Menembus Batas : Perjalanan Dosen PAI UMM Meraih Beasiswa S3 di Hungaria

Melanjutkan studi ke luar negeri adalah impian banyak akademisi, namun prosesnya tidak selalu mudah. Dari persiapan bahasa, pencarian supervisor, hingga menghadapi tantangan budaya di negara tujuan, setiap langkah membutuhkan ketekunan dan strategi yang matang. Dalam wawancara kali ini, kita akan mendengar kisah inspiratif dari Dosen Pendidikan Agama Islam FAI-UMM, Nafik Muthohirin, S.Pd.I.MA.Hum yang berhasil mendapatkan beasiswa Stipendium Hungaricum untuk studi doktoralnya di Eötvös Loránd University, Hungaria. Melalui pengalaman pribadinya, beliau berbagi bagaimana mempersiapkan diri sejak jauh hari, tantangan yang dihadapi selama studi, serta kesan mendalam tentang kehidupan akademik dan sosial di Hungaria. Wawancara ini diharapkan dapat menjadi panduan sekaligus motivasi bagi para akademisi dan mahasiswa yang bercita-cita menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Bagaimana Anda mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa S3 di Hungaria? Sejak 2 tahun sebelum keberangkatan studi di Hungaria, saya memang sudah meniatkan diri untuk mempersiapkan studi ke luar negeri. Saya cukup percaya diri mengenai portofolio publikasi, namun problem besar yang saya hadapi adalah skor Bahasa Inggris saya sehingga waktu itu yang terpikirkan adalah saya perlu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya. Jadi, saya sering mengerjakan soal-soal TOEFL selama 2 tahun tersebut, mulai dari yang awalnya otodidak hingga kursus berkali-kali. Sehari bisa 2 jam saya menghabiskan waktu untuk mengerjakan soal-soal tersebut, tapi ternyata itu tidak cukup signifikan menaikkan skor karena kunci meningkatkan keterampilan bahasa tidak bisa dibuat sampingan dengan pekerjaan yang lain, perlu fokus dan latihan yang tekun. Hungaria menjadi salah satu pilihan saya karena kecocokan dengan supervisor. Selain persiapan bahasa, yang tidak kalah penting adalah mencari dan korespondensi dengan calon supervisor. Aspek ini sering menjadi problem sendiri bagi beberapa pencari beasiswa, karena (mungkin) belum punya portofolio publikasi sebelumnya atau masih bimbang menentukan minat studinya sehingga berpengaruh pada kelayakan proposal riset yang diajukan. Jadi, bagi pencari beasiswa luar negeri, korespondensi dengan supervisor adalah satu keterampilan tersendiri. 2. Apa yang menjadi motivasi Anda memilih Hungaria sebagai tujuan studi S3? Alasan pertama, tentu karena sudah cocok dengan supervisor saya. Dia memahami perilaku keberagamaan masyarakat Muslim di Indonesia, karena pernah memiliki proyek penelitian di Indonesia Timur. Kemudian, minat studi saya relevan dengan program studi doktoral di department Studi Agama-agama di Eotvos Lorand University (ELTE), Budapest, Hungary. Selain itu, Hungary adalah pusat destinasi utama di Eropa. Negara ini merupakan perpaduan wisata sejarah, religi, dan keindahan seni arsitektur abad pertengahan. 3. Bagaimana proses pengajuan beasiswa S3 di Hungaria? Saya mengikuti Stipendium Hungaricum Scholarship (Baca: SH), sebuah skema beasiswa dari pemerintah Hungary yang bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai sending partner-nya. Sama halnya dengan skema beasiswa luar negeri yang lain, skema SH memerlukan beberapa persyaratan wajib seperti Letter of Supervisor (kalua PhD), sertifikat kemampuan Bahasa Inggris (IELTS/TOEFL), Letter of Reference, Curriculum Vitae, dan lainnya. Setiap tahun, yang daftar dari Indonesia bisa mencapai ribuan, dan yang diterima hanya tidak kurang dari 70 pelamar 4. Bagaimana Anda mengatasi tantangan bahasa dan budaya di Hungaria? Menguasai keterampilan Bahasa Inggris itu yang utama, khususnya speaking dan writing karena itu modal utama untuk mengikuti perkualiahan di kelas, bimbingan dengan supervisor, dan interaksi dengan mahasiswa internasional lainnya. Sementara untuk Bahasa Hungary, untuk mahasiswa PhD tidak diwajibkan harus menguasainya. Saya sendiri baru akan ikut di semester kedua ini. Selama ini masih belajar otodidak dan dari teman-teman internasional di sini. Apa pengalaman paling berkesan selama studi S3 di Hungaria? Tentu saya mendapat banyak pengalaman yang berbeda, baik tentang pengalaman belajar maupun menjalani kehidupan sehari-hari. Pertama, etos belajar yang tinggi. Saya menjumpai mahasiswa-mahasiswa di sini memiliki motivasi belajar yang kuat. Hampir setiap hari, mereka menghabiskan waktu belajar berjam-jam di perpustkaan. Kebanyakan masih mempertahankan cara belajar yang konvensional (baca buku cetak dan dicoret-coret), dan kemudian melengkapi dan menyalinnya di laptop atau tablet. Iklim belajar yang kondusif ini didukung oleh jumlah perpustakaan yang banyak, lengkap, dan nyaman.Jadi hampir setiap meja di perpustakaan selalu terisi dari pagi hingga malam. Jadi, kalau tidak berangkat pagi, siap-siap tidak mendapat meja. Kedua, transportasi publik terbaik di Eropa. Semua jenis transportasi publik selalu datang tepat waktu, nyaman, aman, dan bersih. Semua orang taat untuk tidak makan dan minum ketika di dalam transportasi. Selalu ada kursi prioritas untuk maasyarakat difable dan lansia. Kemudian, dari satu jenis transportasi ke transportasi yang lain semuanya terhubung. Ketiga, kebetulan saya tinggal di Budapest, ibu kota Hungary, jadi saya merasakan kenyamanan hidup di sini. Meski pada umumnya masyarakat di Eropa yang individual, tapi hampir tidak pernah menjumpai terjadi kriminalitas. Bagi perempuan Muslim yang berjilbab juga tidak ada diskriminasi atau tindakan islamophobia, seperti yang banyak terjadi di negara-negara Eropa lainnya. Perjalanan studi di luar negeri, seperti yang telah dibagikan dalam wawancara ini, menunjukkan bahwa dengan tekad, persiapan yang matang, dan kerja keras, impian untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri bukanlah hal yang mustahil. Tantangan pasti ada, baik dalam hal akademik, bahasa, maupun budaya, tetapi semua itu bisa diatasi dengan semangat belajar yang tinggi dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Bagi mahasiswa yang bercita-cita mengikuti jejak serupa, mulailah dengan memperkuat kemampuan akademik, membangun portofolio penelitian, serta aktif mencari peluang beasiswa yang sesuai dengan minat dan bidang keilmuan masing-masing. Semoga pengalaman dan ilmu yang diperoleh oleh Dosen PAI UMM Nafik Muthohirin, S.Pd.I.,MA.Hum,  selama studi di Hungaria tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi institusi dan bangsa. Keberhasilan satu individu dalam menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi adalah bagian dari kontribusi besar dalam memajukan dunia akademik dan keilmuan di Indonesia. Mari terus belajar, berkembang, dan berkontribusi untuk kemajuan pendidikan dan penelitian di tanah air! (NM/Ika)