MAHASISWI PBA UMM RAIH JUARA 1 LKTIQ TINGKAT NASIONAL DENGAN KARYA “CYBER COUNSELING”

PBA UMM News – Dua Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang sukses menarik perhatian dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (LKTIQ) dalam UNNES Islamic Fair (UIF) yang berlangsung di Universitas Negeri Semarang pada 1-9 November 2024. Perwakilan mahasiswa UMM ini membawa karya ilmiah berjudul “Cyber Counseling: Inovasi Aplikasi untuk Mengatasi Gangguan Mental Health”, mereka menawarkan solusi konkret untuk mendukung kesehatan mental generasi Z di era digital. Innasatun Nabilatin Nadif, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa karya ini bertujuan memberikan dampak nyata bagi generasi muda. “Melalui karya ini, kami berharap dapat membantu Gen Z dalam mengatasi tantangan kesehatan mental yang dihadapi di era digital,” ujarnya. Tema ini dipilih bukan tanpa alasan. Menurut tim yang terdiri dari Khoirul Umar (Ilmu Komunikasi), Innasatun Nabilatin Nadif (Pendidikan Bahasa Arab), dan Ameliya Dalallul Hanan (Pendidikan Bahasa Arab), aplikasi “Curahkan’s Cyber Counseling” dirancang sebagai solusi inovatif yang menggabungkan empati sosial dengan teknologi digital. Proses pembuatannya didukung oleh mentor, Ibu I’anatut Thoifah, S.Pd.I., M.Pd.I. Meski waktu persiapan hanya sekitar satu minggu, tim mampu memaksimalkan usaha mereka melalui pembagian tugas yang jelas dan pelatihan intensif. “Kami membagi jobdesk masing-masing untuk penguatan materi, baik dalam penulisan maupun saat presentasi di hadapan dewan juri,” tambah Innas. Ajang LKTIQ ini diikuti oleh 26 universitas dari berbagai daerah, membuat persaingan cukup ketat. Namun, semangat tim tetap tinggi. “Generasi Z tumbuh di era di mana kesempurnaan adalah standar, dan itu menciptakan tekanan yang luar biasa. Maka dari itu, kesehatan mental adalah mahkota yang tak terlihat, namun sangat berharga. Rawatlah dengan baik,” ungkap mereka, memberikan pesan inspiratif kepada para pembaca. Inovasi mereka diharapkan menjadi langkah awal dalam memberikan kontribusi nyata untuk mendukung kesehatan mental generasi muda di tengah tantangan dunia modern. [NASP, PRN, HF, ATy]
DISEMINASI HASIL RISET MODERASI BERAGAMA “Dimensi Ideologi dan Kepemimpinan dalam Penguatan dan Pelembagaan Moderasi Beragama di Muhammadiyah”

Pada hari Senin, 25 November 2024, telah diselenggarakan kegiatan Diseminasi Hasil Riset bertajuk “Dimensi Ideologi dan Kepemimpinan dalam Penguatan dan Pelembagaan Moderasi Beragama di Muhammadiyah”. Acara ini diadakan oleh Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Mini Hall GKB IV Lantai 4 UMM. Kegiatan ini dihadiri oleh dosen, guru agama, mahasiswa, serta praktisi di bidang keagamaan. Acara dibuka dengan sambutan Bapak Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si dan dilanjutkan oleh Bapak Dr. Mohammad Kamaluddin, M.Si. Kepala Program Studi Pendidikan Agama Islam (Kaprodi PAI) UMM. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih kepada Dekan Fakultas Agama Islam UMM, para pendidik, serta mahasiswa PAI angkatan 2021-2022 atas partisipasi mereka. Beliau juga menekankan pentingnya moderasi beragama sebagai bagian integral dari kehidupan keagamaan, khususnya dalam konteks Muhammadiyah. Sambutan kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Khozin, M.Si., Dekan Fakultas Agama Islam UMM. Dalam kesempatan ini, beliau menggarisbawahi bahwa Muhammadiyah berupaya menjaga identitasnya di tengah berbagai tantangan, termasuk arus kristenisasi, sekaligus menegaskan bahwa gerakan ini bukanlah bagian dari Wahabisme. Pembicara utama dalam kegiatan ini adalah Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Guru Besar Sosiologi Agama di UMM, yang memaparkan tema “Dimensi Kepemimpinan dan Ideologi dalam Penguatan dan Pelembagaan Moderasi Beragama di Muhammadiyah.” Dalam paparannya, Prof. Syamsul menjelaskan ketertarikan peneliti terhadap kebijakan Kementerian Agama mengenai moderasi beragama sebagai landasan untuk memahami teks (Al-Qur’an) dan konteks (keragaman masyarakat).Ia juga menguraikan dua dimensi utama yang menjadi fokus penelitian ini, yaitu ideologi dan kepemimpinan. Muhammadiyah, menurut beliau, adalah gerakan Islam moderat yang memiliki ciri kepemimpinan visioner, terutama di bawah Haedar Nashir. Kepemimpinan ini berhasil merekonstruksi ideologi Muhammadiyah secara sistematis dan berkelanjutan. Pembicara kedua, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam dari Kementerian Agama Republik Indonesia, memberikan perspektif tambahan mengenai moderasi beragama. Beliau menekankan bahwa istilah moderasi beragama memiliki akar dalam tradisi intelektual Muhammadiyah, namun perlu digunakan dengan bijaksana agar tidak menjadi alat untuk memarginalisasi kelompok lain. Dalam sesi diskusi, Prof. Ahmad menyampaikan perlunya pergeseran fokus dari perdebatan metafisika menuju ranah etika, sehingga tercipta dialog yang konstruktif dan inklusif antar kelompok masyarakat. Kegiatan ini diharapkan memberikan wawasan baru bagi para peserta mengenai pentingnya nilai-nilai moderasi beragama, sekaligus memperkuat pemahaman tentang peran kepemimpinan moderat dalam menjaga harmoni keagamaan di Indonesia. Melalui diseminasi ini, nilai-nilai moderasi diharapkan dapat lebih mengakar di dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam konteks Muhammadiyah.