Perjalanan Becoming Muhammadiyah : Dari Keluarga Pendiri Majelis Riyadul Jannah hingga Pemrakarsa Pesantren Mahasiswa Muhammadiyah.

Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Halaqah Ilmiah Sabtu Pagi (HISP) Batch 5 dengan tema “Becoming Muhammadiyah,” yang bertempat di Ruang 502-504 Gedung Kuliah Bersama (GKB) II, Lantai 5. Acara ini dilaksanakan pada hari Rabu dan dihadiri oleh seluruh dosen, tenaga kependidikan, serta part timer di Lingkungan FAI-UMM. Pembicara utama dalam Halaqah Ilmiah ini adalah R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, S.Sy., M.H., dosen Program Studi Hukum Keluarga Islam di FAI-UMM. Dalam kesempatan tersebut, R. Tanzil membagikan kisah perjalanannya menjadi bagian dari Muhammadiyah, sebuah perjalanan yang penuh refleksi dan transformasi. Ia mengungkapkan bahwa sejak kecil, dirinya tidak pernah bersinggungan dengan organisasi Muhammadiyah. Proses menjadi Muhammadiyah baru dimulai ketika ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam Gontor. Meskipun secara organisasi belum menjadi Muhammadiyah, namun secara ubudiyah, ia sudah mempraktikkan ibadah ala Muhammadiyah. Proses menjadi bagian dari Muhammadiyah kian terwujud saat R. Tanzil bergabung dengan UMM dan bertemu dengan Mata Kuliah Kemuhammadiyahan yang diajarkan oleh Dr. Faridi, M.Si. Salah satu mata kuliah yang membekas baginya adalah “Muhammadiyah dan Pluralisme”. Sejak bergabung di UMM pada tahun 2018, ia semakin aktif dalam kegiatan Muhammadiyah, termasuk berperan sebagai pengurus di Ranting Tegalgondo IKIP, LP3H PDM Malang, dosen AIK UMM, serta pengabdian di Masjid dan Mushola Muhammadiyah. Halaqah Ilmiah ini merupakan bagian dari upaya dakwah Islam melalui Muhammadiyah yang telah rutin dilakukan sejak periode dekanat sebelumnya dan kini telah memasuki batch ke-5. Acara ini dibuka oleh Wakil Dekan I FAI-UMM, Dr. Saiful Amien, M.Pd., yang menekankan pentingnya memahami dan memaknai proses bermuhammadiyah dalam setiap aspek kehidupan. Halaqah ini juga menjadi wadah bagi para dosen untuk berbagi pengalaman dalam proses Becoming Muhammadiyah, Being Muhammadiyah, dan Beyond Muhammadiyah. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendakwahkan Islam melalui Muhammadiyah dan memperkuat ideologi Muhammadiyah di kalangan dosen serta tenaga kependidikan FAI-UMM. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menginspirasi para peserta dalam proses bermuhammadiyah dan menguatkan komitmen mereka terhadap persyarikatan. Hasil dari kegiatan ini nantinya akan dibukukan dalam bentuk buku rampai yang berisi kumpulan pengalaman para dosen FAI-UMM dalam proses Becoming Muhammadiyah. (ika)
Prof. Dr. Tobroni Bagikan Pergumulan Perjalanan Becoming Muhammadiyah Yang Sebenar-Benarnya dalam Halaqah Ilmiah Batch 5 FAI-UMM

Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Halaqah Ilmiah Batch 5 dengan tema “Becoming Muhammadiyah,” yang diadakan di Ruang 502-504 Gedung Kuliah Bersama (GKB) II, Lantai 5. Acara ini dihadiri oleh seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan part timer FAI-UMM. Prof. Dr. Tobroni, M.Si., dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam di FAI-UMM, menjadi pemateri utama dalam acara ini. Beliau berbagi kisah perjalanan spiritual dan intelektualnya dalam menjadi bagian dari Muhammadiyah. Prof. Tobroni, yang berasal dari keluarga pesantren dan berlatar belakang politik PPP-Golkar, tumbuh di lingkungan yang penuh dengan nuansa keagamaan. Sejak sebelum lahir, ia sudah disebut sebagai “santri,” mengingat keluarganya yang merupakan keluarga santri dan ayah beliau adalah kyai di kampung. Selama masa kuliahnya di IAIN, Prof. Tobroni aktif mendirikan berbagai organisasi kemahasiswaan dan keilmuan. Persinggungannya dengan ideologi Muhammadiyah dimulai dari pertemanan dan diskusi yang intens selama masa kuliah. Namun, proses Becoming Muhammadiyah semakin intens setelah bergabung sebagai dosen di UMM. Melalui berbagai forum ilmiah dan pendidikan, serta kedekatan ilmiah dengan tokoh Muhammadiyah seperti Prof. Malik Fadjar, Prof. Tobroni mulai memahami dan meresapi nilai-nilai Muhammadiyah secara mendalam. Prof Tobroni sudah banyak menulis buku tentang Muhammadiyah. Halaqah Ilmiah ini bukan hanya sekadar diskusi ilmiah, tetapi juga merupakan sarana untuk mendalami perjalanan spiritual dan ideologis dalam Becoming Muhammadiyah. Prof. Tobroni menjelaskan bahwa perjalanan menjadi Muhammadiyah melibatkan berbagai tahapan, mulai dari Muhammadiyah Ainul Yaqien, yang bersifat kultural, hingga Muhammadiyah Haqqul Yaqien, di mana Muhammadiyah menjadi bagian yang inhern dalam kehidupan sehari-harinya. Prof Tobroni juga menyebutkan ada 5 tahapan bermuhammadiyah, tingkat Ranting adalah Perjuangan, Cabang adalah Pengakuan, PDM adalah Kehormatan, PWM Kepentingan dan PP adalah Aktualisasi Diri. Acara ini bertujuan untuk mendakwahkan Islam melalui Muhammadiyah dan memperkuat komitmen ideologis para dosen dan tenaga kependidikan FAI-UMM. Dengan adanya Halaqah Ilmiah Batch 5 ini, para peserta diharapkan mampu memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai Muhammadiyah dalam kehidupan mereka. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mendokumentasikan pengalaman para dosen dalam bentuk buku rampai, yang berisi kisah-kisah Becoming Muhammadiyah, Being Muhammadiyah, dan Beyond Muhammadiyah. Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Dekan I FAI-UMM, Dr. Saiful Amien, M.Pd., yang menekankan pentingnya melestarikan tradisi akademik dalam berdakwah melalui Muhammadiyah. Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Prof. Tobroni, yang mengungkapkan bahwa proses Becoming Muhammadiyah yang ia lalui melibatkan berbagai tingkatan, dari perjuangan di tingkat ranting hingga aktualisasi diri di tingkat pusat. Diselenggarakan pada Rabu, 10 Juli 2024, di lantai 5 Gedung Kuliah Bersama II UMM, kegiatan ini menandai kelanjutan dari upaya FAI-UMM dalam memperkuat dakwah dan komitmen ideologis melalui forum ilmiah yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Dengan diadakannya Halaqah Ilmiah Batch 5 ini, para dosen FAI-UMM diharapkan dapat terus mengukir perjalanan mereka dalam bermuhammadiyah, baik dalam lingkup akademik maupun dalam kehidupan sosial mereka di masyarakat.