat dua modal utama yang menjadi kunci kesuksesan, yakni legitimate of power dan social of power. Modal legitimasi kekuasaan dan modal sosial, menurutnya, hanya bisa diperoleh jika seseorang dipandang baik, dipercaya, dan diterima di tengah masyarakat. Ali juga menyinggung bahwa perjalanan seorang sarjana FAI tidak berhenti pada ijazah yang diterima. Modal ilmu yang diperoleh harus senantiasa diiringi dengan prinsip teologis dan spirit ajaran para salafus saleh—generasi pendahulu yang tulus mengabdi demi kemaslahatan umat. “Ilmu yang kalian peroleh harus menjadi bekal untuk mengabdi. Ingat, prinsip-prinsip teologis harus menjadi modal utama, sebab dari situlah lahir moralitas, etika, dan orientasi pengabdian. Salafus saleh mengajarkan kita untuk menjadikan ilmu sebagai alat pengabdian, bukan sekadar alat mencari keuntungan,” tegasnya. Menurut Ali, mahasiswa FAI UMM telah mendapatkan bekal pendidikan yang tidak hanya akademik, tetapi juga spiritual dan moral. Hal ini yang membedakan lulusan FAI dengan lulusan perguruan tinggi lainnya. Dengan ciri khas ini, ia meyakini lulusan FAI memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat. Tantangan Teknologi dan Perubahan Sosial Di sisi lain, Wakil Wali Kota Malang ini juga mengingatkan para lulusan akan tantangan besar yang dihadapi generasi sekarang, yakni derasnya arus teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat. Digitalisasi, globalisasi, dan disrupsi informasi menuntut lulusan untuk adaptif, kreatif, sekaligus kritis dalam menyikapi perkembangan zaman. Namun demikian, ia menegaskan bahwa ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, yaitu nilai agama dan moralitas. Nilai-nilai inilah yang menjadi peluang besar sekaligus pembeda bagi anak FAI. “Teknologi bisa menggantikan banyak hal, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan nilai agama dan moralitas. Inilah peluang sekaligus tantangan kalian. Anak FAI harus hadir sebagai penjaga moral, penyebar kebaikan, sekaligus penggerak perubahan yang tetap berpijak pada nilai-nilai agama,” ujarnya. Ali juga menegaskan bahwa setiap lulusan membawa nama baik FAI UMM ketika terjun ke masyarakat. Karena itu, menjaga perilaku, integritas, dan kontribusi positif adalah kewajiban.“Di mata masyarakat, kalian adalah wajah FAI UMM. Jadilah sosok yang dianggap orang baik. Ketika kalian dipercaya masyarakat, maka modal sosial dan legitimasi itu akan hadir dengan sendirinya. Itulah modal utama untuk menjadi pemimpin, penggerak, atau apapun peran yang kalian emban di tengah masyarakat,” pesannya. Acara Yudisium Periode III FAI UMM Tahun 2025 diakhiri dengan doa bersama dan sesi foto. Suasana penuh haru menyelimuti aula ketika para peserta yudisium menerima ucapan selamat dari dosen dan jajaran pimpinan fakultas. Melalui yudisium ini, FAI UMM berharap setiap lulusan mampu melangkah ke dunia kerja dan pengabdian dengan bekal ilmu, moralitas, serta semangat Islami yang kokoh. Prinsip teologis, nilai moral, dan integritas harus terus dijaga agar para alumni tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga membawa manfaat luas bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
FAI UAD dan FAI UMM Perkuat Kolaborasi Melalui Benchmarking dan Penandatanganan MoU

Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta melakukan kunjungan benchmarking dan penjajakan kerjasama ke Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM) pada Jumat, 8 Agustus 2025, bertempat di ruang Micro Teaching FAI UMM. Rombongan FAI UAD terdiri atas tiga unsur dekanat, tiga laboran, dan sembilan tenaga kependidikan (tendik). Acara diawali dengan sambutan hangat dari Dekan FAI UMM, Prof. Dr. Khozin, M.Si., yang menyatakan kegembiraannya atas kunjungan antarkerabat PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah). Menurut beliau, kunjungan ini adalah wujud ukhuwah yang terus diperkuat, sekaligus momentum strategis untuk saling berbagi praktik terbaik—mulai dari pengelolaan akademik, fasilitas laboratorium, hingga strategi penerimaan mahasiswa baru (PMB). “Kami menyambut dengan sangat baik kunjungan dari FAI UAD. Ini menjadi kesempatan berharga untuk saling bertukar pengalaman dan memperkuat layanan akademik maupun nonakademik. Semoga melalui kunjungan ini, kerja sama akan segera diwujudkan secara nyata bertumpu pada bidang akademik, riset, dan pengembangan lembaga,” jelas Prof. Khozin. Dilanjutkan oleh sambutan Dekan FAI UAD, Dr. Arif Rahman, M.Pd.I., yang menyampaikan rasa syukur atas sambutan hangat dari FAI UMM. Beliau menegaskan bahwa tujuan utama benchmarking adalah mempererat ukhuwah sekaligus membuka peluang kolaborasi praktis. “FAI UMM telah menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai segi, termasuk inovasi akademik dan pelayanan. Kami berharap banyak belajar dari pengalaman FAI UMM untuk diterapkan di lingkungan FAI UAD,” ujar Dr. Arif Rahman. Ia menambahkan, “Kini saatnya PTMA berjalan bersama, bukan sendiri—sinergi adalah kunci menuju kemajuan bersama.” Setelah dialog, rombongan diajak melakukan tur kampus menggunakan mobil buggy. Agenda ini mencakup kunjungan ke kantor fakultas, ruang dosen, ruang kelas, serta berbagai laboratorium—termasuk Micro Teaching Room dan Laboratorium Syariah yang menjadi pusat pembelajaran inovatif. Para laboran dan tendik FAI UAD terlihat antusias berdiskusi dengan kolega mereka di FAI UMM, khususnya soal manajemen laboratorium, sistem administrasi, dan layanan akademik yang tertata rapi. Pengalaman langsung ini memberi pemahaman konkret atas operasional kampus berbasis layanan prima. Sebagai puncak kegiatan, dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara FAI UAD dan FAI UMM. MoU ini menjadi tonggak awal kerjasama resmi yang mencakup: Pertukaran mahasiswa dan dosen antar-fakultas. Penguatan riset bersama (joint research). Program pelatihan dan pengabdian masyarakat. Koordinasi strategi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). MoU ini bukan sekadar bentuk administratif, melainkan wujud komitmen kedua institusi untuk berjalan bersama dalam pengembangan kualitas pendidikan Islam di lingkungan PTMA. Kegiatan benchmarking ini tidak hanya sebagai ajang kunjungan, tetapi sebagai fondasi sinergi antar-perguruan tinggi. Bagi tendik dan laboran FAI UAD, pengalaman ini menjadi refleksi nyata layanan modern yang dapat diadaptasi di kampus masing-masing. Bagi mahasiswa, momentum ini membuka peluang besar: dari pertukaran akademik, riset kolaboratif, hingga pelatihan lintas fakultas yang memperkaya kurikulum dan pengalaman belajar. Secara keseluruhan, kunjungan benchmarking FAI UAD ke FAI UMM pada 8 Agustus 2025 berjalan lancar, penuh kehangatan, dan sarat dengan nilai ukhuwah. Dengan adanya penandatanganan MoU, kini terbuka jalan kolaborasi nyata dan berkelanjutan—tidak hanya bagi sivitas akademika kedua fakultas, tetapi juga bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan secara lebih luas. Semoga sinergi ini segera berbunga—menciptakan program-program inovatif, riset kolaboratif, dan peluang baru yang memperkuat peran Fakultas Agama Islam sebagai lembaga unggul berdaya saing global.